Nasional Mengenang Mujeum Alias Sekoyan, Pahlawan Suku Asli dari Desa Kudap Kabupaten Meranti

Mengenang Mujeum Alias Sekoyan, Pahlawan Suku Asli dari Desa Kudap Kabupaten Meranti

BERBAGI

KUDAP, Tribunriau- Lahir pada tahun 1930an, Mujeum alias Sekoyan dikenal masyarakat sebagai pahlawan yang gagah berani mengusir Penjajahan Belanda kala itu, Namanya diabadikan di Jalan Sekoyan RT 15 RW 02 Kudap Kecamatan Tasik Putri Puyu Kabupaten Meranti.

Sekoyan, gelar yang didapatkan Mujeum itu berasal dari penamaan tentara Belanda yang berarti memiliki kekuatan yang luar biasa, yaitu satu koyan sama dengan beban berat 250kg.

Ketika masyarakat Kudap dipaksa bekerja tanpa imbalan oleh Penjajah, Mujeum alias Sekoyan mengajak rekan-rekannya untuk ‘memberontak’ dan menyatukan kekuatan.

Salah satu history yang paling menarik dari Sekoyan adalah pertarungannya dengan Tongbinsalam yang sama-sama memiliki ilmu kebatinan.

Tongbinsalam adalah mata-mata dari Penjajah, juga orang yang ditugaskan penjajah untuk mengutip upeti dari masyarakat.

Pertarungan antara Sekoyan dan Tongbinsalam itu terjadi di Desa Kudap, pertarungan yang luar biasa itupun disaksikan oleh rekan mereka masing-masing.

Diawali dengan pertarungan tanpa senjata, Tongbinsalam beberapa kali terjungkal, merasa akan kalah, Tongbinsalam akhirnya mengambil serta menggunakan senjata parang untuk membalas Sekoyan.

Tak lama Tongbinsalam mengayunkan parangnya, Sekoyan juga mengambil tombak untuk mengimbangi pertarungan.

Tak lama menggunakan senjata, Sekoyan berhasil menancapkan tombaknya di dada Tongbinsalam, darah pun akhirnya membasahi sekujur tubuhnya.

Mendapat kabar kalau tukang pukulnya sudah tewas, maka keesokan harinya datang satu kompi pasukan tentara Belanda mengepung Desa Pereban hendak menangkap Koyan sehingga terjadi lagi pertempuran antara Koyan dengan tentara Belanda, akhirnya beberapa orang tentara tewas di tangan Koyan dan rekan-rekannya.

Melihat situasi yang sudah gawat, maka Belanda mengirim pasukan tambahan dibawah Komando Marsose Weo Jango, kembali pertempuran sengit diantara kedua belah pihak, namun naas bagi pasukan Belanda, Marsose Weo Jango serta anak buahnya berhasil ditaklukkan oleh Koyan CS.

Mendengar kabar kalau Komandan kompi juga tewas, membuat Belanda semakin gusar, komandan tentara Belanda lalu mengirim pasukan elitnya dengan jumlah yang lebih banyak lagi dengan senjata lengkap menuju Desa Pereban.

Mendapat kabar bahwa akan didatangi oleh pasukan dengan jumlah yang banyak, Koyan dan rekan-rekannya mengungsi ke Batu Pahat, Johor, Malaysia.

Setibanya di Malaysia, raja di Malaysia mendapat kabar kalau Sekoyan berada di negerinya dan memerintahkan pasukannya mencari keberadaan Koyan.

Akhirnya Koyan dijemput dan dibawa ke Istana serta ditawarkan menjadi Panglima di kerajaan Malaysia, namun Sekoyan tetap menolak. Lalu Raja Malaysia meminta pemerintah Indonesia menjemput Koyan untuk dibawa pulang, akhirnya koyan menyerahkan diri dan ditangkap, dia dipenjara di Selat Panjang, Riau.

Kemudian dibuang ke Ambarawa yang saat ini bernama Nusakambangan, beberapa tahun menjalankan hukuman akhirnya bebas pulang ke Desa Kelahirannya, Desa Pereban menjalani sisa umurnya. Koyan tutup usia pada tanggal 12 April 1986.

Penulis: Johanes Mangunsong