Semesta Riau Viral,… Anak Pengsiunan PJKA, 20 Tahun Di Pasung Dengan Kaki Kanan di...

Viral,… Anak Pengsiunan PJKA, 20 Tahun Di Pasung Dengan Kaki Kanan di Rantai

BERBAGI

ASAHAN, Tribunriau. Akun Facebook atas nama Dian Abk Medan mendadak viral setelah terlihat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) posisi dirantai kaki kanan yang di posting pada 23 Juli 2020, pada pukul 22.36 Wib.

Video yang berdurasi 1:42 menit ini diketahui bernama Juliadi (46) Warga Jalan Merak, Gang Plo, Lingkungan VII, Kelurahan Lestari, Kecamatan Kota Kisaran Timur, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.

Juliadi (46) merupakan anak pertama dari empat bersaudara yang merupakan anak dari Supiandi (71) pensiunan tahun 2007 lalu dari Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) yang sekarang PT KAI (Kereta Api Indonesia).

Informasi yang dihimpun, Juliadi (46) sudah 20 tahun dipasung dalam rumah dengan kaki kanan dirantai, sebab selalu membuat keributan dengan memukul dan mengejar orang yang melintas (lewat) dari depannya.

“Memang sudah lama bang dipasung, suka memukul dan mengejar warga yang melintas sehingga meresahkan”, ujar Imam selaku Kepling setempat.

Sementara Supiandi (71) Orang tua dari penderita gangguan jiwa ini saat dikonfirmasi wartawan pada hari Selasa (04/08/2020), sekitar pukul 11.30 Wib, membenarkan, bahwa Juliadi dari duduk dibangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau setingkat Sekolah Menegah Pertama (SMP) sudah belajar sipat sipat 20, padahal Juliadi tergolong anak yang pintar, salah satunya juara azan dan mengaji tingkat Desa pada saat itu.

“Usia masih duduk dibangku MTs, anak saya ini sudah belajar sipat 20, dari situlah mulai gejalanya, mulai suka jalan sendiri, ngak mau berteman, dan dikamar dengan terkunci melakukan ritual ritual. Saya larang dan sampai dimarahi pun anak saya ini tidak mau mendengar nasehat dari saya. Dulunya anak saya ini juara azan dan mengaji”, ucap Supiandi.

Saat ditanya lamanya dipasung, dan apakah pernah dibawa berobat, Supiandi membenarkan, bahwa anaknya sudah 20 tahun dipasung dalam rumah papan daerah pinggiran rel kereta api.

“Kita sudah pernah membawa berobat di kisaran ini dan sampai ke Medan, namun dengan keterbatasan ekonomi, apa lagi saya sudah pensiun dari tahun 2007 mana ada lagi uang buat beli obat anak saya ini, bantuan apapun saya tidak ada menerima dari pemerintah”, ujar Supiandi

Supiandi berharap kepada Pemerintah Kabupaten Asahan mau memperhatikan orang orang yang susah dan membantu meringankan beban warganya.

“Saya mengharap pemerintah mau membantu meringankan beban ekonomi dan menolong anak kami ini dari penyakit gangguan jiwa supaya dapat bermasyarakat”, ungkap Supiandi dengan mata bekaca kaca. (tec)