Pendidikan Belasan Siswa SMPN 2 Desa Titi Akar Rupat Tidak Naik Kelas

Belasan Siswa SMPN 2 Desa Titi Akar Rupat Tidak Naik Kelas

BERBAGI

RUPAT UTARA, Tribunriau- Sebanyak 12 orang siswa SMPN 2 Desa Titi Akar Kecamatan Rupat Utara Kabupaten Bengkalis tidak naik kelas.

“Belasan siswa tersebut tidak naik dari kelas 7 ke kelas 8, sebagian lagi dari kelas 8 ke kelas 9,” kata salah seorang wali murid Edi Susanto beberapa hari yang lalu.

Dijelaskan Edi, anaknya tidak naik kelas dari kelas 8 ke kelas 9, ia pun mendengar alasan dari para guru bahwa anaknya sering bolos.

“Awalnya, kata gurunya anak saya sering cabut (bolos,red) dari sekolah, kami dari pihak orang tua sangat kecewa dengan pihak guru,” kata Edi.

“Sudah 2 tahun anak saya kelas 8 seharusnya tahun ini kelas 9, sangat disayangkan, kalau bisa kami minta dinaikkanlah ke kelas 9, walaupun dalam masa percobaan, kami terima,” harapnya.

Dikatakan juga oleh Edi, guru mengatakan bahwa anaknya sangat bandel, namun karena tak naik kelas ini, anaknya kini malah enggan ke sekolah

“Kata guru anak itu bandel, sering cabut itulah penjelasan gurunya, saat saya tau anak saya tidak naik kelas, saya merasa kecewa, bahkan sampai hari ini anak kami tidak mau masuk sekolah karena anak kami malu tidak naik kelas,” paparnya.

“Harapan kami kepada pihak sekolah biarlah anak kami naik kelas walaupun dalam percobaan, kasihan anak kami masa depannya hancur, nanti akan kami perhatikan jika dinaikkan kelas 9 dan berjanji jika anak kami bandel lagi, kami siap anak kami dikeluarkan dari sekolah dan membuat perjanjian,” ungkap Edi Susanto.

Senada dengan Edi, salah seorang wali murid kelas 8, Amet juga kaget ketika mengetahui anaknya tidak naik kelas.

“Saya terkejut mendengar anak saya tidak naik ke kelas 9, sebagai orang tua tentu kecewa pada gurunya yang tidak memikirkan secara matang dalam membuat keputusan,” ujar Amet.

Selain itu, lanjut Amet, dirinya tak pernah diundang rapat (dipanggil ke sekolah) atau menerima surat undangan dari guru kelas, tiba-tiba anak tidak naik kelas.

“Yang saya tau anak saya dari rumah terus pergi sekolah, kiranya guru memberikan surat panggilan kepada saya, tapi tidak pernah saya terima,” keluhnya.

Jika anak itu bandel, kata Amet, seharusnya guru kelas dan ketua komite kan bisa datang ke rumah kami, sampaikan tingkah laku anak kami itu, yang kami sayangkan ini harapan kami berpikirlah guru kelas, coba pikir matang-matang dulu, walaupun anak kami naik dalam percobaan kami menerima,” ungkap Amet.

Selain itu, Wali murid lainnya, Ramli berharap kepada pihak sekolah agar memberikan solusi, terlebih di masa pandemi covid19 ini.

“Anak kami sudah lama tidak masuk sekolah, malu karna tidak naik kelas,” katanya.

“Kami sangat berharap kepada kepala sekolah, kepada guru kelas, dinaikanlah anak kami ini walaupun percobaan, kami siap membuat perjanjian antara guru dengan wali murid,” ungkap Ramli.

Sementara itu, Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 2 Desa Titi Akar belum berhasil dikonfirmasi, saat awak media ini ke rumah Kepsek pada Senin 6/8 lalu, informasi yang didapatkan dari istrinya bahwa beliau sedang tidak di rumah dan juga tidak tau kemana perginya.

Pada esoknya, Selasa (07/08/2020), awak media ini langsung menuju ke SMPN 02 Titi Akar, salah seorang guru, Agung SG ketika ditanya tentang keberadaan Kepsek, ia menjawab bahwa pak kepsek sedang ke Tanjung Medang.

“Kepala sekolah tidak ada, pergi ke Tanjung Medang,” ujarnya.

Terkait nasib ke12 anak yang tinggal kelas tersebut, Agung mengatakan tidak ada niat guru “meninggalkan” anak.

“Tetapi ada dinamikanya pada pelaksana sehariannya itu, ada aturan-aturan di sekolah yang mungkin mengenakan. Terlebih aturan di sekolah misalnya kehadiran pagi datang jam 8, jam 11 sudah tidak ada lagi, terus seperti itu,” katanya.

Dijelaskan Agung, kalau untuk pemahaman belajar, pengetahuan itu bisa dipelajari selama anak itu ada di sekolah, bagaimana kalau anak itu tidak ada?.

“Kalau anak itu ada, kita sebagai guru empati kok, punya perasaan, punya pemikiran cinta kasih, bahwa anak itu punya niatan untuk belajar, buktinya hadir tiap hari, pada kenyataannya titik poin seperti itu kehadirannya,” jelasnya.

Agung juga menuturkan langkah-langkah pihaknya sudah dilakukan, pendekatannya banyak, mulai dari menasehati, memberi arahan bagaimana menjadi siswa yang baik, itu sudah dilakukan bahkan pemanggilan orang tua sudah, tapi kenyataannya beberapa orang tua yang tidak hadir ke sekolah.

“Undangan tersebut dari 12 orang ini saya kira menurut pandangan kami keberatan juga, buktinya dari 12 orang itu sudah ada yang masuk saat ini mengikuti pembelajaran lagi.
Bahkan meminta tugas-tugas dalam masalah covid ini,” ujarnya.

“Kami memang dalam masalah covid ini tidak boleh tatap muka, soal keputusan, nanti saya sampaikan kepada kepala sekolah,” ungkap Agung.

Sementara itu, Dinas Pendidikan Rupat Utara, Sawalia, SPd Korwil Kecamatan Rupat Utara ketika dihubungi via selular mengatakan bahwa keputusan berada di sekolah.

“Permasalahan anak itu sebelum covid ini, keputusannya tetap di sekolah, mereka sudah pernah rapat, bahkan sudah sampai ke Dinas Pendidikan Bengkalis,” singkat Sawalia.

Penulis: Johanes Simangunsong
Editor: Redaksi