Sosbud Sosok TGB di Kancah Perpoltikan, Ini Kata Aa Gym

Sosok TGB di Kancah Perpoltikan, Ini Kata Aa Gym

542
BERBAGI

JAKARTA,Tribunriau- KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) kian akrab dengan Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi. Pada Ahad, 1 April 2018, bersama Ustaz Abdul Somad, mereka tampil bersama mengisi kajian di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Bandung.

Kemunculan TGB di muka publik di luar NTB selalu menjadi perhatian. Ini lantaran namanya menjadi salah satu yang diunggulkan maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2019. Nama TGB selalu muncul dalam beberapa survei tentang elektabilitas capres dan cawapres 2019.

Lalu, adakah hubungan kebersamaan Aa Gym dengan TGB akhir-akhir ini terkait Pilpres 2019?

Dalam sesi wawancara khusus dengan detikcom pada Minggu, 8 April 2018, Aa Gym menjelaskan kedekatannya dengan TGB.

“Saya mah senang saja melihat orang baik, orang pintar, lebih tinggi ilmunya dari saya. Ya saya senanglah berguru kepada TGB, Ustaz Somad, Ustaz Adi Hidayat,” kata dia.

Aa Gym mengaku tak sedang berusaha mendongkrak popularitas TGB meski akhir-akhir ini sering mengajaknya mengisi kajian bersama. Menurut dia, soal popularitas sudah diatur oleh Tuhan sehingga tak perlu direkayasa. Selama bertemu ataupun mengisi kajian bersama, mereka juga tak membahas pilpres.

“Sudah kenal lama, kami sobatan saja,” kata Aa Gym.

Menurut Aa Gym, TGB adalah sosok yang berilmu dan akidahnya jelas dengan kemampuan memimpin teruji serta adil. Memang tak mungkin sempurna, tapi sejauh ini, dia mengaku respek terhadap apa yang dilakukan TGB.

“Hadirnya beliau (TGB) di kancah perpolitikan harus disyukuri,” tutur Aa Gym.

Sebelumnya, saat mengisi kajian bersama di Masjid Rahmatan Lil’Alamanin, Eco Pesantren Daarut Tauhiid, Kabupaten Bandung Barat, di depan ribuan jemaah, Aa Gym memberikan pertanyaan kepada TGB. “Bagaimana menjadi pemimpin yang adil, Ustaz?” tanya Aa Gym kepada TGB.

TGB pun menjawab bahwa satu hal yang paling utama untuk menjadi pemimpin yang adil adalah harus bisa menghilangkan kepentingan pribadi. Sebab, bila dalam kepemimpinan masih mementingkan kemauan atau keuntungan pribadi, sampai kapan pun sulit bersikap adil.

“Salah satu prinsip yang hadir ada, termasuk dalam memimpin itu keadilan. Menurut saya, paling penting (agar bersikap adil) membuang kemampuan pribadi,” kata TGB. (dtc/red)