Nasional Ribut Soal Anggaran Lem Aibon di DKI Jakarta, Ini Faktanya

Ribut Soal Anggaran Lem Aibon di DKI Jakarta, Ini Faktanya

BERBAGI
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Tribunriau- Fakta mengejutkan datang dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan yang menyebut sudah mengetahui kisruh anggaran Lem Aibon sebelum Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PSI, William Aditya Sarana mengunggah di laman Twitternya.

Lebih lanjut, Anies mengatakan bahwa dirinya tak ingin mempublikasikannya ke media sosial, dan bahkan Anies sudah memanggil pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk mereview kembali.

“Sebelum mereka (PSI) ngomong, saya sudah ngomong, saya sudah bicara, kita review. Bedanya saya tidak manggung. Bagi orang-orang baru manggung ini adalah kesempatan beratraksi,” kata Anies di Balai Kota DKI, Jakarta, Rabu (30/10) dilansir Kumparan.

Dilanjutkan Anies, dirinya berbeda sikap dengan anggota Fraksi PSI tersebut, ia berupaya memperbaiki sistem, bukan mencari perhatian dengan memanfaatkan kesalahan-kesalahan orang.

“Lho, kalau saya itu bukan, saya memperbaiki sistem, bukan mencari perhatian, ini ada 3 pilihan, menyelesaikan masalah, atau memperumit masalah, atau mengaktualisasi diri,” ujarnya.

Terkait anggaran yang dinilai tak lazim, Anies sendiri menyebut telah memanggil pihak terkait dan mengkoreksinya. Sehingga publik tak perlu khawatir.

“Saya bicara untuk menyelesaikan masalah, saya panggil, saya koreksi satu-satu, Anda lihat tuh forum itu, cuma bedanya saya tidak umumkan,” ucap Anies.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan DKI Syaefuloh memastikan tidak ada anggaran untuk lem Aibon sebesar Rp 82,8 miliar. Meski begitu, dia mengatakan tak ada salah input di dalamnya.

“Kalau terkait dengan anggaran Aibon, saya sudah coba sisir, Insyaallah tidak ada anggaran Aibon sebesar Rp 82,8 miliar tersebut,” ujar Syaifullah di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (30/10) dilansir Kumparan.

Syaifullah juga mengatakan tidak ada kesalahan input di dalam website APBD DKI Jakarta. Hanya saja, ia mengatakan anggaran yang tampil dalam e-budgeting itu sifatnya masih sementara dan masih akan terus diperbaiki.

“Bukan salah input, tetapi memang yang ada di dalam komponen e-budgeting adalah komponen sementara yang akan kita sesuaikan berdasarkan hasil input komponen dari masing-masing sekolah,” jelasnya.

“Ini perlu waktu karena melibatkan begitu banyak sekolah, 2.100 sekolah, dan kita betul-betul hati-hati atas komponen-komponen itu. Tidak serta merta sekolah menyusun, kemudian kita masukkan ke dalam sistem e-budgeting,” lanjutnya. (red)