BAGANSIAPIAPI,Tribun Riau- Rajadi alias Awi Tongseng pemilik toko emas terbesar di Bagansiapiapi, Thong Seng, menjalani sidang pertama pembacaan dakwaan kasus dugaan penggelapan dana Yayasan perguruan Wahidin (YPW), Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau di Pengadilan Negeri Ujung Tanjung pada hari Senin (14/5/2018).
Sidang yang berlangsung agak molor ini berakhir pukul 19.00 Wib, diketuai Hakim Hanafi,SH dan hakim anggota Lukmanul Hakim, SH,MH dan Rina Yose, SH.Â
Dalam sidang itu, Awi yang berpostur kecil menggunakan baju kemeja putih bermotif batik, tampak tenang di hadapan majlis hakim duduk di kursi pesakitan. Dalam sidang itu, dia didampingi 4 orang pengacara berasal dari Jakarta.
Dalam bacaan dakwaan, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Maruli Sitanggang, SH menyebutkan, yayasan perguruan Wahidin dari tingkat TK sampai SMA, didirikan tahun 1963. Terdakwa Awi saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua 1.
Sejak didirikan, Yayasan mengumpulkan dana untuk operasional sekolah berasal dari SPP siswa dan juga berasal dari donatur yayasan. Dari anggaran tersebut, ada sebagian dana digunakan untuk pembangunan fisik yayasan.
Selama menjabat sebagai Wakil Ketua 1, menurut keterangan Maruli, terdakwa telah mengeluarkan dana sebesar Rp 623 juta lebih yang digunakan untuk kepentingan pribadi. Berdasarkan hasil audit dari auditor independen, dana yang digunakan tersebut tidak bisa dipertanggung jawabkan.
“Terdakwa juga menerima uang dari donatur sebesar Rp 150 juta,” kata Maruli.
Penggunaan dana tersebut, sambung Maruli, tidak diketahui pengurus dan pembina yayasan. Akibatnya, setelah melalui pemeriksaan kas, yayasan merugi mencapai Rp 700 juta lebih.
“Perbuatan terdakwa bisa diancam dengan pasal 372 dan 374 KUH Pidana dan nomor 70 pasal 1 ayat 2 Undang Undang tentang Yayasan,” sebutnya.
Selama pembacaan dakwaan, Rajadi hanya diam dan sekali kali memandang pengacaranya. Setelah bacaan selesai, majlis hakim meminta kuasa hukum terdakwa apakah mengajukan eksepsi atas dakwaan yang dibacakan JPU atau tidak.
Ketua tim penasehat hukum terdakwa Rajadi Alias Awi Tongseng Afdal Muhamad SH saat dikonfirmasi usai sidang pembacaan dakwaan mengatakan, kliennya, Awi Tongseng secara lisan menolak dakwaan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum (JPU), “Karena agak rancu. Kami belum menerima salinan berkas turunan dari perkara ini yang sangat kami perlukan untuk membuat eksepsi, dan kami minta waktu 1 Minggu keberatan atau eksepsi kami,” ucapnya.
Dirinya juga mengatakan akan mempelajari dan meminta salinan turunan berkas perkara dari JPU. Menimbang permintaan dari para pengacara, Hakim menunda sidang minggu depan. (to)
Tribun Riau- Banyaknya desakan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) agar segera mengesahkan rancangan undang-undang (RUU) Terorisme menjadi tanda tanya bagi masyarakat, khususnya netizen (masyarakat dunia maya).
Salah satunya dari akun Achmad Sodiq, dirinya menyadur tulisa Harja Saputra yang mengungkapkan mengapa pengesahan RUU menjadi tertunda alias lambat, Selasa, (15/5/2018) pagi.
Pada alinea pertama di statusnya, dijelaskan dalam tulisan tersebut penyebab terjadinya penundaan pengesahan RUU Terorisme.
“Penjelasan tentang tertundanya pengesahan RUU Anti Terorisme yang lebih lengkap lagi.”
Dalam gambar yang diunggahnya, terdapat beberapa surat yang berisikan bahwa Pemerintah meminta waktu atau menunda pembahasan tentang RUU Terorisme, berikut gambar-gambar yang diupload oleh akun Achmad Sodiq:
Ini tulisan lengkap Harja Saputra yang disadur oleh akun Acmad Sodiq:
Penjelasan tentang tertundanya pengesahan RUU Anti Terorisme yang lebih lengkap lagi.
Ingin tau text aslinya bisa dicari di kompasiana, googling aja gampang. Kalo mau. Ga mau juga gpp
Siapa Sebenarnya yang Menunda-nunda Pembahasan RUU Terorisme? 14 Mei 2018 17:14 Diperbarui: 14 Mei 2018 17:14 159 3 4 Siapa Sebenarnya yang Menunda-nunda Pembahasan RUU Terorisme?
Biar clear dan tidak saling tuding mengenai siapa sebenarnya yang sering menunda-nunda pembahasan RUU Terorisme? Di sini akan disajikan dokumen lengkap dan faktor-faktor penyebabnya.
Ini penting karena akibat rangkaian serangan bom di Surabaya, berbagai pihak mengarahkan jari telunjuknya ke DPR sebagai pihak yang dinilai selalu menunda-nunda pembahasan RUU Terorisme. DPR lelet, lambat, dua tahun tidak selesai, dan ungkapan-ungkapan lain banyak terserak di berbagai media.
Kapolri bahkan meminta Presiden untuk menetapkan Perppu terkait pemberantasan tindak pidana terorisme karena DPR dinilai lamban. Pertanyaannya: Benarkah demikian?
Fakta riilnya justru tidak demikian, malah pihak pemerintah yang menunda-nunda. Mana buktinya?
Berikut ini adalah dokumen permintaan penundaan rapat dari Pemerintah kepada DPR. Alasannya banyak: minta berkoordinasi di antara lembaga-lembaga terkait materi pembahasan, konsolidasi, dan alasan lain. Sila diteliti. Surat ini dijamin keasliannya.
Di surat itu tertulis dengan jelas tentang permintaan penundaan rapat. Dan itu bukan sekali dua kali. Berapa kali pemerintah minta penundaan rapat? Dalam laporan rapat Pansus dilaporkan bahwa kendala pembahasan adalah sebanyak 15 kali pemerintah meminta penundaan rapat. Berikut adalah laporan dari Pansus RUU Terorisme:
Pada dokumen laporan rapat Pansus RUU Terorisme tertulis jelas bahwa pembahasan RUU Terorisme terkendala karena pemerintah kerap menunda-nunda rapat pembahasan. Sebanyak 15 kali, dan disebutkan tanggal-tanggalnya dari mulai tahun 2017 hingga tahun 2018.
Bahkan pernah pada awal Februari, pada saat konsinyering di vila Bogor, rencananya rapat 3 hari dan bertempat di vila DPR Bogor agar pembahasan fokus. Namun baru jalan satu hari, pemerintah minta menyudahi dengan alasan ketua timnya akan menghadiri pernikahan anak keponakannya. DPR meminta agar digantikan ketua timnya dengan orang yang dapat mengambil keputusan. Di awal, pemerintah mengajukan 4 nama sebagai wakil dari Pemerintah yang dapat ambil keputusan dalam rapat-rapat di Pansus. Tetapi malam itu ketiga orang yang diajukan tidak dapat dihubungi untuk menggantikan pejabat yang mau ada hajatan tersebut. See, hajat hidup orang banyak kalah dengan hajat anak keponakan. Ironis bukan?
Jadi pada pihak-pihak yang tidak tahu duduk perkaranya, daripada menuding-nuding dan mencari kesalahan, mending desak Pemerintah untuk serius bahas RUU ini. Menuding ke DPR salah alamat. Ini bukti riil, fakta, bukan fiksi.
Saya bisa mengatakan demikian, karena saya rajin hadir di rapat RUU Terorisme ini sebagai pencatat kesimpulan rapat, membantu merumuskan normal pasal, memberi masukan, kadang jadi asisten sorot, dan memberikan kajian kepada pimpinan.
Disebutkan juga, sebagaimana dikatakan oleh Prof Azyumardi Azra, bahwa lambatnya pembahasan RUU Terorisme karena di kalangan anggota DPR ada tarik menarik kepentingan sehingga hal tersebut memberi ruang bagi teroris. Silakan digali dari rekaman rapat, tudingan Prof Azra itu, saya berani katakan tidak benar. Kalau maksudnya tarik-menarik itu adalah debat dan saling adu argumentasi, itu betul, tetapi memang begitu seharusnya dalam pembahasan undang-undang. Dialektika harus ada. Tetapi jika dimaksudkan tarik-menarik tersebut karena yang satu ingin segera disahkan dan yang lain tidak mau, itu salah.
Ini murni masalah banyaknya materi pembahasan yang melibatkan berbagai lembaga yang memiliki tupoksi dan kewenangan masing-masing sehingga dirasakan perlu oleh Pemerintah untuk melakukan sinkronisasi dan konsolidasi.
Apalagi menyangkut keterlibatan TNI dalam penanganan terorisme. Poin ini yang menyita banyak waktu. Berkali-kali rapat masih belum menemukan titik-temu. Setelah dipending lama mengenai hal tersebut dan pembahasan beralih ke substansi yang lain, barulah masalah keterlibatan TNI dapat dirumuskan. Ditambah lagi ada pergantian Panglima TNI dari Gatot ke panglima baru. Ini sempat memicu suasana panas. Karena Panglima TNI baru bersurat langsung ke DPR meminta untuk diganti judul RUU. Buyar lagi kesepakatan yang lama karena surat itu.
Masalah krusial lain yang memicu lamanya pembahasan adalah masalah definisi terorisme. Saya malah sampai harus belajar tentang definisi terorisme ini ke Bangkok, mengikuti workshop di UNODC. Definisi terorisme sudah disepakati oleh Pemerintah dan DPR agar ada dan dirumuskan, namun nanti setelah rampung semua materi yang lain, baru tentang definisi ini dibahas belakangan. Namun, dari arah pembahasan, pemerintah terutama dari Densus88 keberatan adanya definisi.
Saat ini pembahasan tinggal definisi saja, yang lain-lain sudah rampung. Konstruksi RUU Terorisme yang baru menyangkut berbagai hal yang belum terpenuhi dalam pengaturan pada undang-undang existing. Ditambah lagi ada pemberatan hukuman, hingga hukuman mati bagi teroris. Juga penekakan pada aspek kebijakan mengenai pencegahan dan perlindungan terhadap korban terorisme. Aspek kebijakan penindakan yang memerlukan penyempurnaan dari pengalaman di lapangan disempurnakan sehingga nanti tidak ada lagi alasan susah karena belum ada payung hukum.**
Tribun Riau- Setelah sebelumnya menyatakan bahwa pelaku peledakan tiga gereja di Surabaya pernah ke Suriah, Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian kini mengklarifikasi pernyataan tersebut.
Tito mengatakan, data validnya adalah keluarga Dita tidak pernah ke Suriah.
Namun, Tito menyatakan ada satu keluarga yang mereka jadikan sumber ideologi.
Dimana keluarga yang masih dalam proses identifikasi itu pernah ditangkap di Turki dan dideportasi ke Indonesia.
“Saya klarifikasi soal keluarga Dita, mereka tidak pernah ke Suriah. Hanya saja, ada satu keluarga yang kita cari yang jadi ideologi (panutan) keluarga Dita,” kata Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Senin (14/5/2018).
Dita diketahui adalah pelaku pengeboman Gereja Pantekosta dengan menggunakan kendaraan roda empat Avanza hitam.
Dita juga merupakan ketua dari JAD Surabaya.
“Dita merupakan Ketua JAD di Surabaya. Akibat dari aksinya menimbulkan aksi susulan dari jaringannya, seperti pagi tadi di Polrestabes,” kata Tito.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyatakan Keluarga Dita merupakan satu dari 500 pihak yang pulang dari Suriah ke Indonesia.
Dalam data yang didapat, Tito menjelaskan sekitar 1000 orang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Sementara 500 orang lainnya masih di Suriah, dan 103 diantaranya sudah meninggal di Suriah.
Mereka bergabung dengan ISIS dan kembali ke Indonesia. Tito menjelaskan Dita merupakan sel dari Jemaah Ansorut Daulah (JAD).
“Yang kembali dari Suriah 500,termasuk di antaranya keluarga ini,” ujar Tito saat konfrensi pers di RS Bhayangkara Surabaya, Minggu (13/5) lalu.
Hasil identifikasi Polri, keluarga Dita merupakan pihak yang melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur.
Diketahui bom pertama meledak sekitar pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya.
Pelaku merupakan dua anak laki-laki Dita bernama Yusuf Fadil (18) dan Firman (16). Keduanya menggunakan motor yang menerobos masuk ke Gereja Santa Maria Tak Bercela. Bom diduga diletakkan di pangkuan pelaku.
Selang sekitar lima menit kemudian bom kedua meledak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno dan tidak lama kemudian bom meledak di gereja GKI di jalan Diponegoro.
Pelaku yang menyerang di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya yang menggendarai Mobil Avanza adalah Dita.
Dita melakuakn serangan bom bunuh diri dengan cara menabrakkan mobil yang dikemudikannya ke Gereja Pantekosta.
Namun sebelum melakukan aksinya, Dita terlebih dahulu mengantar isteri dan dua anak perempuannya di Gereja GKI Jalan Diponegoro.
Isterinya yang diduga meninggal bernama Puji Kuswati. Kemudian kedua anak perempuan Fadila Sari (12) dan Pamela Rizkita (9). (red)
JAKARTA,Tribun Riau- Meningkatkan risiko mati muda, kelainan psikologis dan masalah pernapasan merupakan penemuan terbaru dari banyaknya studi yang mengungkap bahwa mereka yang kerap begadang lebih mungkin alami risiko penyakit.
Mereka yang begadang umumnya mengalami ‘social jet lag’, yaitu istilah bagi perbedaan waktu saat kita tidur selama hari biasa dibanding saat akhir pekan, saat kita bebas untuk pergi tidur dan bangun kapanpun kita mau dan bisa.
Di mana kita pada umumnya tak dapat cukup tidur saat hari kerja dan cenderung membalasnya di akhir pekan untuk mendapatkan waktu tidur yang berharga.
Studi mengungkap bahwa orang yang mengalami tingkat social jet lag yang besar biasanya perokok dan peminum alkohol. Makin besar tingkatannya, makin besar masalah kesehatannya, seperti risiko jantung dan masalah metabolik lainnya.
Dengan kebanyakan pekerjaan dan sekolah yang dimulai di pagi hari, para tukang begadang harus bisa secara efektif bekerja pada saat itu. Dan ini berlaku juga untuk sebaliknya.
“Jika mereka yang giat bangun pagi dipaksa harus bekerja saat malam hari, mereka juga akan mengalami masalah kesehatan,” kata Russell Foster, ketua Nuffield Laboratory of Ophthalmology dan Sleep and Circadian Neuroscience Institute, dikutip dari BBC.
Lalu apakah dengan bangun lebih pagi dapat membuat kamu yang kerap begadang menjadi lebih teratur?
Jawabannya tidak. Bangun lebih pagi bisa mengesampingkan kecenderungan genetismu dan malah justru membuatmu kekurangan tidur, di mana tidak cukup kamu dapatkan selama weekdays.
Tidur dan bangun sebenarnya bukan hanya masalah kebiasaan atau kedisiplinan. Namun sebaliknya, justru hal tersebut dipengaruhi oleh jam tubuh kita yang mana 50 persennya ditentukan dari gen kita sendiri.
Sisanya, dibentuk dari lingkungan dan usia kita. Jam tubuh kita semakin progresif lebih awal seiring bertambahnya usia.
“Kita punya sikap yang sudah mendarah daging bahwa orang yang begadang selalu menjadi tidak berguna dan malas, tapi sesungguhnya itu hanya masalah biologis manusia,” terang Prof Malcolm von Schantz dari University of Surrey.
Cara terbaik bagi kamu yang suka begadang untuk memanipulasi jam tubuhmu adalah lewat perubahan kebiasaan ketika kamu terekspos cahaya, agar tak alami peningkatan risiko kesehatan.
Jam tubuh kita dipengaruhi oleh terbit dan tenggelamnya matahari, namun kebanyakan dari kita malah lebih sedikit terpapar sinar matahari di siang hari dan terlalu banyak mendapat cahaya ‘artifisial’ di malam hari, yang membuat kita terlambat merasakan kantuk nantinya.
Dengan terpapar cukup sinar matahari di pagi hari dan mengurangi cahaya ‘artifisial’ terutama dari layar telepon seluler dan laptop yang memproduksi cahaya biru yang kuat, kita dapat melatih jam tubuh kita untuk lebih awal merasakan kantuk.
Walaupun memang hal ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan pada zaman sekarang. Justru tempat bekerja, sekolah dan masyarakatlah yang bisa membantu mereka yang sering begadang, menurut para ahli tidur.
“Akan lebih baik jika beberapa tempat kerja membiarkan para karyawannya bekerja sesuai dengan jam tubuh mereka masing-masing. Hal ini akan mendorong kinerja karyawan dan menjadi cara yang lebih efektif dalam menata bisnis 24/7,” tandas Prof Foster. (dtc/red)
JAKARTA,Tribun Riau- Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam pengeboman di tiga Gereja Surabaya. MUI menegaskan tidak mentolerir radikalisme dan terorisme serta menuntut aparat membongkar tuntas para pelaku.
“MUI mengutuk keras peledakan bom yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, yakni di GKI Diponegoro, di Gereja Santa Maria, dan Gereja Pantekosta Arjuno, terjadi pada Minggu (13/5/2018). Tindakan tersebut diluar nalar akal sehat dan sudah melampaui batas nilai kemanusiaan,” kata Waketum MUI Zainut Tauhid dalam keterangannya pada Minggu (13/5/2018).
Zainut mengatakan, pelaku teror adalah orang yang sudah hilang peri kemanusiaannya dan tidak beragama. Zainut menegaskan aksi teror tidak dibenarkan dan bertentangan dengan Pancasila dan ajaran agama.
“Pelakunya patut diduga adalah orang yang tidak beragama dan sudah hilang rasa kemanusiaannya. Atas dalih apa pun tindakan tersebut tidak dibenarkan karena bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan ajaran agama,” ujarnya.
Dihubungi terpisah, Sekjen MUI Anwar Abbas mengatakan MUI tidak mentolerir kekerasan juga terorisme. Anwar mengatakan bunuh diri maupun membunuh orang adalah perbuatan keji dan dosa besar.
“Sikap MUI sudah jelas, tidak mentolerir kekerasan, radikalisme, dan terorisme. Membunuh diri sendiri itu dosa besar, membunuh satu anak manusia itu sama halnya membunuh dengan seluruh umat manusia, jadi itu merupakan dosa besar. Jadi apa yang dilakukan keluarga ini jelas-jelas merupakan perbuatan tercela dan terkutuk. Oleh karena itu, MUI meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengusut masalah ini secara tuntas,,” kata Sekjen MUI Anwar Abbas.
Anwar menambahkan dia meminta semua pihak agar tidak mengaitkan teroris ini dengan Islam. Sebab, ulah pelaku juga tidak bisa dibenarkan umat Islam.
“Tapi kami minta jangan dikait-kaitkan dengan Islam. Jangan umat Islam di Indonesia itu 90 persen, (digeneralisasikan dengan) yang melakukan (pengeboman) 2-3 orang. Jangan ditempelkan, dilekatkan dengan sikap dan pandangan Islam,” tegas Anwar.
Dia juga meminta agar polisi dan aparat berwajib mengusut tuntas para pelaku lainnya, dan latar belakang keluarga Dita Oepriarto melakukan pengeboman tersebut. Apalagi pengeboman kali ini melibatkan perempuan dan anak-anak. Mereka meminta pemerintah menindak tegas dan mengusut tuntas jaringan teroris.
“Untuk hal tersebut MUI meminta kepada aparat keamanan untuk segera menangkap dalang aksi teror tersebut dan membasmi sampai ke akar-akarnya. MUI mengajak kepada seluruh pimpinan umat beragama dan seluruh masyarakat Indonesia untuk menyatakan perang melawan terorisme. Karena terorisme merupakan kejahatan terhadap negara, agama dan nilai-nilai kemanusiaan sehingga harus menjadi musuh kita bersama,” tegas Zainut. (dtc/red)
JAKARTA,Tribun Riau- Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah berada di level Rp 14.000 pekan lalu. Dolar AS lengser dan parkir di Rp 13.949 pada Jumat (11/5/2018) sore.
Bila ditarik sejak awal tahun, 1 Januari 2018, mata uang Paman Sam itu tengah berada pada tren penguatan. Posisi tertinggi the greenback tahun ini di Rp 14.080.
Meski saat ini nilai dolar AS mulai turun terhadap rupiah, dolar AS diprediksi masih berpotensi menguat hingga tembus ke level Rp 15.000.
Dampak yang ditimbulkan dari menguatnya dolar AS terhadap rupiah pun beragam. (dtc/red)
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera
SURABAYA,Tribun Riau- Setelah ledakan bom di tiga Gereja, kini Markas Polrestabes Surabaya juga menjadi sasaran teror oleh ‘kaum brutal’, Senin (14/5/2018) pada pukul 08.50 WIB.
“Baru saja kejadian pada pukul 08.50 WIB di Polrestabes Surabaya,” kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans, Senin (14/5) pagi.
Menurut Frans, bom itu diduga meledak di atas sebuah kendaraan. Namun, apakah itu kendaraan roda dua atau empat, masih diselidiki.
Frans memastikan ada korban anggota polisi atas ledakan bom itu. Namun, belum dapat dipastikan apakah korban itu meninggal atau tidak.
“Kami memastikan ada korban dari anggota (polisi). Apakah meninggal dunia, kami mohon rekan media menunggu. Karena kami masih menyelidiki di TKP,” kata Frans.(rci/red)
Tribun Riau- Umat Islam diminta agar tidak terpecah belah dalam Kasus bom bunuh diri di Surabaya yang sudah menelan 11 korban meninggal dunia, Ahad (13/5/2018). Pihak berwenangpun diharapkan mengusut tuntas kasus tersebut.
Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) IPB, Irfan Syauqi Beik mengutuk keras segala bentuk kebiadaban dan kejahatan kemanusiaan seperti kasus bom di Surabaya yang baru saja terjadi. Juga mengutuk keras kasus-kasus lainnya seperti pembunuhan ustaz oleh orang diduga gila dan lain-lain.
“Turut berduka cita atas jatuhnya korban jiwa dan korban luka dalam peristiwa bom Surabaya hari ini,” kata Irfan melalui keterangan tertulis, Ahad (13/5).
Ia berharap Polri dapat mengungkap dengan tuntas siapa dalang sebenarnya. Penyelidikan Polri diharapkan tidak hanya berhenti pada pelaku beserta jaringan operator lapangannya. Tapi harus bisa mengungkap siapa dalang besar di baliknya.
“Kalau gak tuntas, khawatir pola-pola seperti ini akan terus berulang dan berulang,” ujarnya.
Ia menyampaikan, di dalam Islam membunuh seorang nyawa manusia dengan sengaja dan tanpa alasan yang haq, sama dengan membunuh seluruh nyawa manusia (QS 5:32). Membunuh adalah kejahatan dan dosa yang sangat besar.
“Buat saudara-saudaraku semuanya, mari kita menahan diri dari segala bentuk adu domba dan upaya memecah belah, semoga Allah SWT melindungi bangsa dan negara kita dari berbagai macam fitnah dan musibah,” ujarnya.
Ledakan bom terjadi di Surabaya, Ahad (13/5) pagi. Ledakan bom terjadi di tiga gereja yang ada di sana.
“Ada tiga ledakan. Di gereja Pantekosta Jalan Athena, Gereja GKI di Jalan Diponegoro, dan Gereja Santa Maria,” kata Kabid Humas Polda Kombes Pol Jawa Timur Frans Barung, Ahad (13/5) pagi.
Rentetan teror bom yang terjadi di Kota Pahlawan tersebut, saat ini sudah menewaskan 11 orang.
“Ada tambahan satu lagi yang meninggal dunia di Ngagel yang bisa kita identifikasi. Artinya sudah 11 yang meninggal dunia,” kata Frans saat menggelar konferensi pers di Mapolda Jatim, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, Ahad (13/5) siang.
Sementara itu, untuk korban luka-luka yang saat ini dirawat masih berjumlah 41 orang. Kesemua korban dirawat di RS. Dr. Soetomo, RS Bedah Surabaya, RS Bhayangkara Surabaya dan lain sebagainya.
Frans juga menjelaskan waktu kejadian yang pasti dari serangkaian teror bom di gereja-gereja di Surabaya tersebut. Bom yang pertaman kali meledak menurutnya adalah di Gereja Santa Maria Ngagel. Waktu kejadiannya pada 06.30 WIB.
Kemudian bom selanjutnya meledak di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro. Waktu kejadiannya pada 07.15 WIB. Kemudian yang terakhir meledak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuna pada 07.53 WIB. (rci/red)
Tribun Riau- Pimpinan lembaga dakwah kreatif iHAQi ustaz Erick Yusuf mengutuk pengeboman terhadap tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur. Ia menjelaskan perbuatan keji tersebut bertentangan dengan semangat Islam, semangat rahmatan lilalamin, dan semangat cinta damai.
“Islam berasal dari kata “Aslama” yang artinya keselamatan sehingga Islam hadir untuk memberikan keselamatan,” ujar ustaz Erick dilansir Republika, Ahad (13/5).
Ustaz Erick khawatir Islam akan menjadi kambing hitam atas ledakan bom bunuh diri di Surabaya pada Ahad tadi. Ia menegaskan bukanlah Islam jika dia menebar teror dan kekerasan. “Itu bukan spirit Islam dan jangan fitnah umat Islam atas hal ini,” ujarnya.
Menurut ustaz Erick, sejak peristiwa 911 di Amerika Serikat, umat Islam kerap disudutkan dan menjadi kambing hitam setiap kali ada serangan teroris. Akan tetapi, seiring waktu kemudian terbongkar bahwa banyak peristiwa kelam yang pelakunya ternyata bukan umat Islam.
Seperti yang terjadi hari ini, menurut Erick, umat Islam tengah fokus membersihkan diri menyambut bulan Ramadhan. Ia mengatakan tidak mungkin umat Islamlah yang melakukan serangan bom.
“Dari tahrib Ramadhan menuju bulan Ramadhan, umat Islam fokus untuk membersihkan dirinya, jadi tidak mungkin ini umat Islam,” ujarnya.
Bom meledak di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Ahad (13/5) pagi. Polisi menginformasikan 11 korban tewas dan 41 lainnya luka-luka akibat teror tersebut. (rci/red)
DEPOK,Tribun Riau- Teror bom di Surabaya membuat warga Depok, Jawa Barat, berpikir serangan bom juga melanda Gereja Bethel Jalan Kamboja, Pancoranmas, begitu mereka mendengar ledakan yang cukup keras, Ahad (13/5), sekitar pukul 10:30 WIB. Pengguna media sosial pun ramai mengaitkan dua kejadian tersebut.
Aparat kepolisian Polres Depok pun segera mendatangi Gereja Bethel untuk memastikan informasi tersebut. Suara ledakan dikonfirmasikan bukan berasal dari serangan bom.
“Bukan bom, tapi ledakan berasal dari gardu PLN yang berdekatan dengan gereja Bethel,” ujar Wakapolres Depok AKBP Arif di lokasi gardu PLN Jalan Kamboja, Pancoranmas, Depok.
Menurut Arif, gardu PLN itu merupakan gardu tengangan menengah. Mengutip penjelasan petugas PLN, a memaparkan dua fuse (sekering) listrik terputus sehingga menyebabkan ledakan.
Pengurus Gereja Bethel, Johan, mengungkapkan listrik gereja padam menyusul suara ledakan tersebut. Ibadah sempat berhenti sejenak karena jemaat panik dan berlarian keluar gereja.
“Setelah mengetahui ada masalah di di gardu listrik kami pakia genset untuk menghidupkan listrik gereja dan ibadah pun berlanjut,” jelas Johan.
Aparat kepolisian kemudian melakukan penyisiran dan pengamanan kompleks Gereja Bethel. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi dan pengamanan bagi para jemaat yang sedang beribadah. “Kami minta masyarakat tetap tenang dan tingkatkan kewaspadaan,” ujarnya.
Aparat kepolisian juga melakukan penyisiran dan pengamanan di gereja-gereja di seputar Jalan Kamboja dan Jalan Melati serta gereja lainnya di Depok. “Kami selalu hadir untuk memberikan rasa aman dan kami menghimbau masyarakat untuk tidak takut dan saling berkerjasama menjaga keamanan,” tutur Arif. (rci/red)