Beranda blog Halaman 1413

Harga BBM Tiap Daerah Berbeda?

Tribunriau-
Meskipun harga Bahan Bakar Minyak (BBM) rencananya akan kembali diturunkan nanti malam (Minggu, 18/01/2015) pukul 00.00 WIB. Namun, besaran harga baru ini tidak akan sama di seluruh daerah di tanah air. Pajak daerah melalui Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) menjadi penyebab terjadinya perbedaan harga baru BBM.

General Manager PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region V Giri Santoso menjelaskan, besaran penurunan harga menjadi berbeda karena pajak bahan bakar berbeda di sejumlah daerah. Harga premium di Jawa Timur misalnya turun menjadi Rp6.700 per liter. Namun di Bali harganya menjadi Rp7.000 per liter.

“Perbedaan harga ini dipicu pemberlakuan PBBKB yang di tiap daerah berbeda. Kalau di Pulau Jawa, NTB, dan NTT dikenakan lima persen. Sedangkan di Bali pengenaan PBBKB sebesar 10 persen,” ujarnya, Minggu, 18 Januari 2015.

Ia menjelaskan, kendati ada perbedaan harga jual premium di sejumlah daerah, Pertamina berkomitmen menjaga keamanan pasokan. Perusahaan plat merah ini juga menjamin penyaluran premium di wilayah kerja masing-masing.

“Jangan khawatir kita akan penuhi sampai 20 hari ke depan,” kata Giri menambahkan.

Terkait sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang tutup menjelang penurunan harga BBM, ia menilai itu merupakan langkah pemilik SPBU.

“Itu murni inisiatif pemilik SPBU. Kemungkinan mereka sengaja menahan stok supaya tidak beli dengan harga baru,” katanya.

Pertamina optimist, dengan adanya kebijakan baru yang dipublikasikan Pemerintah Pusat melalui Presiden RI Joko Widodo pada hari Jumat (16/1) lalu, masyarakat transportasi di Jawa Timur tidak akan mengalami gejolak apa pun. Apalagi, karakteristik konsumen di Jatim cenderung stabil dan tidak terpengaruh oleh penaikan maupun penurunan harga.

“Bagi mereka yang penting stok BBM ada terus. Selain premium, pada tanggal yang sama berlaku penurunan harga pertamax menjadi Rp8.000 per liter dibandingkan harga sebelumnya Rp8.800 per liter.” (net/isk)

Yusril: Jokowi Keliru Berhentikan Sutarman

Tribunriau-
Pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra menilai pengangkatan Plt Kapolri oleh Presiden RI Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi adalah keliru, karena Plt Kapolri ada karena Kapolri diberhentikan dalam keadaan mendesak.

“Plt Kapolri itu baru ada kalau Kapolri diberhentikan sementara dalam keadaan mendesak. Keadaan mendesak itu karena Kapolri melanggar sumpah jabatan atau membahayakan keamanan negara,” ujar Yusril, Minggu, (18/01/2015).

Dijelaskannya, dalam keadaan normal, Jokowi tidak bisa memberhentikan Kapolri tanpa restu dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Untuk itu, pemberhentian Jenderal Sutarman dari jabatannya sebagai Kapolri tidak tepat. Menurutnya, jika Jokowi menunda pengangkatan Budi Gunawan, mestinya Sutarman tidak diberhentikan dari jabatannya meski DPR sudah setuju dia berhenti.

Mantan menteri hukum dan HAM ini menambahkan, pemberhentian Sutarman harus satu paket dengan pengangkatan Kapolri baru. Oleh sebab itu, pemberhentian Sutarman yang diikuti dengan pengangkatan Plt Kapolri menurut dia tidak bisa dibenarkan.

Jokowi baru bisa memberhentikan Sutarman jika yang bersangkutan melanggar sumpah jabatan atau membahayakan keamanan negara. “Hemat saya merupakan keputusan yang keliru dilihat dari sudut UU.”

Sebelumnya, Presiden Jokowi memberhentikan Jenderal Sutaman dari posisinya sebagai Kapolri. Jokowi kemudian menunjuk Komjen Pol Badrodin Haiti, yang sebelumnya menjabat Wakapolri sebagai Plt Kapolri.

Hal ini dilakukan menyusul penetapan status tersangka terhadap Komjen Budi Gunawan. Calon tunggal Kapolri tersebut disangka melakukan tindak pidana korupsi dengan menerima hadiah atau janji.

Komisi III: Tidak Harus Persetujuan DPR
Berbeda dengan Komisi III DPR RI, Ketua Komisi Azis Syamsuddin menjelaskan bahwasanya Presiden Joko Widodo bisa mengangkat Pelaksana Tugas (Plt) untuk kekosongan Kapolri.

“Bisa Plt (Pelaksana tugas, red). Dilantik dulu, lalu mengajukan cuti,” kata Azis, di gedung DPR, Jakarta, Jumat 16 Januari 2015.

Azis mengatakan, proses politik dari fit and proper test hingga penetapan di paripurna, sudah dilalui. Sehingga, Presiden harus menghormati itu.

Untuk Plt, Azis mengatakan bahwa Presiden bisa langsung menunjuk nama. “Tidak harus (persetujuan DPR, red),” katanya.

DPR pada paripurna 15 Januari 2015, telah memutuskan untuk menerima Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri. Hanya Fraksi Demokrat yang tidak setuju.

Saat ini, Komjen Budi Gunawan menjadi tersangka dugaan korupsi dan penerimaan hadiah atau janji. Ketua KPK, Abraham Samad, mengatakan, tradisi di KPK bahwa tersangka pasti akan ditahan.

Presiden Jokowi mengaku sudah menerima surat dari DPR perihal persetujuan terhadap pengangkatan Budi Gunawan menjadi Kapolri. Namun demikian, sampai detik ini Jokowi belum memutuskan sikap.

“Tadi malam sudah saya terima surat dari DPR. Tadi pagi sudah diproses di Setneg, jadi sabar dan tunggu,” kata Jokowi di halaman Istana Merdeka.(net/isk)

Lima Terpidana Mati Ketakutan Jelang Eksekusi

Terpidana mati sempat ketakutan saat Kejaksaan Agung memastikan mereka akan dieksekusi pada Minggu 18 Januari 2015 pukul 00.00 WIB.

“Mereka ketakutan saat tahu diputuskan MT dan segera dieksekusi,” kata Pendeta Titus saat diwawancara tvOne, Sabtu 18 Januari 2015.

Rohaniwan yang biasa memberikan bimbingan spritual kepada narapidana di Nusakambangan itu menjelaskan, ketakutan yang dialami terpidana mati adalah hal yang biasa terjadi di Nusakambangan.

“Biasanya mereka sudah membayangkan hal yang buruk, jadi takut,” paparnya.

Namun, semakin mendekati waktu pelaksanaan eksekusi, lima terpidana mati menyatakan diri mereka sudah siap untuk menjalaninya. “Saya terus katakan pada mereka, jangan takut karena semua akan kembali walaupun tidak dieksekusi,” ujar Titus.

Seperti diketahui, Kejaksaan Agung sudah menetapkan enam terpidana mati kasus narkoba untuk dieksekusi.

Lima terpidana dieksekusi di Pulau Nusakambangan dan satu terpidana di Boyolali, Jawa Tengah.

Ini daftar nama keenam terpidana yang akan dieksekusi:

1. Namaona Denis (48), warga negara Malawi, diputus PN pada 2001. Grasi ditolak pada 20 Desember 2014.

2. Marco Archer Cardoso Moreira (53), warga negara Brasil, diputus PN pada 2004.

3. Daniel Enemuo alias Diarrassouba Mamadou (38), warga negara Nigeria, diputus PN pada 2004 dan grasi ditolak 30 Desember 2014.

4. Ang Kiem Soei alias Kim Ho alias Ance Tahir alias Tommi Wijaya (52), warga negara tidak jelas. Lahir di Fak-Fak Papua, mengaku sebagai pedagang, grasinya ditolak 30 Desember 2014.

5. Tran Thi Bich Hanh (37), warga negara Vietnam, tidak mengajukan kasasi dan permohonan grasinya ditolak pada 30 Desember 2014.

6. Rani Andriani alias Melisa Aprilia, WNI asal Cianjur, Jawa Barat. Pekerja tidak jelas, diputus PN pada 2000. Grasi ditolak 30 Desember 2014.

Surat Wasiat untuk Jokowi
Terpidana mati kasus narkoba, Namaona Denis (48), warga Negara Malawi, Nigeria menuliskan wasiat penting jelang eksekusi mati yang akan berlangsung Minggu, 18 Januari 2015 dini hari nanti.

Wasiat itu berupa surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo dan seluruh rakyat Indonesia yang disampaikan isteri Denis, Dewi Retno Atik. Surat itu disampaikan sesaat setelah kunjungan terakhir di ruang isolasi LP Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu 17 Januari 2015.

Sekira pukul 14.00 rombongan keluarga dan kuasa hukum Denis keluar dari Dermaga Wijayakusuma dan langsung menyampaikan surat terbuka dari Denis yang memiliki nama asli Salomon Chibuke Okafer itu.

Isak tangis air mata Retno pun pecah saat dirinya membacakan surat terbuka suaminya jelang eksekusi. Didampingi kuasa hukum Denis, Chairul Anam, Retno yang mengenakan baju coklat muda dan dan jilbab warna coklat tua itu terlihat terbata-bata membacakan surat terakhir suami tercintanya.

Berikut surat terakhir terpidana mati Namaona Denis di detik-detik eksekusi mati yang akan dijalaninya:

Kepada Bapak Presiden dan seluruh rakyat Indonesia. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan saya karena sebagai manusia, saya tidak lepas dari kesalahan. Namun perubahan hukum saya dari hukuman seumur hidup menjadi terpidana mati, setelah selama 14 tahun berjalan, telah merampas keadilan yang selama ini saya perjuangkan. Saya mohon kepada masyarakat untuk memahami perjuangan saya memperoleh keadilan, agar tidak ada orang lain yang mengalami perlakuan seperti saya. Karena ternyata berkelakuan baik dan patuh pada aturan hukum di negara ini saja tidak cukup untuk mendapatkan  keadilan. Karena itu melalui surat dari komans HAM yang bisa ditunjukkan oleh lawyer saya. Saya masih terus memperjuangkan keadilan yang tidak pernah saya dapatkan sampai saat ini. Dan atas nama saya Namaona Denis dan keluarga, berkali-kali saya mohon ampun kepada Allah, dan meminta maaf kepada rakyat Indonesia. Wasalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Butuh 10 Menit Pastikan Napi Meninggal
Bagaimana detik-detik eksekusi mati terjadi? Jaksa Agung HM Prasetyo menjelaskan bagaimana proses eksekusi terhadap enam narapidana mati oleh regu tembak di Nusakambangan dan Boyolali, Jawa Tengah, Minggu 18 Januari 2015.

Menurut Prasetyo, seluruh terpidana ditembak oleh tim khusus yang telah disiapkan. Setelah ditembak, ditunggu selama 10 menit untuk memastikan mereka sudah meninggal dunia apa belum.

“Ada tim dokter yang sudah disiapkan. Jika sudah dipastikan, baru dilepaskan dari tiang penyangga untuk selanjutnya dibersihkan,” kata Prasetyo.

Menurut dia, eksekusi mati memang bukan hal yang menggembirakan. Langkah itu memang terbilang memprihatinkan. Namun bagaimanapun hal itu tetap harus dilakukan. Terutama untuk memberikan efek kepada para pelaku narkoba lain di Indonesia.

“Semua hak hukum mereka telah kami penuhi. Termasuk semua permintaan terakhir mereka. Kami pastikan tidak ada satupun yang terlewati. Bagaimanapun juga, eksekusi memang menjadi proses akhir yang harus dilalui,” ujar Prasetyo.

Kini, jenazah enam terpidana mati sudah dibersihkan. Tiga terpidana mati, sesuai permintaan terakhirnya meminta untuk dikremasi sementara tiga lainnya akan dijadwalkan untuk dimakamkan secara biasa. (net/isk)

Buset, Model Asal Jerman Miliki Payudara 18Kg!

Tribunriau-
Sejak lama payudara memang sudah dianggap sebagai salah satu daya tarik wanita secara fisik. Tak heran jika banyak wanita yang berusaha membuat payudara mereka terlihat indah. Mulai dari melakukan operasi plastik hingga memperbesar payudara.

Beberapa orang juga menganggap bahwa payudara yang besar lebih menarik. Karena itu, tak heran jika mereka berlomba-lomba ingin memiliki payudara terbesar lewat berbagai cara. Salah satunya adalah Beshine, seorang model majalah dewasa asal Jerman, yang memperbesar payudaranya hingga berukuran 32Z.

Saking besarnya, payudara ‘raksasa’ Beshine bahkan diklaim sebagai payudara palsu terbesar sedunia. Beshine memperbesar payudaranya lewat cara operasi plastik. Payudara Beshine kini mengandung 10 liter saline solution dan memiliki berat sembilan kilogram masing-masingnya, seperti dilansir oleh Metro (13/01).

Menurut RadarOnline, konon model bernama asli Mayra Hills ini memiliki payudara berukuran cup-A. Namun obsesinya untuk memiliki payudara besar membuatnya melakukan langkah ekstrem seperti yang dilakukannya saat ini. Memiliki payudara terbesar tampaknya juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi Beshine.

“Beshine suka memiliki payudara terbesar sejagad dan menyapa Anda dengan payudaranya yang selalu tumbuh dan terbesar sejagat,” tulis Beshine pada blog resminya.

Beshine menambahkan bahwa tampil di depan umum dengan payudara besar selalu menjadi petualangan tersendiri baginya.

Sementara itu, wanita yang memiliki payudara alami terbesar di dunia adalah Annie Hawkins-Turner. Wanita yang memenangkan Guiness World Record ini memiliki ukuran payudara 48V. Annie mengaku payudaranya terus tumbuh sejak usia sembilan tahun dan terus tumbuh tak wajar.(net/isk)

Seekor Kucing Liar Selamat Bayi

Tribunriau-
Seekor kucing liar bernama Marsha menyelamatkan seorang bayi di Obninsk, Kaluga, Rusia, di tengah cuaca dingin di bawah nol derajat celcius.

Marsha masuk ke dalam kotak tempat bayi itu ditelantarkan untuk menghangatkannya selama beberapa jam di kolong tangga sebuah rumah, seperti dilansir koran the Daily Mail, Jumat (16/1).

Warga bernama Nadezhda Makhovikova yang tinggal di daerah itu menemukan Marsha tengah menjilati wajah bayi itu ketika sedang menangis.

“Ketika saya melihat ke bawah ada bayi sedang menangis,” kata dia.

“Bayi malang itu sudah berada di luar rumah selama beberapa jam. Berkat Marsha dia tidak mati kedinginan,” kata juru bicara rumah sakit kepada Central European News.

Marsha bahkan mengejar petugas medis yang akan membawa bayi itu ke dalam mobil ambulans.

“Dia khawatir ke mana kami akan membawa bayi itu,” kata anggota tim medis bernama Vera Ivanina. “Dia lari di belakang kami lalu mengeong.

Bayi laki-laki berusia sekitar dua atau tiga bulan itu lalu di bawa ke rumah sakit buat diperiksa dan sudah dinyatakan dalam keadaan sehat meski dia kedinginan selama beberapa jam di luar rumah.

Polisi kini tengah mencari orangtua bayi itu.(net/isk)

Pengamat: Jokowi Ditekan Empat Penjuru Kekuatan

Presiden Joko Widodo bersiap memberikan keterangan pers terkait polemik pengajuan calon tunggal Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan di Wisma Negara, Jakarta, Rabu (14/1/2015). (Antara/Andika Wahyu)

Tribunriau, JAKARTA-
Presiden Joko Widodo menghadapi posisi sulit akibat tekanan berbagai kekuatan dalam pergantian kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri).

Pengamat politik dari Populi Center, Nico Harjanto menilai posisi Presiden terjepit di antara empat penjuru kekuatan. “Istana, DPR, Kuningan, dan Teuku Umar,” kata Nico dalam sebuah diskusi di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu, 17 Januari 2015.

Posisi paling kuat dalam intervensi persoalan kapolri, menurut dia, adalah Teuku Umar. Di sana, bercokol para pimpinan partai politik yang dikomandoi oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

“Itu Sekretariat Bersama Koalisi Indonesia Hebat. Karena setiap pertemuan penting ada di situ,” ujarnya.

Nico melihat, kondisi ini diduga membuat Jokowi pusing. Meskipun mantan wali kota Solo itu terus mencoba terlihat baik-baik saja.

“Saat di Surabaya, Bandung, atau Istana, dia benar-benar (terlihat) dalam problem. Ini menyusahkan sekali. Tentu kesulitan itu bagian pilihan politik juga,” katanya.

Nico menilai, posisi Jokowi lemah karena sebagai Presiden, dia tidak mempunyai partai. Kondisi itu berbeda dengan Soeharto atau Susilo Bambang Yudhoyono di masa lalu.

“Soeharto bukan ketua umum Golkar, tapi ketua Dewan Pembina. Dia bisa mengendalikan. Konteks politik kita mensyaratkan begitu. Bahkan, SBY merasa harus jadi ketua umum di masa-masa terakhir,” tuturnya.

Bantah titipan Mega

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), membantah isu bahwa penunjukkan Komjen (Pol) Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri oleh Presiden Joko Widodo atas titipan Megawati Soekarnoputri. Rumor itu muncul mengingat saat Megawati menjabat Presiden RI Budi adalah ajudannya.

“Tidak ada titip-titipan. Pak Jokowi itu kan Presiden independen. Terlalu rendah jika Pak Jokowi menjadi Presiden titip-titipan,” kata Ketua DPP PDIP, Trimedya Pandjaitan, di gedung DPR, Senin 12 Januari 2015.

Dia mengakui, Megawati dan Budi punya hubungan yang sangat erat. “Ya namanya mantan ajudan, masa tidak dekat,” kata anggota Komisi III DPR ini.

Dia mengatakan, Budi adalah seorang yang sudah direkomendasikan oleh Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Apalagi, Kompolnas dalam menjalankan tugasnya, turut mengawasi dan memberikan penilaian terhadap para pejabat di lingkungan Polri.

“Tentu tidak mungkin Kompolnas memberikan rekomendasi yang belum layak bagi Presiden Jokowi,” kata Trimedya.

Kini, nama Budi sudah masuk ke DPR untuk dipertimbangkan. Trimedya berharap, proses fit and proper test di Komisi III berjalan lancar, seperti calon-calon Kapolri terdahulu.

Pekan depan fit and proper test atas Budi akan dimulai. “Mudah-mudahan semuanya lancar,” kata Trimedya.
Budi akan menggantikan Jenderal Sutarman. Penggantian Kapolri ini relatif cepat, mengingat Sutarman baru masuk masa pensiun pada Oktober 2015. (net/isk)

Jokowi Resmi Berhentikan Sutarman sebagai Kapolri

Tribunriau, Jakarta-
Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya mengambil keputusan terkait posisi Kapolri dengan memberhentikan Jenderal Polisi Sutarman.

“Malam hari ini ada beberapa hal yang akan saya sampaikan yang berkaitan dengan Polri. Tadi sore telah saya tanda tangani dua Kepres. Pertama tentang pemberhentian dengan hormat Jenderal Polisi Sutarman sebagai Kapolri,” ujar Jokowi dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Jumat (16/1/2015) malam, dilansir dari okezone.com.

Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan di tubuh Polri, mantan Gubernur DKI Jakarta itu pun mengambil langkah lanjutan dalam Kepres keduanya yang berisikan Wakapolri Komjen Pol Badrudin Haiti untuk menjalankan tugas yang selama ini diemban oleh Kapolri. “Kedua tentang penugasan Wakapolri Komjen Polisi Badrodin Haiti untuk melaksanakan tugas wewenangan dan tanggungjawab Kapolri,” kata Jokowi.

Dalam konferensi pers tersebut, Jokowi didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Tedjo Edhy Purdijatno. Selain itu, Jenderal Polisi Sutarman dan juga Wakapolri Badrodin Haiti selaku pihak yang berkepentingan, turut mendampinginya.

Pasrah
Diberhentikan secara hormat dari jabatan Kapolri oleh Presiden Joko Widodo, tak lantas membuat Jenderal Pol Sutarman patah arang. Ia justru berbesar hati untuk menyerahkan jabatannya itu pada Wakapolri Badrodin Haiti yang ditugaskan mengisi tugas Kapolri.

“Dengan keputusan Presiden yang saya terima, mulai detik ini saya memberikan wewenangan tugas jabatan pada Wakapolri yang juga ditugaskan Presiden untuk menjalankan tugas Kapolri,” ujar Sutarman di Istana Merdeka, Jumat (16/1/2015) malam.

Kata Sutarman, jabatan Kapolri tidak boleh terjadi kekosongan. Karena Kapolri merupakan pengguna anggaran dan pelaksana. “Mulai detik ini seluruh kegitan pembinanan Polri telah beralih ke Wakapolri,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Sutarman juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan yang diberikan, baik itu dari kalangan masyarakat maupun dari jajaran kepolisian.

“Terima kasih juga pada anggota hingga kita mampu mengamankan Indonesia. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan bisa dilanjutkan Wakapolri,” katanya.

Mendapat amanat tersebut, Wakapolri Badrodin mengaku siap menjalankan tugasnya. “Saya selaku Wakapolri menjalankan tugas karena memang tidak boleh ada kekosongan kepemimpinan. Wakapolri mewakili kapolri menjalankan tugas sehari-hari. Ini dikuatkan keputusan Presiden. Saya mengajak seluruh jajaran untuk menjalankan tugas mengamankan Indonesia,” tegasnya.(net/isk)

Dipukul OTK, Anggota DPRD Riau Kritis

Anggota DPRD Riau saat dirawat secara intensif.

Tribunriau, Pekanbaru-
Anggota DPRD Riau, Sugeng Pranoto (46) kritis di RS Awal Bros setelah dipukul orang tidak dikenal (OTK).

Kasus pemukulan tersebut telah dilaporkan oleh istri korban Poppy Kusumawati (44) warga Jalan Kahyangan Gang Kahyangan No 11 RT 03/06 Kelurahan Tangkerang Barat, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru pada hari Jumat (16/15) lalu di Mapolresta Pekanbaru.

Didalam surat laporannya, disebutkan bahwa suaminya kini dirawat di RS Awal Bros, Pekanbaru.

Dikatakan Poppy, suaminya menjadi korban pengeroyokan OTK di Kantor DPD PDI Perjungan Riau di Jl Sudirman, Pekanbaru pada Kamis (15/1/14) sekitar pukul 23:00 WIB.

“Akibat pengeroyokan tersebut, Sugeng Pranoto mengalami luka memar pada bagian pinggang sebelah kiri dan seluruh badan mengalami rasa sakit hingga harus dirawat,” katanya.

Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Robert Haryanto melalui Kasat Reskrim Kompol Hariwiyawan Harun kepada Wartawan membenarkan atas laporan tersebut.

“Kita masih melakukan penyelidikan dalam kasus ini. Juga akan memintai keterangan sejumlah saksi yang melihat pemukulan tersebut,” kata Hariwiyawan. (net/isk)

Digital Imaging Jelaskan Foto Mesra “Abraham Samad”

Foto Abraham Samad yang diduga telah diedit bermesraan dengan Putri Indonesia.

Tribunriau-
Tidak hanya pengamat telematika yang meyakini jika foto mesra Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi dan Puteri Indonesia 2014 itu palsu. Pakar fotografi pun menjelaskan palsunya foto tersebut melalui teknik digital imaging.

Dalam Twitter-nya, akun @yunaidijoepoet menggunakan perbandingan dua foto kolase berbeda, yang kemudian diubah menjadi hanya bentuk tekstur gambar. Foto pertama diambil dari akun Instagram Puteri Indonesia yang dikaitkan namanya dengan Samad, Elvira Devinamira, sedangkan foto kedua adalah foto Samad dan Elvira yang beredar saat ini.

Fotografer travel itu menyebutkan, jika gambar kolase tanpa edit (foto pertama) memiliki tekstur garis tepi yang berbeda secara signifikan dengan gambar kolase Samad dan Elvira (foto kedua).


“Kualitas file foto yang dihasilkan cukup buruk. Saya berasumsi, editor sengaja menurunkan kualitas file supaya sulit diidentifikasi. Foto berupa kolase dengan ukuran sangat kecil yg dimodifikasi dengan Photoshop CS 3,” tweetnya.

Menurutnya, ada faktor kesalahan fotografi dan tentunya digital imaging yang membuat foto ini tak begitu kuat untuk diyakini keasliannya. (net/isk)

KPU Ajukan APBDP Tahun 2015 Senilai Rp.4,22 M

Hearing anggota DPRD dengan KPU Riau (photo: Riauterkini)

PEKANBARU, Tribunriau-
Meskipun APBD Perubahan (APBD-P) Tahun 2015 belum dibahas, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi telah mengajukan anggaran senilai Rp.4,22 M ke Komisi A DPRD Riau. Hal tersebut dilakukan mengingat pelaksanaan Pilkada di empat kabupaten/kota di Provinsi Riau.

“Anggaran sebesar ini terutama untuk pelaksanaan Pilkada yang dilakukan tahun ini di empat kabupaten/kota se-Riau,” jelas Nurhamin Nahar, Ketua KPU Riau saat hearing dengan Komisi A DPRD Riau, Senin (12/01/15).

Awalnya, Dianggarkan sebesar Rp1,6 miliar. Namun, setelah dikaji, total anggaran tersebut masih kurang untuk pelaksanaan Pilkada di empat kabupaten/kota dengan acuan Pilkada tak langsung.

“Lantaran disesuaikan dengan perkembangan dinamika, terutama untuk keperluan Pilkada langsung, maka kami mengajukan kembali anggaran dengan besaran Rp4,22 miliar,” terangnya.

Di dalam anggaran Rp1,6 M itu, ternyata tidak termasuk anggaran untuk pembangunan kantor dan pembelian mobil dinas lima komisioner KPU Riau. Serta anggaran untuk bimbingan tekhnis atau Bimtek dan kunjungan ke lapangan para komisioner KPU Riau.

“Kami tidak ingin juga nantinya, anggaran kami menjadi tumpang tindih dengan dana APBN. Untuk itu, sebelum menggunakan anggaran itu, kami akan berkoordinasi dengan BPKP,” sebutnya.

Menanggapi hal ini, Suhardiman Amby, Sekretaris Komisi A DPRD Riau mengatakan, total anggaran yang diajukan itu akan dikaji ulang oleh Komisi A DPRD Riau. Apalagi, kegiatan yang bersifat mendesak, akan diprioritaskan dan program yang tumpang tindih akan dikeluarkan.

“Pada intinya, anggaran untuk Pilkada ini sangat diperlukan dan nantinya akan kita perjuangkan di APBD Perubahan 2015. Tentunya, perjuangan ini sudah melalui tahap pengkajian di internal kami,” tutupnya.

Empat daerah yang akan melakukan Pilkada di tahun ini yakni, Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Meranti dan Kabupaten Inderagiri Hulu.(rtc/isk)

Terbaru

Populer