Nasional Kasus Bom Gereja, Ini Tuntutan MUI terhadap Polisi

Kasus Bom Gereja, Ini Tuntutan MUI terhadap Polisi

20
BERBAGI
Wakil Ketua Umum MUI Pusat Zainut Tauhid
Wakil Ketua Umum MUI Pusat Zainut Tauhid

JAKARTA,Tribun Riau- Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam pengeboman di tiga Gereja Surabaya. MUI menegaskan tidak mentolerir radikalisme dan terorisme serta menuntut aparat membongkar tuntas para pelaku.

“MUI mengutuk keras peledakan bom yang terjadi di tiga gereja di Surabaya, yakni di GKI Diponegoro, di Gereja Santa Maria, dan Gereja Pantekosta Arjuno, terjadi pada Minggu (13/5/2018). Tindakan tersebut diluar nalar akal sehat dan sudah melampaui batas nilai kemanusiaan,” kata Waketum MUI Zainut Tauhid dalam keterangannya pada Minggu (13/5/2018).

Zainut mengatakan, pelaku teror adalah orang yang sudah hilang peri kemanusiaannya dan tidak beragama. Zainut menegaskan aksi teror tidak dibenarkan dan bertentangan dengan Pancasila dan ajaran agama.

“Pelakunya patut diduga adalah orang yang tidak beragama dan sudah hilang rasa kemanusiaannya. Atas dalih apa pun tindakan tersebut tidak dibenarkan karena bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan ajaran agama,” ujarnya.

Dihubungi terpisah, Sekjen MUI Anwar Abbas mengatakan MUI tidak mentolerir kekerasan juga terorisme. Anwar mengatakan bunuh diri maupun membunuh orang adalah perbuatan keji dan dosa besar.

“Sikap MUI sudah jelas, tidak mentolerir kekerasan, radikalisme, dan terorisme. Membunuh diri sendiri itu dosa besar, membunuh satu anak manusia itu sama halnya membunuh dengan seluruh umat manusia, jadi itu merupakan dosa besar. Jadi apa yang dilakukan keluarga ini jelas-jelas merupakan perbuatan tercela dan terkutuk. Oleh karena itu, MUI meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengusut masalah ini secara tuntas,,” kata Sekjen MUI Anwar Abbas.

Anwar menambahkan dia meminta semua pihak agar tidak mengaitkan teroris ini dengan Islam. Sebab, ulah pelaku juga tidak bisa dibenarkan umat Islam.

“Tapi kami minta jangan dikait-kaitkan dengan Islam. Jangan umat Islam di Indonesia itu 90 persen, (digeneralisasikan dengan) yang melakukan (pengeboman) 2-3 orang. Jangan ditempelkan, dilekatkan dengan sikap dan pandangan Islam,” tegas Anwar.

Dia juga meminta agar polisi dan aparat berwajib mengusut tuntas para pelaku lainnya, dan latar belakang keluarga Dita Oepriarto melakukan pengeboman tersebut. Apalagi pengeboman kali ini melibatkan perempuan dan anak-anak. Mereka meminta pemerintah menindak tegas dan mengusut tuntas jaringan teroris.

“Untuk hal tersebut MUI meminta kepada aparat keamanan untuk segera menangkap dalang aksi teror tersebut dan membasmi sampai ke akar-akarnya. MUI mengajak kepada seluruh pimpinan umat beragama dan seluruh masyarakat Indonesia untuk menyatakan perang melawan terorisme. Karena terorisme merupakan kejahatan terhadap negara, agama dan nilai-nilai kemanusiaan sehingga harus menjadi musuh kita bersama,” tegas Zainut. (dtc/red)