Opini TNI Mengabdi untuk Rakyat dan Bangsa

TNI Mengabdi untuk Rakyat dan Bangsa

12
BERBAGI

PERJALANAN dan perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sama panjangnya dengan perjuangan yang ditempuh oleh republik ini. TNI menjadi saksi sekaligus pelaku yang merasakan bagaimana sulitnya mendirikan Republik Indonesia (RI) sebagai wadah bagi bangsa Indonesia yang merdeka dan berdaulat, sejajar dengan bangsa/negara lainnya di dunia.

Slogan dan ungkapan “TNI Kuat Bersama Rakyat” atau “TNI Dekat dengan Rakyat” memang bukanlah kalimat atau kata-kata kosong. Sejak awal kelahirannya, sejarah mencatat kebenaran slogan eratnya hubungan TNI dengan rakyat tersebut. Dalam hal ini, Panglima Soedirman pernah berseru: “Kita adalah Tentara Pejuang yang berasal dari rakyat dan berjuang untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka jangan sekali-kali kalian melukai hati rakyat yang membesarkan kita”. Suatu seruan yang hendaknya didengar sebagai amanah dan nasihat yang harus diterapkan oleh setiap prajurti TNI dari mana pun ia berasal.

Dalam perjalannya, TNI memiliki tempat dan dinamika tersendiri dalam sejarah bangsa ini. Dari peran TNI dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, persatuan dan keselamatan bangsa, TNI yang pernah terjun ke dalam arus politik Indonesia, sehingga TNI memiliki kekuatan sosial-politik, bahkan ekonomi (bisnis) yang kuat, hingga saat gelombang reformasi datang sejak 19 tahun lalu, TNI dituntut untuk menjadi prajurit yang profesional, bebas dari tekanan apa pun, dan tidak menekan siapa pun dalam kaitannya dengan (kepentingan) politik. Seiring bergulirnya roda reformasi, TNI pun dituntut untuk mereformasi dirinya.

Mengabdi kepada Negeri (Rakyat)
TNI pun membuktikan bahwa ia adalah tentara pejuang yang tangguh, ksatria dan profesional. Dengan dasar mengabdi untuk negeri dan rakyat yang ada di dalamnya, TNI pun secara ksatria mau dan mampu untuk mengubah dirinya sesuai dengan tuntutan reformasi dan demokrasi. Hasilnya, seperti yang diakui oleh banyak pihak, TNI adalah lembaga yang sangat berhasil dalam menjalankan reformasi.

Meski celah untuk kritik masih terbuka, namun secara objektif harus diakui bahwa secara kelembagaan, TNI kita telah membuktikan diri bahwa ia adalah tentara pejuang yang benar-benar mendahulukan kepentingan bangsa dan negara, serta mengesampingkan ego dan kepentingan pribadi.

Bersandar pada landasan hukum: TAP MPR Nomor VII/MPR/2000 yang Pasal 5 ayat (2) berbunyi: “Tentara Nasional Indonesia bersikap netral dalam kehidupan politik dan tidak melibatkan diri pada kegiatan politik praktis”.

Dengan kata lain, TNI di era reformasi ini diwajibkan untuk bersikap netral secara politik, tidak memihak dan tidak terpengaruh oleh golongan dan kepentingan politik mana pun. TNI era reformasi tidak boleh dijadikan alat untuk kepentingan atau kekuasaan tertentu. TNI aktif pun tidak diperkenankan untuk menjadi simpatisan atau mendukung pihak-pihak tertentu, terutama saat pemilu (legislatif), pilpres atau pilkada.

Masyarakat Indonesia yang pernah merasakan dinamika politik pada era presiden Soekarno dan Soeharto pasti paham dan masih ingat bagaimana hebatnya kekuatan TNI bila memasuki dunia politik. Tuntutan reformasi TNI dalam bidang politik ini pun tentu dimaksudkan untuk menjaga agar demokrasi tetap sehat, berjalan dengan objektif dan seimbang, serta TNI yang merupakan tangan negara yang begitu kuat, tidak digunakan serampangan oleh segelintir orang yang memiliki kepentingan sempit dan sesaat untuk mewujudkan nafsu kuasanya.

Biarlah kekuatan TNI yang begitu kuat itu saling menguatkan dengan rakyat untuk menjaga demokrasi agar tidak tercederai, dan menjaga kepentingan bangsa agar tidak dikotori atau disalahgunakan oleh siapa pun dan pihak mana pun.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, pilar utama TNI adalah rakyat. Artinya, berkat rakyat itulah TNI berdiri, dan TNI berdiri bersama dan untuk rakyat. Jangan sampai politik dan kepentingan segelintir pihak itu mengkhianati hubungan erat antara TNI dan rakyat. Semangat inilah yang harus diingat oleh segenap prajurit TNI dari daerah mana pun, angakatan apa pun dan dari kesatuan mana pun.

Prajurit TNI jangan mau dijadikan prajurit politik oleh elite-elite politik untuk menjadi serdadu bayaran demi memuluskan dan mengamankan kepentingan elite tersebut. Jangan sampai ada oknum yang bersedia menukar kepentingan sempit dan sesaat itu dengan martabat dan semangat ksatria TNI.

Di zaman apa pun, sejak zaman revolusi fisik hingga zaman “revolusi mental” seperti saat ini, TNI diharapkan tetap mengabdi demi kepentingan negeri: Bangsa dan negara Indonesia, serta rakyat yang ada di dalamnya. Kita tentu bangga dan kagum dengan TNI kita saat ini yang semakin profesional, tangguh, tetap menjadi tentara pejuang dan dekat dengan rakyat. Kita juga bangga dengan prestasi TNI yang telah diakui oleh dunia internasional. Bahkan diakui tertangguh di ASEAN dan disegani di kawasan Asia.

TNI memang dapat kita andalkan dan banggakan. Benar memang, TNI makin kuat dan dekat dengan rakyat! Dirgahayu TNI, semoga makin jaya!***