Beranda blog Halaman 1175

Istri Indro Warkop Hembuskan Nafas Terakhir

Artis senior Indro Warkop
Artis senior Indro Warkop

JAKARTA,Tribun Riau- Setelah berjuang melawan kanker paru-paru, akhirnya Nita, istri dari Indro ‘Warkop’ menghembuskan nafas terakhirnya, Selasa (9/10/2018) malam.

Nita meninggal dunia setelah melalui perawatan intensif di rumah sakit.

Asisten Indro, Andri, membenarkan kabar tersebut, Selasa (9/10).

“Iya benar,” ungkap Andri dilansir DetikHot.

Nita sebelumnya sempat melalui momen haru kala terbaring di rumah sakit. Ia meminta anak-anaknya memakaikannya hijab. (dtc/red)

Bupati Rohul Buka Sosialisasi Pendidikan 1000 HPK

ROKAN HULU,Tribun Riau- Bupati Rokan Hulu (Rohul) H. Sukiman secara resmi buka acara Sosialisasi Pendidikan Keluarga pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dipusatkan di Gedung Dharmawanita Permaisuri Pasir Pengaraian, Selasa (9/10/2018).

Acara yang mengusung tema “Wujudkan Rohul Bebas Stunting Dengan Menjaga 1000 HPK” itu turut juga dihadiri Ketua Himpaudi yang juga Ketua TP PKK Rohul Hj Peni Herawati Sukiman, Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Masyarakat Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Ir Purwanto M.Pd, Kadisdikpora Rohul Drs Ibnu Ulya M.Si, Camat, Kepala Desa/Lurahse Rohul, Pengelola PAUD Desa dan peserta dari utusan Kecamatan.

Bupati Rokan Hulu H. Sukiman menyambut baik kegiatan dilaksanakannya Sosialisasi Pendidikan pada 1000 Hari Petama Kehidupan (HPK), sebagai salah satu upaya dalam mengurangi dan menangani prevalensi di Indonesia, khususnya di Kabupaten Rohul.

“Sosialisasi Pendidikan Keluarga pada 1000 HPK pada hakekatnya dalam rangka meningkatkan Sumber Daya Manusia, Stunting bisa dicegah dengan membiasakan pola hidup sehat, karena kesehatan musti harus menjadi prioritas untuk menjadikan SDM yang tangguh dengan memiliki kemampuan fisik yang bagus. Jika sejak kecil diperhatikan fisik anak-anak, maka kedepannya akan memiliki fisik, akademik dan kepribadian yang kuat.

Ditambah Sukiman, Status gizi kesehatan ibu dan anak juga sebagai penentu kualitas sumber daya manusia, status gizi dan kesehatan ibu pada masa pra-hamil, saat kehamilannya dan saat menyusui merupakan periode yang sangat kritis yang dikenal dengan 1000 HPK.

“Periode 1000 HPK ini merupakan periode yang sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Dampak buruk yang ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode tersebut, dalam jangka pendek terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan metabolisme dalam tubuh.

Mantan Dandim Inhil ini berharap melalui Sosialisasi Pendidikan 1000 Hari Pertama Kehidupan ini masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman perwakilan masyarakat desa tentang pentingnya pendidikan keluarga pada 1000 HPK untuk meningkatan tumbuh kembang anak dan mencegah terjadinya stunting.

“Harapan saya masalah Stunting ini tidak terjadi di Rohul, masyarakat Rohul harus sehat, cerdas dan kreatif sehingga kita bisa bersama-sama bersatu, berkarya dan membangun Rohul yang lebih maju dan sejahtera,” harapnya

Sementara itu, Ketua Himpaudi Rohul Hj Peni Herawati Sukiman dalam sambutannya mengatakan pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia, karena pada masa itulah proses tumbuh kembang seorang anak dimulai.

“Jadi dimasa ini pula kita kita sebagai orang tua memiliki peran penting untuk memberikan perawatan dan pengasuhan yang berkualitas sesuai dengan perkembangan anak.

Ketua TP PKK Rohul ini menjelaskan, 1000 HPK dihitung sejak pembuahan sampai usia sekitar 23 bulan dan masa ini juga merupakan kritis yang dapat meminimalisir akibat stunting. Dimana masalah stunting ini merupakan masalah yang saat ini tengah dicari solusinya oleh Pemerintah termasuk Pemkab Rohul.

“Jadi Stunting ini timbul bisa jadi karena adanya unsur ketidaktahuan orang tua dalam memberikan kebutuhan gizi sesuai dengan asupan makan anak, maka disini peran orang tua atau keluarga yang merupakan ujung tombak pengasuhan anak,” terangnya

Di tambahnya lagi Peni, Keluarga memiliki peran penting dalam menurunkan angka Stunting.
Hj Peni menghimbau kepada seluruh orang tua agar dapat memperhatikan tumbuh kembang anak terutama dimasa 1000 hari pertama kehidupan.

“Jadi 1000 HPK ini saya minta ibu-ibu perhatikan tumbuh kembang anak, asupan gizi dan orang tua juga harus mempunyai edukasi yang baik, karena tumbuh kembang anak juga tergantung pada orang tua dan keluarga,” katanya. (mad)

Ini Dugaan Motif Duel Maut Pasutri di Bonai

Kapolres Rohul AKBP Muhammad Hasyim Risahondua SIK, M.Si.
Kapolres Rohul AKBP Muhammad Hasyim Risahondua SIK, M.Si.

ROKAN HULU,Tribun Riau- Hingga kini, Polres Rokan Hulu (Rohul) masih menyelidiki duel maut hingga tewas pasangan suami istri (Pasutri), di rumahnya Dusun III Akasia Desa Kasang Padang, Kecamatan Bonai Darussalam‎, Kabupaten Rohul.

Awal perkelahian‎ pasutri, Aniadi Waruhu dengan istrinya Avedi Zebua terjadi Senin (8/10/2018) sekitar pukul 02.00 dinihari, berawal cekcok mulut. Pasutri tersebut, kemudian ditemukan warga dan polisi sudah tewas bersimbah darah di dalam rumah mereka.

‎”Dari laporan anggota di lapangan dan hasil penyelidikan, motifnya sementara ini karena asmara,” terang Kapolres Rohul AKBP Muhammad Hasyim Risahondua SIK, M.Si, di Mapolres, Selasa (9/10/2018).

Kapolres ‎AKBP M. Hasyim mengatakan, kini polisi masih lakukan penyelidikan kejadian tersebut, karena sepasang suami istri tersebut sama-sama sudah tidak bernyawa lagi.

“Kita masih perlu lagi menemukan alat bukti yang lainnya,” kata Kapolres Rohul, dan diakuinya pihaknya masih menunggu laporan dari anggota.

Di tempat terpisah, Kasat Reskrim Polres Rohul AKP Harry Avianto SH, SIK mengaku, satuannya bersama Tim Identifikasi Polres Rohul dan Polsek Bonai Darussalam‎ telah melakukan olah TKP ke rumah korban di Desa Kasang Padang yang jaraknya sekitar 2 jam dari Polsek, karena masuk lagi ke areal perkebunan.

Ketika dilakukan olah TKP dan dari keterangan saksi di lapangan, motif pertengkaran Pasutri sudah lama bahkan sudah berulang kali terjadi.

“Saat itu, sempat suaminya menghubungi anaknya yang sudah menikah dan tinggal di luar Riau. Kalau dia tidak diterima kembali berjumpa dengan istrinya, atau dalam bahasanya rujuklah, ‎kalau dia tidak yang mati atau sama-sama mati,” tegas AKP Harry.

Ketika kejadian ucap AKP Harry, ada 3 anak korban di dalam rumah, paling kecil berusia 5 tahun sedang sakit,‎ usia 11 tahun, dan 12 tahun. Ketiganya juga sudah dimintai keterangan.

Dari keterangan dari anak korban, Senin dini hari, ayahnya datang ke rumah dan sempat terjadi pertengkaran di dalam rumah. Saat pertengkaran, Aniadi Waruhu sempat menganiaya istrinya Avedi Zebua, sebelum menikamkan sebilah pisau ke bagian perut sang isteri.

“‎Melihat hal itu, anaknya langsung keluar, jadi tidak melihat lagi apakah ada perebutan (pisau) atau tidak, tapi intinya di dalam rumah itu ada dua orang,” sebut AKP Harry.

Disaat kejadian, anaknya keluar memanggil tetangga. Tetangganya semua keluar namun tidak ada yang berani masuk ke dalam, karena si suami saat itu masih memegang pisau.

Pengakuan warga, kedua korban belum resmi bercerai, dan baru sebatas pisah ranjang. Keduanya pisah rumah karena istri sering mengalami kekerasan fisik dari suaminya.

Saat ditanya apakah ada indikasi si suami bunuh diri setelah menikam istrinya hingga tewas, Kasat Reskrim Polres Rohul mengaku polisi belum mengarah kesana.

“Bila keterangan sementara dari dokter, lukanya bukan luka vertikal namun menyamping (horizontal), namun ada tiga tusukan,” terang AKP Harry lagi.

“Indikasi masih kita dalami, bahwa saksinya yang melihat sendiri ada tiga orang‎ (anak korban),” ucap AKP Harry.

Kemudian dari olah TKP jelas AKP Harry, polisi menemukan sejumlah barang bukti, seperti 1 bilah pisau ditemukan dekat mayat si suami, tas berisi pakaian milik suami yang ditemukan di belakang rumah, sepasang sepatu kerja dan sepasang sandal jepit. (mad)

Tujuh Perwira di Polres Rohul Disertijabkan

ROKAN HULU,Tribun Riau- Pada pelaksanaan serah terima jabatan (Sertijab) Selasa (9/10/2018) di halaman Mapolres Rokan Hulu (Rihul), tujuh jabatan perwira di jajaran Polres Rokan Hulu (Rohul) disertijabkan, 2 perwira diantaranya dimutasi di lingkungan Polres Rohul.

Kegiatan sertijab digelar dalam acara resmi upacara di halaman Mapolres Rohul, yang dipimpin Kapolres Rohul AKBP M.Hasyim Risahondua SIK, M.Si, dengan Komandan Upacara Ipda Efendi Lupino SH.

Ketujuh perwira yang dilakukan sertijab, yakni untuk jabatan Kapolsek Ujung Batu sebelumnya dijabat Kompol Arvin Hariadi SIK digantikan Kompol Edwar Palis. Jabatan Kasat Lantas sebelumnya dijabat AKP Risnan Aldino SIK saat ini dijabat AKP Irnanda Oktara SIK, MIK.

Kemudian, Kapolsek Tambusai Utara sebelumnya dijabat AKP Fauzi SH, MH kini dijabat AKP Nurman yang sebelumnya Kapolsek Tandun. Sedangkan AKP Fauzi, dimutasi sebagai Kasat Lantas Polres Kampar.

Sedangkan jabatan Kapolsek Tandun, kini dijabat AKP Sordaman Sinaga SH yang sebelumnya Kasat Sabhara Polres Rohul, dan posisinya saat ini digantikan AKP Kamsir SH. Jabatan Kasat Intelkam‎ sebelumnya dijabat AKP Aditya Reza Syahputra SE, MAK yang tengah pendidikan digantikan AKP Edi Sutomo SH.

‎Dikatakan Kapolres Rohul AKBP M. Hasyim Risahondua, sertijab yang dilaksanakan merupakan hal biasa di lingkungan Polri, sebagai langkah penyegaran, pengembangan karir, dan peningkatan kinerja personel.

Kapolres juga mengatakan, bahwa jabatan dan kewenangan yang diterima sebagai amanah dari Allah SWT, sehingga akan dipertanggung-jawabkan di kemudian hari.

“Sertijab adalah hal biasa di organisasi Kepolisian,” sebut AKBP M. Hasyim.

Kapolres Rohul juga berterima kasih, kepada para pejabat lama yang sudah mengabdikan dirinya di Polres Rohul selama ini, dan mengucapkan selamat datang bagi pejabat baru.

“Bagi pejabat yang lama, saya ucapkan selamat bertugas di tempat yang baru, dan bagi pejabat yang baru selamat datang, kemudian agar segera beradaptasi menyesuaikan diri dengan situasi yang ada di Polres tempat yang baru,” imbau Kapolres M. Hasyim.

Kapolres juga ingatkan, agar pejabat baru segera merencanakan kegiatan tugas karena agenda nasional adalah agenda Pemilu Presiden dan Legislatif, sehingga perlu direncanakan rencana kerja untuk pengamanan Pemilu, dalam menghadapi Operasi Mantap Brata. (mad)

Jumlah Korban Meninggal di Sulteng Mencapai Dua Ribuan

Beberapa tim relawan saat mengevakuasi korban
Beberapa tim relawan saat mengevakuasi korban

PALU, Tribun Riau- Jumlah korban meninggal dunia dalam bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, terus bertambah. Berdasarkan data terbaru pada Selasa (9/10) pukul 08.54 Wita, jumlah korban meninggal dunia mencapai 2.002 orang.

Perkembangan informasi penanganan tanggap darurat bencana gempa dan tsunami Sulteng pada Posko Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) di Palu menyebutkan dari korban meninggal dunia itu sebagian dikuburkan secara massal dan sebagian oleh keluarganya masing-masing. Korban meninggal dunia yang telah dikuburkan secara massal di Poboya sebanyak 864 jenazah, di pemakaman massal Pantoloan 35 jenazah, dan di pemakaman massal di Donggala 35 jenazah.

Sedangkan korban meninggal dunia yang telah dimakamkan oleh keluarganya masing-masing sebanyak 1.068 jenazah. Sementara korban luka-luka mencapai 4.084 orang, korban hilang 671 orang.

Kogasgabpad juga mendata, rumah rusak akibat bencana itu mencapai 67.310 unit tersebar di Kota Palu sebanyak 65.733 unit, di Kabupaten Sigi 897 unit, dan di Kabupaten Donggala 680 unit. Untuk, masyarakat yang mengungsi terdata sekitar 74 ribu orang.

Tim satgas evakuasi dari Kogasgabpad pada Selasa ini masih melanjutkan kegiatan pencarian dan evakuasi korban. Proses pencarian dan evakuasi korban dijadwalkan berlangsung hingga Kamis (11/10). Selain mencari korban, maka tim juga terus membuka akses jalan pada lokasi-lokasi yang terisolir. Kogasgabpad juga terus memulihkan perekonomian masyarakat.

Sebelumnya Panglima Kogasgabpad Mayjen TNI Tri Suwandono mengimbau warga yang meninggalkan Palu dan daerah-daerah sekitarnya untuk kembali. “Ekonomi sudah berjalan, bank-bank buka, rumah sakit operasional, listrik sudah mengalir baik, sekolah, air bersih juga begitu, dan lain sebagainya,” katanya pada Senin (8/10).

Panglima Kogasgabpad juga mengajak masyarakat untuk kembali membangun kembali Palu, Donggala, dan Sigi, agar Sulawesi Tengah bisa bangkit. (ant/red)

Setelah Jokowi vs Tiang Listrik, Page FB ini Kembali buat Polling Prabowo vs Tong

Tribun Riau- Ada-ada saja, setelah sebelumnya page FB yang menamakan dirinya Jokowi for Presiden 2019 membuat polling Jokowi vs Tiang Listrik, kini halaman tersebut kembali menggelar polling Prabowo vs Tong.

Pantauan Tribunriau.com, tercatat sudah 71 ribu netizen memberikan pilihannya, hingga berita ini diterbitkan, Selasa (9/10/2018), hasil sementara yaitu Prabowo unggul 92 persen dari tong.

Sebelumnya, halaman tersebut juga menggelar polling Jokowi vs Tiang listrik dengan hasil sementara unggul jauh Tiang listrik, yaitu 89 persen.

Tidak diketahui pemilik page tersebut, namun dari beberapa postingan, tampak memang page tersebut diduga dimiliki oleh pendukung pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. (red)

Kisah Pilu Nurul Bertahan Hidup Disamping Jasad Ibu

Kondisi salah satu lokasi pasca gempa dan tsunami di Palu dan Donggala
Kondisi salah satu lokasi pasca gempa dan tsunami di Palu dan Donggala

Tribun Riau- Pada Ahad (30/9), pukul 03.00 dini hari, suasana kantor Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), terlihat sangat sibuk pascagempa disertai tsunami yang menerjang pada Jumat (28/9) petang.

Demikian dilansir Antara, sejumlah orang berdatangan mencari nama saudara, sanak keluarga dan kerabatnya berharap tertulis pada kertas berisi informasi dipasang di dalam kantor.

Lebih lanjut, tak sedikit juga yang meminta tolong segera mengevakuasi jenazah orang terjebak di reruntuhan bangunan. Namun karena masih minimnya personel dan banyaknya permintaan, korban hanya didata.

Kantor Basarnas Palu bermarkas di jalan Elang, malam itu satu-satunya bercahaya karena menggunakan genset. Sementara bangunan dan rumah-rumah di sekitarnya padam akibat aliran listrik dan komunikasi terputus.

Sesekali penerangan muncul dari balik lampu kendaraan yang melintas di jalan raya setempat menerangi puluhan orang duduk di pinggir jalan menunggu kejelasan pertolongan keluarganya.

Pasukan berbaju oranye ini terlihat mondar-mandir, ada yang baru tiba dan adapun bersiap untuk melakukan upaya penyelamatan. Dari laporan masih ada korban hidup di Perumnas Balaroa, Palu Barat, tim langsung bersiap.

Korban dilaporkan selamat, tetapi terjebak di dalam reruntuhan bangunan. Satu tim kecil Basarnas diterjunkan melakukan survei sekaligus memberi pertolongan pertama menggunakan kendaraan pick up menuju lokasi.

Tim pertama bergerak menelusuri kota yang sudah mati tanpa penerangan dan mengikutkan dua orang wartawan. Di perjalanan terlihat warga korban gempa berada dipinggiran jalan dan tanah lapang memasang tenda-tenda sebagai tempat bernaung.

Penduduk kota kelihatan takut berada di dalam rumahnya, karena trauma sering terjadi getaran gempa susulan yang masih aktif sesekali pada malam hari. Dalam keadaan gelap gulita, tim kemudian masuk ke lokasi mengunakan senter serta helm senter kepala menyusuri tanah yang sudah longsor dan pada bagian lain sudah menjadi perbukitan.

Terdengar suara sayup-sayup orang minta tolong, tetapi tidak jelas posisinya sebab dini hari itu keadaan sangat mencekam, gelap gulita dan reruntuhan di mana-mana. Tim Basarnas meminta agar fokus, tidak terpengaruh suara-suara tersebut, membuat keadaan semakin merinding dan tegang.

Sekitar pukul 03.20 WIB, posisi titik korban ditemukan masih selamat. Observasi langsung dilakukan dengan mengupayakan korban tetap bernafas dan sesekali diajak berbicara agar tetap sadar. Waktu terasa sangat lambat hingga akhirnya fajar mulai menyingsing di ufuk timur.

Terlihat jelas seluruh lokasi tersebut amblas sedalam lima meter, sebagian jalanan berubah menjadi bukit, rumah-rumah rata dengan tanah, puluhan kendaraan roda dua dan empat dan perabot rumah posisinya tidak karuan.

Satu masjid ambruk dan hanya menyisakan kubah juga menaranya, bau sisa kebakaran masih terasa, orang-orang juga mulai nampak. Pagi itu, tim kedua Basarnas tiba di lokasi untuk membantu proses evakuasi.

Korban diketahui bernama Nurul Istihara, pelajar berumur 15 tahun. Dia sesekali membuka lalu menutup matanya akibat kelelahan. Sudah dua hari berjuang hidup karena separuh badannya tertanam di dalam tanah berdampingan dengan jasad ibunya, Risni (37) dengan posisi berdiri, meninggal sehari sebelumnya.

Terlihat jelas bekas sisa nasi di piring dengan lauk telur dadar, beserta botol mineral di samping korban seusai disuapi ayahnya, Yusuf (41). Sang ayah berusaha agar anaknya tetap hidup di tengah reuntuhan bangunan Perumnas Balaroa, Kelurahan Balaroa, Palu Barat, Provinsi Sulteng.

Posisi korban terperosok dan terperangkap di dalam tanah bersamaan bangunan, atap rumah sudah sejajar dengan tanah. Sebagian lokasi menjadi bukit akibat pencairan tanah atau likuifaksi saat terjadi gempa berkekuatan 7,4 magnitudo lebih besar dari gempa Lombok.

Penderitaan Nurul semakin bertambah. Tempat dia terperangkap terbentuk kubangan, air PAM yang bocor terkumpul setinggi satu setengah meter hingga terus naik di lehernya, namun dia tetap bertahan.

Beruntung, ada mesin genset sebagai penolong digunakan menghisap air, agar tidak menenggelamkannya. Meski diisap menggunakan mesin, air malah tak kunjung berkurang. Tim Basarnas terus berpikir bagaimana cara mengevakuasi korban agar tetap selamat.

Satu anggota berusaha mengajak Nurul bicara dengan memegang kepalanya sembari memberi semangat. Kedua tangan Nurul yang sudah keriput memeluk kaki anggota Basarnas. Sesekali ia diberikan air minum agar tidak dehidrasi ditengah teriknya panas matahari yang menyegat.

Sementara anggota lainnya berjibaku menguras air menggunakan ember bekas cat, Ada juga anggota yang membuatkan bendungan kecil agar air tidak kembali ke kubangan. “Saya mau tidur, pulang semua, apa kalian bikin dari rumah saya, jangan ganggu, saya mau tidur, pergi sana semua saja,” tutur Nurul berhalusinasi.

Sulitnya medan tidak meruntuhkan semangat tim Basarnas, berbagai cara dilakukan agar anak ini selamat. Korban terjepit batu bersama almarhumah ibunya sehingga batu tersebut harus dikeluarkan. Banyak orang datang hanya melihat-lihat dan tidak membantu.

Orang-orang ini sibuk mencari keluarga mereka yang tertimbun reruntuhan bangunan rumah. Sebagian lainnya hanya melihat-lihat puing-puing reruntuhan akibat gempa, sambil berfoto-foto. Evakuasi Nurul berjalan selama 14 jam lebih dan berlangsung dramatis.

Air perlahan mulai surut, anggota Basarnas langsung menggali untuk memindahkan batu tersebut dan mengangkat korban selanjutnya beserta mayat ibunya. Ternyata, di bawah Nurul masih ada puluhan jasad lainnya yang tertimbun.

Nurul selamat dan dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis, mengingat kondisi tubuhnya sangat lemah, tangan dan kakinya berkeriput, badan keram akibat terjepit dan terendam air selama dua hari. Begitupun jasad ibunya dimasukkan dalam kantong mayat lalu dibawa ke rumah sakit setempat.

Usai Nurul dievakuasi, berselang beberapa saat, Presiden Joko Widodo tiba-tiba datang mengunjungi lokasi Balaroa yang amblas itu. Presiden melihat langsung dampak ditimbulkan gempa, selanjutnya mengistruksikan segera memberikan pertolongan bagi korban pascagempa.

Cerita Ayah Korban

Yusuf, ayah dari Nurul Istihara, korban selamat menceritakan mengapa ia selamat saat terjadi gempa. Siang itu, sudah ada tanda-tanda getaran-getaran hingga menjelang sore. Ia berada di rumah tetangga bersebelahan dengan rumahnya saat gempa berlangsung delapan detik.

“Saya di sebelah rumah, tiba-tiba terjadi goyangan sangat keras seperti diguncang, orang semua berlarian keluar, saya pun ikut berlari keluar menyelamatkan diri, saya lihat tanah tiba-tiba turun dan seolah menelan rumah-rumah disini begitu cepat, saya baru sadar ada keluarga di dalam,” ucapnya kepada penulis.

Kejadian itu, saat masuk waktu Mahgrib, listrik padam. Ditambah suasana mencekam orang-orang panik dan tidak bisa berbuat apa hanya pasrah. Orang-orang kebingungan, menangis berteriak bahkan masuk ke dalam lokasi mencari keluarganya.

Usai gempa, dia memberanikan diri mencari keluarganya, meski secara perlahan-lahan langit mulai gelap. Selang beberapa saat dia menemukan anak dan istrinya, kendati satu anaknya yang lain sudah hilang.

“Saya mendapati anak dan istri saya masih hidup, tapi terjepit dan tertanam sebagian badannya di tanah. Saya berusaha menghibur mereka agar tetap kuat sambil mencari bantuan. Tetapi, tuhan berkata lain istri saya hanya bertahan enam jam saja lalu meninggal,” tuturnya sedih.

Yusuf sempat kesulitan mencari bantuan untuk menyelamatkan keluarganya. Jaringan komunikasi putus, bahan bakar minyak (BBM) sangat sulit begitu pun air minum. “Saya sudah dua kali ke Basarnas untuk meminta pertolongan agar anak saya dievakuasi segera, tapi belum digubris karena tenaga kurang. Nanti permintaan yang ketiga ini baru direspons pada Ahad. Saya bersyukur anak saya masih bisa diselamatkan,” ucapnya.

Dia menuturkan, anaknya bertahan karena dipaksa makan dan minum olehnya. Beberapa orang yang menjaganya saat dia pergi mencari pertolongan, juga ikut meninggalkan korban yang saat itu sedang kritis. Yusuf terus berdoa agar anaknya selamat.

“Sudah dua hari saya tidak tidur menjaga anak saya di sini, banyak orang maupun keluarga diminta bantuan hanya menjaganya sebentar, ketika saya pergi, mereka jaga sebentar lalu pergi. Saya memaklumi mereka juga mencari keluarganya yang hilang. Ada ratusan orang tertimbun di sini,” katanya.

Proses Pemulihan Korban

Pasca dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Anuta Pura, Palu, kondisi Nurul Istihara berangsur-angsur membaik, dia ditangani oleh tim medis untuk pemulihan. Kendati belum sembuh sepenuhnya Nurul selanjutnya di rujuk ke Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar, Sulawesi Selatan, guna mendapatkan perawatan intensif.

Nurul bersama puluhan pasien korban gempa diterbangkan menggunakan pesawat Hercules pada hari kelima setelah gempa disertai tsunami yang meluluhlantahkan sebagian daerah terdampak masing-masing Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi, Sulteng.

“Seluruh korban telah ditangani dengan baik, saat ini sudah ada 11 rumah sakit sudah beroperasi. Meski Rumah Sakit Anuta Pura belum maksimal karena sebagian bangunan runtuh, tetapi di bangun tenda sementara di depan rumah sakit untuk melayani pasien,” kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto, di Palu.

Kepala Bidang Operasi Basarnas, Brigjen Bambang Suryo, mengatakan optimistis operasi tanggap darurat pascagempa di Palu, Donggala dan Sigi diupayakan semaksimal mungkin, meskipun Sumber Daya Manusia terbatas sejak awal masa pencarian dan evakuasi.

“Kami berusaha semaksimal mungkin berbuat untuk para korban, meski kami kekurangan sumber daya, masyarakat diminta bersabar karena kami terus bekerja walaupun personil terbatas. Bantuan personil dari luar daerah serta relawan juga mulai berdatangan membantu,” ujarnya.

Saat ini personil Basarnas terus bertambah, TNI juga dikerahkan untuk membantu proses evakuasi korban, alat berat diturunkan. Berbeda kondisinya dibanding pada hari kedua dan ketiga pascagempa. Sumber daya kurang sementara permintaan evakuasi terhadap korban sangat tinggi. Sehingga yang diprioritaskan kala itu korban masih hidup.

Untuk lokasi paling parah diterjang gempa di wilayah kota Palu, yakni Perumnas Balaroa, hotel Roa-roa, hotel Mercure, hotel de Syah, anjungan pantai Talise, Mal Tatura. Di Kabupaten Sigi yakni perumahah wilayah Petobo, dan Kabupaten Donggala di wilayah Sirenja dan sekitarnya.

Berdasarkan data per tanggal 7 Oktober 2018, korban meninggal dunia mencapai 1.944 orang, luka 2.549 orang, hilang 683 orang, tertimbun 152 orang. Jumlah pengungsi sebanyak 74.444 jiwa dan rumah rusak 65.733 unit. Pemakaman massal total 1.120 orang di dua tempat yakni Paboya dan Pantoloan. (ant/red)

Soal ‘Alfateka’, Arie Untung: Merangkul bukan Memukul

Presiden Jokowi saat membuka secara resmi MTQ tingkat Nasional
Presiden Jokowi saat membuka secara resmi MTQ tingkat Nasional

Tribun Riau- Viralnya penyebutan Alfatiha dengan dialeg Alfateka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa hari yang lalu turut dikomentari beberapa artis.

Salah satunya dari Arie Untung, melalui akun Twitternya, @ArieKuntung, ia menyatakan penyebutan Alfateka oleh Jokowi itu adalah hal yang lumrah.

Ia pun meminta netizen lain untuk tidak ikut-ikutan berkata kasar terkait masalah tersebut.

“Broh brooh lagi rame “Al fatekah” please jgn ikutan broh, bersaing boleh tp jgn gitu caranya. keluarga gw di klaten solo tegal pun msh byk yg begitu. Adab mestinya “merangkul bkn memukul” yuk kembali ke akhlak yg sejuk. Jgn ikut2an berkata kasar. Barakallah semua,” tulis @ArieKuntung, Selasa (9/10/2018).

Begini Respon MUI Terhadap Disqualifikasi Miftahul Jannah

Miftahul Jannah menolak bertanding karena harus melepas hijab yang akhirnya didisqualifikasi
Miftahul Jannah menolak bertanding karena harus melepas hijab yang akhirnya didisqualifikasi

JAKARTA,Tribun Riau- Wakil Ketua Komisi Hukum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ikhsan Abdullah mengungkapkan diskualifikasi yang dilakukan wasit terhadap Miftahul Jannah adalah bentuk diskriminasi terhadap atlet Muslimah. Hanya karena atlet judo tersebut enggan melepaskan jilbabnya untuk pertandingan, wasit mengeluarkan Miftahul Jannah.

“Diskualifikasi Miftahul Jannah adalah tindakan diskriminasi dalam dunia olahraga,” tegas Ikhsan dilansir Republika, Selasa (9/10).

Ikhsan meminta kepada Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) dan Komite Nasional Indonesia (KONI) agar bisa menjelaskan kepada Internasional Olympic Paragames soal hijab. Mereka menurutnya harus paham bahwa penutup rambut bagi wanita Muslim adalah sesuatu yang hukumnya wajib.

“Dalam Islam rambut adalah aurat wanita yang harus ditutup dengan hijab. Jadi penjelasan ini penting agar mereka bisa memahami dan wanita Muslim tidak terlanggar ketentuan yang diskriminatif tersebut,” paparnya.

Ikhsan kemudian menjelaskan bahwa banyak cabang Olahraga yang menerima atlet wanita berjilbab, seperti silat dan voly. Oleh karena itu, dia meminta agar kasus ini tidak dibiarkan begitu saja karena bisa merugikan Indonesia pada cabang olahraga judo. “Koni harus mempersoalkan ini secara tegas dan MUI akan melayangkan nota protes secara resmi,” tegasnya. (rci/red)

Setahun Jadi Tersangka, KPK Enggan Beri Keterangan Soal Kasus Sekda Dumai

DUMAI, Tribun Riau- Sejak ditetapkan sebagai tersangka pada Agustus 2017 lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga kini belum melakukan proses penahanan terhadap sekretaris daerah (Sekda) Dumai, M Nasir.

Belum diketahui alasan apa yang digunakan KPK untuk tidak melakukan penahanan terhadap tersangka.

Sebelumnya, Tribunriau.com sudah melayangkan konfirmasi tertulis, baik via e-mail ke Humas KPK, maupun via pesan singkat ke nomor Jubir KPK, Febri Diansyah.

Untuk diketahui, sekda Dumai, M Nasir ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi proyek peningkatan jalan Batu Panjang-Pangkalan Nyirih di Bengkalis untuk tahun anggaran 2013-2015.

Selain Nasir, KPK juga menetapkan Dirut PT Mawatindo Road Constructin, Hobby Siregar sebagai tersangka.

Adapun kerugian negara yang diakibatkan keduanya diduga mencapai Rp80 miliar. (red)

Terbaru

Populer