Beranda blog Halaman 1275

Dari 2011, PT Tasma Puja di Inhu Diduga Garap Lahan Warga

Tarmizi, perwakilan masyarakat Desa Alim memperlihatkan dokumen surat lahan masyarakat Desa Alim yang diduga diserobot PT Tasma Puja
Tarmizi, perwakilan masyarakat Desa Alim memperlihatkan dokumen surat lahan masyarakat Desa Alim yang diduga diserobot PT Tasma Puja

INHU,Tribun Riau- Sejumlah lahan ladang masyarakat di Desa Alim diduga diserobot serta digarap oleh PT Tasma Puja sejak tahun 2011.

Berbagai perlawanan sudah dilakukan oleh masyarakat setempat, hingga mobil operasional pelansiran bibit PT Tasma Puja juga disandera, namun upaya perlawanan tersebut juga kandas.

“Pada tahun 2017 kemarin, lebih kurang setahun kami melakukan panen masal, namun tidak ada itikad baik pihak perkebunan Tasma Puja untuk mengembalikan lahan masyarakat Desa Alim,” kata kordinator perjuangan masyarakat Desa Alim, Tarmizi kepada wartawan, Sabtu (5/5/2018).

Menurut Tarmizi, berbagai kesepakatan antara masyarakat Desa Alim dengan manajemen perkebunan PT Tasma Puja juga dilakukan, diantaranya kesepakatan kalau pihak Tasma Puja tidak melakukan aktifitas di atas lahan tersebut.

“Kesepakatan tinggal kesepakatan saja, semua kesepakatan dilanggar dan masalah lahan masyarakat Desa Alim tetap dikuasainya,” jelas Tarmizi.

Atas kondisi tersebut, manajemen PT Tasma Puja terancam dilaporkan ke polisi, dalam dugaan penyerobotan lahan masyarakat Desa Alim dan pembuatan kebun kelapa sawit tanpa izin.

“Kami akan kembali duduki lahan kami yang diserobot paksa oleh PT Tasma Puja, selain itu, kami juga akan tempuh jalur hukum,” tegasnya.

Semantara itu, mantan Kepala Desa Alim, Sulkarnain, saat dikonfirmasi membenarkan adanya ratusan lahan yang dikuasai oleh PT Tasma Puja di Desa Alim.

“Kalau lahan peladangan masyarakat Desa Alim yang tidak ada surat keterangan, silahkan saja garap, tapi kalau lahan masyarakat Desa Alim ada hak keperdataan, seyogyanya dikembalikan kepada masyarakat,” harapnya.

Sulkarnain membenarkan kalau konflik masyarakat Desa Alim dengan pihak perkebunan kelapa sawit PT Tasma Puja sudah berlangsung sejak lama, jika kondisi konflik lahan tersebut terus berlanjut, dikhawatirkan akan terjadi korban.

“Kita minta ada itikad baik dari pihak perkebunan PT Tasma Puja, kembalikan saja lahan masyarakat Desa Alim, saat saya menjadi Kades, saya sudah capek meredam masyarakat, saya takutnya konflik besar terjadi akibat masalah penyerobotan lahan ini,” ujarnya.

Sementara itu, pihak perkebunan PT Tasma Puja belum bisa dikonfirmasi terkait dugaan penyerobotan lahan masyarakat Desa Alim yang terjadi sejak tahun 2011. (hrc/red)

Kecerdasan Jokowi Dipertanyakan

JAKARTA,Tribun Riau- Kecerdasan Presiden Jokowi yang merekomendasikan mencari racun kalajengking agar cepat kaya dipertanyakan.

“Masyarakat suruh ternak kalajengking. Disuruh masuk gorong grorong. Apa itu cerdas?,” ujar Mardani Ali Sera saat berorasi di depan massa relawan gerakan #2019GantiPresiden, Jakarta, Minggu 6 Mei 2019.

Mardani mengatakan, karena ucapan presiden itu, sudah saatnya masyarakat bahu membahu menghentikan pembodohan politik dan sosial yang terus terjadi dibawah kepemimpinan Presiden  Jokowi.

Karenanya, lanjut dia, dengan adanya gerakan #2019GantiPresiden tersebut, pihaknya ingin terus mengawal masyarakat agar terus memperoleh pendidikan politik dan sosial yang baik dan benar.

“Kita ingin melakukan pendidikan politik. Cukup sudah pencitraan. Cukup sudah kebohongan. Cukup sudah upaya membodohi masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, Mardani juga mengkritisi, sikap presiden yang menggunakan motor choppernya dijalan-jalan umum di Sukabumi, disaat masyarakat tengah mengalami krisis ekonomi, politik, dan sosial.

“Kita darurat ekonomi, pendidikan, dan korupsi. Tapi ada Presiden yang sibuk naik chopper. Selesaikan dulu masalahanya. Karena itu rakyat harus didik. Dengan ini rakyat tahu mana presiden yang benar mana yang kerja kerja aja,” katanya.

Karena itu, melalui gerakan tersebut, dia mengajak masyarakat untuk menggulingkan presiden dengan cara-cara yang konstitusional, yakni melalui pemilu yang jujur dan adil pada April 2019.

“Tetapi kita yakin 2019 ganti Presiden. Tetapi saya ingin nyatakan kita ingin ganti presiden melalui pemilu yang jujur dan adil, karena itu kita akan ganti dia pada April 2019. Jam 7 sampai jam 1 Insya Allah 2019 ganti presiden,” ucapnya. (vci/red)

Misteri #GelangKode

Tribun Riau- Trend #GelangKode sempat menguasai lini massa Twitter, Kamis, 3 Mei 2018. Tagar ini mengungkap sisi lain dari kasus intimidasi massa berkaus #2019GantiPresiden terhadap seorang ibu dan anak di arena car free day (CFD) pada Minggu, 29 April 2018 lalu.

Kemunculan #GelangKode diinisiasi Aktivis PP Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya, melalui akun Twitternya @NetizenTofa. Sebelumnya, Mustofa menceritakan kejanggalan peristiwa yang berujung intimidasi itu di acara ‘Dua Sisi’, tvOne, Rabu malam, 3 Mei 2018.

Bermula dari rasa penasaran dengan peristiwa yang sebenarnya. Pria yang juga peggiat media sosial ini mulai mempelajari rekaman video intimidasi yang beredar di Youtube. Ditambah lagi, banyak keganjilan yang dia temui di lapangan. Ia banyak melihat sosok asing di kerumuman massa #2019GantiPresiden.

Dari hasil penelusuran, ada beberapa kejanggalan yang dia temukan. Salah satunya penggunaan gelang yang sama oleh beberapa ‘pelaku’ dan ‘korban’.

“Di sini ada foto, beberapa orang misterius sekali. Ini dari video yang beredar antara yang memberi uang ini sangat provokatif, mengibas-ibas pakai baju putih yang diberi uang, tapi keduanya pakai gelang yang sama, warna cokelat,” kata Mustofa.

Berdasarkan pengalamannya berunjuk rasa ketika mahasiswa, selalu ada ciri atau kode-kode khusus yang diberikan pada suatu kelompok massa, untuk menunjukkan mana kawan dan lawan. Kode itu bisa berupa pita di lengan sesama mahasiswa.

Dari sejumlah gambar dan video yang beredar, Mustofa menduga ada skenario yang diatur. Ia curiga antara pelaku, korban adalah dari pihak yang sama. “Dalam intelijen, bisa jadi antara pelaku dan korban adalah pihak yang sama. Provokator, pelaku, dan korban adalah pihak yang sama. Saya tidak menuduh ya, ini penemuan saya di video,” ujar Mustofa.

“Dan yang bikin saya kaget, Mbak Susi (Susi Ferawati-korban intimidasi) memakai gelang yang sama, gelangnya sama persis. Jangan-jangan operasi intelijen luar biasa, ini temuan saya di video,” imbuhnya.

Apalagi, pada saat kejadian banyak aparat Kepolisian yang menjaga jalannya aksi, dan tak bereaksi ketika tindakan intimidasi itu terjadi. “Kalau ini kejahatan, pasti sudah ditangkap polisi saat itu. Polisi banyak kok saat itu. Artinya ini bukan kejahatan,” ungkapnya.

Pengakuan Ayah Korban Pembagian Sembako di Monas

JAKARTA,Tribun Riau- Ayah dari salah satu korban pembagian sembako Monas Djunaidi, mengungkapkan bahwa dirinya tidak mengetahui jika anaknya pergi ke Monas untuk mengambil sembako, dan memang tidak membawa kupon sembako ketika keluar dari rumah.

“Tidak, tidak ada kupon. Anak saya tak bawa kupon. Dan di sekitar rumah saya juga enggak ada pembagian kupon sembako,” kata Djunaidi di Mapolda Metro Jaya, Sabtu 5 Mei 2018.

Ia menegaskan, keluarganya tidak mengetahui sama sekali kalau hari itu ada pembagian sembako di Monas.

“Ya mungkin karena teman-temannya berangkat, ramai-ramai iya kan. Tapi anak saya enggak ikut berangkat ramai-ramai, dia berdua sama temannya, Akmal. Itu pun mungkin karena dia sahabatnya kali, dia mau ikut. Biasanya tidak pernah ke mana-mana anak saya,” ujarnya.

Menurut pengakuan teman almarhum, Akmal, sebelum terjadi insiden dorong-dorongan, almarhum Mahesa sempat diberikan makan oleh panitia di Monas. “Jadi setelah makan, tidak lama kemudian itu seperti pada bubar semua gitu di sana, tadinya anak saya pegangan tangan sama Akmal, nah mungkin saking banyaknya orang mereka terpisah,” ujarnya.

“Mungkin mereka panik, cari-carian, Akmal langsung pulang ke rumah dan mencari anak saya di rumah, ternyata anak saya belum pulang. Setelah itu langsung mamanya inisiatif berangkat ke Monas mencari anak saya, dan janjian bertemu saya di Monas mencari anak saya. Ternyata panitia mengajak ke rumah sakit, dan ternyata anak saya sudah tidak ada,” tambahnya dengan mata berkaca-kaca.

Diketahui sebelumnya, pada tanggal 28 April lalu warga DKI Jakarta dikagetkan dengan insiden pembagian sembako yang berujung pada tewasnya dua orang anak kecil. Pembagian sembako itu dilakukan oleh sekelompok relawan yang mengatasnamakan dirinya Forum Untukmu Indonesia.

Dalam insiden itu, dua orang tewas yaitu Mahesa Djunaidi (12 tahun) dan Muhammad Rizki Syahputra (10 tahun). Keduanya tewas diduga karena terhimpit kerumunan orang yang berebut sembako. (vci/red)

Kantor Dijaga Brimob Bersenjata, Gerindra Jateng Protes

Sekretaris DPD Gerindra Jateng, Sriyanto Saputro`
Sekretaris DPD Gerindra Jateng, Sriyanto Saputro

JATENG,Tribun Riau- Sekretaris DPD Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Jawa Tengah Sriyanto Saputro memprotes adanya sejumlah petugas Brimob bersenjata lengkap yang mengawasi kantornya. Mereka menilai keberadaan polisi bersenjata itu terlalu berlebihan.

Sriyanto mengaku curiga dan tidak nyaman dengan pengamanan mendadak personel Brimob di kantor DPD, Jalan Kanguru Raya Semarang, Jawa Tengah.

Ia menyebutkan, sejumlah personel Brimob itu mengamankan kantornya sejak dua hari terakhir. “Jumat kemarin kantor DPC kami didatangi sejumlah personel Brimob bersenjata laras panjang. Hari ini giliran kantor DPD juga diperlakukan sama,” kata Sriyanto, Sabtu, 5 Mei 2018.

Sebenarnya, Sriyanto tak alergi dengan kehadiran aparat di kantornya. Sebab, selama ini juga sering menerima tamu, termasuk polisi. Tapi dengan kedatangan polisi bersenjata laras panjang secara tiba-tiba mengesankan ada masalah di partainya.

“Seperti memburu teroris saja. Makanya kami menyesalkan. Karena ketika patroli rutin demi keamanan, apakah personel dilengkapi surat tugas dan apakah harus bersenjata laras panjang seperti itu. Ini over acting,” ujarnya.

Anggota Komisi A DPRD itu menduga, tindakan itu mengesankan suasana mencekam jelang Pilgub Jateng. Padahal, ia mengklaim sejatinya keadaan kondusif alias adem ayem. “Pertanyaannya apakah semua kantor partai diperlakukan sama? Kalaupun iya menurut saya cara tersebut tidak tepat,” ujarnya.

WA Hoax

Selain itu, Sriyanto juga heran dengan munculnya kabar akan ada aksi di CFD Simpanglima Semarang, dengan kaus #2019gantipresiden, Minggu, 6 Mei 2018. Kemudian kantor DPC dan PSC Gerindra didatangi polisi untuk menanyakan soal aksi tersebut.

“Bahkan beredar WA berantai seolah pak Prabowo akan hadir. WA tersebut dipastikan hoax karena Gerindra tidak mengadakan kegiatan tersebut. Apalagi besok posisi pak Prabowo di Pasuran Jatim acara apel laskar dalam acara Prabowo Menyapa Warga Jatim,” ujar Sriyanto.

“Kami meminta aparat profesional dan netral di tahun politik ini dan tidak menjadi alat politik pihak-pihak tertentu,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Jateng, Komisaris Besar Polisi Agus Triatmaja, menyebutkan jika kegiatan Brimob di kantor Partai Gerindra tersebut merupakan patroli jelang Pilkada Jawa Tengah. Ia mengemukakan, pengamanan tak hanya kantor Gerindra melainkan kantor KPU, Bawaslu, dan kantor-kantor partai politik lain.

“Konfirmasi dari Brimob, anggota tersebut melaksanakan patroli karena saat ini sedang dalam situasi Pilkada. Konteks (pengamanan) di tempat-tempat yang dianggap berkaitan dengan kegiatan Pilkada,” ujarnya. (vci/red)

Deklarasi #2019GantiPresiden Dilakukan Agar tak Ada Fitnah

Massa yang menggunakan kaos bertaggar 2019GantiPresiden saat berkumpul di acara Car Free Day
Massa yang menggunakan kaos bertaggar 2019GantiPresiden saat berkumpul di acara Car Free Day

JAKARTA,Tribun Riau- Deklarasi akbar relawan #2019GantiPresiden tetap jadi digelar pada Minggu, 6 Mei 2018. Namun, deklarasi akan dilakukan di Taman Aspirasi Monas, Jakarta Pusat, bukan di Patung Kuda Arjuna Wiwaha seperti rencana semula. Deklarasi itu diklaim akan dihadiri 10 ribu orang.

“Deklarasi nanti dipusatkan di Taman Aspirasi ini. Besok acara lancar, akan ada orasi dari inisiator dan ada pengumuman penting, misalkan person to person menjadi koordinator dan sebagainnya,” kata relawan #2019GantiPresiden, Mustofa Nahrawardaya ketika ditemui di Cikini Jakarta Pusat, Sabtu 5 Mei 2018.

Tofa mengemukakan, pihaknya sengaja melakukan deklarasi itu pada hari Minggu. Menurut dia, Minggu adalah momen yang tepat untuk mendeklarasikan diri.

“Ya momennya hanya besok saja, supaya tidak ada fitnah-fitnah lagi karena banyak yang mengklaim sebagai koordinator. Karena ini hanya satu dan belum ada satu orang yang ditunjuk deklarasi itu,” ujar Tofa.

Dia tak khawatir akan ada gesekan dengan kelompok lain saat deklarasi nanti. Pihak relawan juga akan memantau pihak-pihak yang berpotensi mengacaukan acara.

“Jadi kami sudah pantau adanya gerakan gerakan itu, kelompok-kelompok yang ingin mengacaukan dari dalam. Lalu ada yang mengaku sebagai koordinator nasional itu siapa yang menunjuk itu tidak ada. Itu hanya untuk menggembosi,” kata Tofa.

Tofa merasa tak melanggar aturan untuk melakukan deklarasi ini. Dia mengklaim akan banyak yang memenuhi deklarasi ini, yakni hingga 10 ribu orang.

“Nanti menjadi bukti bahwa gerakan deklarasi ganti presiden ini acara ikhlas dan membuktikan masyarakat menginginkan ganti presiden di tahun 2019. Besok diperkirakan ada 6 ribu sampai 10 ribu yang hadir,” ujarnya. (vci/red)

Kejadian Lucu saat Prosesi Pernikahan Raditya

JAKARTA,Tribun Riau- Komika, sutradara sekaligus aktor Raditya Dika telah resmi mempersunting kekasihnya, Anissa Aziza di Grand Ballroom Hotel Ritz Carlton Pacific Place, SCBD Jakarta, Sabtu 5 Mei 2018. Setelah ijab qabul, keduanya melangsungkan rangkaian upacara adat sunda, antara lain injak telur.

Radit seharusnya membantu Anissa yang telah menjadi istrinya untuk bangun. Karena saat injak telur, Anissa berlutut di hadapan Radit untuk membantu prosesi tersebut. Namun, setelah menginjak telur, Radit justru langsung ngeloyor dan berjalan.

Dengan nada bercanda, sang pembawa acara sempat menegur perilaku cuek Radit yang seolah tak menghiraukan Anissa.

“Radit, istrinya enggak diajak,” tanya sang pembawa acara.

Kejadian kembali terulang saat Radit menjalankan prosesi lain. Setelah memecahkan kendi, harusnya kedua mempelai pengantin berjalan beriringan melangkahi pecahan. Lagi-lagi, Radit berjalan terlebih dahulu.

“Radit, lupa ya sudah nikah? Istrinya enggak diajak,” ujar pembawa acara.

Saat jumpa pers, pemain film Jomblo, Kuala Kumal dan Marmut Merah itu mengaku memang lupa dan mungkin terlalu gugup di hari paling bahagianya.

“Oh iya, lupa sudah nikah tadi. Harus dijagain apa segala macam,” kata Radit. (vci/red)

Perang Taggar, Ini Penjelasan Ketua KPU

JAKARTA,Tribun Riau- Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman memaklumi adanya perang tagar di antara pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Hal itu dinilainya bagian dari kebebasan berpendapat dan diperbolehkan selama tak langgar aturan.

“Kalau semua sudah paham posisinya masing-masing, sebetulnya menyampaikan pendapat itu bisa kapan saja dan di mana saja, asal dia tidak melanggar aturan yang ada,” kata Arief di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 5 Mei 2018.

Mengenai pengaturannya, Arief mengakui, saat ini KPU belum bisa mengatur soal itu. Karena saat ini belum ada nama-nama yang ditetapkan secara resmi sebagai calon presiden 2019.

“Karena sebetulnya yang ditagarkan tentang capres. Lah capresnya kan belum ada, KPU belum bisa berpendapat,” ujarnya.

Menurut Arief, jika ada pasangan calon yang sudah ditetapkan, maka sejak itu semua terkait pilpres terikat dengan aturan KPU. Termasuk aturan soal cara berkampanye.

“Kapan kampanyenya, boleh seperti apa, apa yang dilarang, itu baru terikat semua. Kalau sekarang kan belum ada yang terikat. Kami belum tahu siapa yang akan mendaftar dan akan ditetapkan,” katanya.

Seperti diketahui, jelang tahapan Pemilihan Presiden 2019, perang tagar di antara kubu pendukung Jokowi dengan Prabowi kian masif. Ada tagar #2019GantiPresiden, #2019TetapJokowi, #DiaSibukBekerja dan lain sebagainya. (vci/red)

Ini Respon Menteri Susi saat Dicandain Sandi Cocok Jadi Cawapres

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti usai melakukan lomba renang versus padding di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti usai melakukan lomba renang versus padding di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta

JAKARTA,Tribun Riau- Hadir di rematch melawan Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti tak henti digoda oleh lawannya tandingnya itu.

Sandi yang juga ketua Tim Pemenangan Pemilihan Presiden (Pilpres) Partai Gerindra membuat Susi tergelak lantaran terus-menerus dicandai penawaran bersanding dengan Prabowo Subianto dalam pilpres 2019 sebagai calon wakil presiden.

“Ini berengsek memang ini. Belum tahu saya bisa kejam dan galak,” ujar Susi disambut tawa warga dan SKPD di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta, Sabtu (5/3).

Susi menjawab tawaran Sandiaga di akhir sambutannya. Ia meminta masyarakat tak menganggap serius omongan tersebut. “Gurauan Pak Sandi itu tidak perlu didengar. Saya tidak mikir cawapres, tidak mikir capres. Mikirnya kerja, suka di laut, lautnya terjaga, nelayannya kaya,” kata dia.

Susi mengatakan, Sandiaga memang terkadang berlebihan dalam melemparkan gurauan. Ia khawatir bahan candaan itu akan menimbulkan asumsi negatif kepada dirinya.

“Pak Sandi ini kalau ngeledek kebangetan. Nanti dipikirnya ‘wah Bu Susi ini ada apa-apa nih dengan Gerindra’,” kata dia.

Mendengar ucapan Susi tersebut, Sandiaga tertawa terbahak-bahak sembari berkelakar. “Semakin diomongin semakin kentara,” kata dia disambut tawa para hadirin.

Setelah duel perdana di Danau Sunter dimenangkan oleh Susi, Sandi menggelar pertandingan ulang di Pulau Tidung, Kabupaten Jakarta Kepulauan Seribu. Dalam sambutannya, politikus Partai Gerindra itu menggoda Susi dengan mengatakan dia cocok sebagai calon wakil presiden bagi bakal calon presiden dari Partai Gerindra Prabowo Subianto.

“Tadi dibilang wapres jangan-jangan jadi bos saya nih. Wakilnya Pak Prabowo. Cocok nggak nih,” kata Sandiaga kepada warga.

Sandi kemudian berkelakar bahwa Susi tampak takut-takut menerima tawaran secara tak langsung itu. “Gimana?, cocok enggak jadi wakilnya Pak Prabowo? Kok takut-takut nih,” ujar dia.

Susi yang duduk di atas panggung tertawa mendengar kelakar tersebut, begitu pula para warga. Namun, ia sempat menegur Sandiaga agar tidak berlebihan. “Ngawur ini ngawur,” kata Susi.

Bukannya menghentikan candaannya, Sandiaga justru melanjutkan. “Cocok banget nih, saya kebetulan ditugasi,” timpal Sandi. (rci/red)

Dugaan Barter Kasus HRS dan Sukmawati, Ini Bantahan PA 212

JAKARTA,Tribun Riau- Salah satu juru bicara Persaudaraan Alumni (PA) 212 Habib Novel Bamukmin meminta agar kasus dugaan penodaan agama yang melibatkan Sukmawati Soekarnoputri terus diusut.

Di lain sisi, polisi telah menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP-3) atas kasus dugaan penghinaan Pancasila yang menjerat Habib Rizieq Shihab di wilayah yurisdiksi Polda Jawa Barat.

Menurut Novel, tidak ada istilah barter kasus dalam hal ini. Ia pun meyakini penghentian kasus Habib Rizieq adalah murni karena polisi tidak memiliki bukti yang cukup.

Novel pun menyatakan semua pelaporannya terhadap Sukmawati tidak akan ditarik. “Kami tetap akan proses secara hukum,” kata Novel di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (5/4).

Novel berharap dengan banyaknya laporan, polisi segera memproses kasus yang sudah berjalan sekitar sebulan sejak pelaporan pertama ini. Ia juga meminta Sukmawati segera ditetapkan sebagai tersangka. “Cukup pemeriksaan dari 19 orang (pelapor) untuk menaikkan status Sukmawati menjadi tersangka,” ujar dia.

Tahun lalu, Sukmawati melaporkan Habib Riziq dengan sangkaan melanggar Pasal 154 a KUHP tentang Penodaan terhadap Lambang Negara dan Pasal 320 KUHP tentang Pencemaran terhadap Orang yang Sudah Meninggal. Sukmawati menganggap Rizieq menodai lambang dan dasar negara Pancasila serta menghina Soekarno selaku proklamator kemerdekaan Indonesia dan presiden pertama Indonesia terkait ceramah Imam Besar FPI tersebut. Kasus itu lantas di SP-3 oleh kepolisian pada Februari 2018.

Sementara itu, Sukmawati tersandung kasus dugaan penodaan agama akibat pembacaan puisi bertajuk “Ibu Indonesia” yang dibacakannya beberapa lalu. Sejak awal dilaporkan pada awal April 2018, sudah lebih dari 20 laporan masuk terkait kasus tersebut. (rci/red)

Terbaru

Populer