Opini Jungkir Balik Bisnis Barbershop di Masa Pandemi

Jungkir Balik Bisnis Barbershop di Masa Pandemi

BERBAGI

Oleh: Dicky Mardiansyah

Pandemi Covid-19 sampai saat ini belum usai. Hal ini berpengaruh terhadap semua sektor kehidupan termasuk perekonomian di Indonesia terutama yang paling berdampak adalah UMKM.

UMKM buat saya seperti pemuda pemudi pejuang, UMKM mati satu, tumbuh seribu. Mereka tetap hidup walau digempur oleh Corona Virus. Mereka berjuang hingga titik darah penghabisan.

Pandemi Covid-19 menghajar semua lini kehidupan kita hari ini. Tanpa terkecuali. Semua orang dalam bidang apapun menghadapi situasi yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan sama sekali. Sekali lagi, sama sekali.

Kita bertaruh di hadapan pilihan yang tidak bisa dicomot satu dan mengesampingkan yang lain, isi perut dan kesehatan badan. Di satu sisi, kesehatan adalah kebutuhan yang tak bisa dikesampingkan. Kalau badan tidak
sehat, tidak ada yang bisa dilakukan. Maka wajib bagi kita untuk tetap sehat dan, lebih-lebih pada hari ini, yang harus kita patuhi adalah protokol kesehatan.

Akan tetapi, untuk tetap sehat, badan juga butuh asupan. Dari mana asupan sehat bisa
diperoleh? Jelas dari makanan. Lalu dari mana makanan diperoleh? Dibeli pakai uang. Dari mana uang diperoleh? Dari bekerja. Tidak bekerja, tidak dapat uang. Tidak punya uang, tidak bisa beli makan. Tanpa makanan, tiada asupan. Badan tanpa asupan, nutrisi tubuh berkurang. Tubuh yang tak tercukupi gizinya rentan terserang penyakit. Simalakama semacam ini yang sedang dihadapi pengusaha.

Menutup usaha artinya akan ada banyak pekerja yang kehilangan sumber penghasilannya. Terus menjalankan usaha, belum keruan jelas untungnya. Mengibarkan bendera putih memang begitu mudah dilakukan.

Tetapi, selalu ingat bahwasanya mental lemah begini bukanlah mental seorang pengusaha sejati. Seorang pengusaha sejati adalah mereka yang siap benar menghadapi segala kemungkinan di depan. Termasuk situasi yang bagi orang lain adalah jalan buntu, mereka selalu bisa melihat ada celahnya.

Pengusaha sejati bukanlah jenis orang yang bisanya cuma tahu untung berapa, tetapi tidak mau mencarikan solusi ketika ada masalah di depan mata. Sobat.. situasi pandemi ini memang susah, tapi jangan menyerah.

Usaha barbershop saya bukan tidak terguncang dalam situasi pandemi ini. Seperti yang sudah saya katakan tadi, pandemi ini benar-benar tidak pandang bulu, semua sektor usaha dihajar sampai babak belur. Termasuk usaha pangkas rambut milik saya di Dumai. Virus yang tak kasat mata ini membuat pelanggan tidak berani keluar rumah, apalagi untuk memotong rambutnya.

Pada masa-masa awal pandemi, hampir setiap hari para pekerja saya hanya datang ke kios dan tidak melakukan apa-apa. Tidak ada pelanggan yang datang artinya tidak ada pemasukan. Kas perusahaan bukan lagi terguncang, tapi jika diibaratkan kapal, rasa-rasa hampir karam. Kapal kami mulai bocor.

Terlalu lama berdiam dan semata-mata pasrah pada keadaan hanya memperburuk situasi dan membuat kapal kami lebih cepat karam.

Mumpung baru setakat hampir, artinya masih ada usaha lain yang bisa dilakukan untuk mencegah kapal tenggelam ke dasar lautan. Tidak bisa tidak, kami harus berbenah.

Saya harus meyakinkan pekerja saya bahwa masa sulit ini bukan kiamat. Saya katakan pada mereka, “Kalau kita bersama-sama, kita pasti bisa melewati situasi sulit ini. Kalau semangat kita sama, kita pasti mampu bertahan menghadapi keadaan rumit ini. Sekali kita bisa melewatinya dengan selamat, tidak ada lagi hal yang perlu kita takuti.”

Berbenah, bagi saya, bukan dimulai dari fasilitas maupun sarana-prasarana, melainkan dimulai lebih dulu dari manusianya – para pekerja saya. Mereka adalah aset utama yang menggerakkan roda usaha ini. Apa gunanya fasilitas serba canggih kalau hanya dikerjakan manusia-manusia tanpa semangat? Kalau modelnya seperti itu, hanya tunggu waktu kehancuran akan tiba.

Lantas, saya dan tim duduk sama rendah. Berbagi keluh-kesah. Bergandengan tangan. Saling menguatkan. Tujuannya untuk menyamakan visi dan semangat. Dari sini, kemudian kami bisa melihat lebih jernih situasi yang sedang terjadi; tantangannya sekaligus solusinya.

Tantangan dari pandemi di sektor usaha kami adalah meyakinkan orang bahwasanya memangkas rambut di tempat kami aman. Setidaknya, kami mengusahakan banyak hal untuk meyakinkan orang-orang.

Situasi duduk antar pelanggan diperlebar, direnggangkan, diberi jarak. Setiap alat pangkas selalu steril sebelum dan sesudah digunakan. Para pekerja yang bertugas pun wajib memakai masker dan faceshield. Kami pun turut menyediakan masker bagi pelanggan yang datang. Di luar kios, dilengkapi pula dengan tempat cuci tangan. Singkat kata, protokol kesehatan benar-benar menjadi pedoman dan acuan kami guna meyakinkan pelanggan.

Promosi maupun potongan harga maupun bonus – bonus juga diberikan guna memberikan pengalaman tambahan buat pelanggan. Selain itu, lewat media sosial, kami juga menyampaikan edukasi perihal tata cara aman memangkas rambut dalam situasi pandemi. Dari sini, situasi yang semula serba gelap dan tak menentu mulai terlihat titik terangnya.

Kapal yang sebelumnya rasa-rasa hendak karam mulai bisa ditambal lubangnya satu persatu. Neraca keuangan yang pada awal-awal pandemi begitu menggemaskan, kini mulai membaik walau memang secara kesuluruhan belum stabil sebelum pandemi, setidaknya mulai menunjukkan
optimisme.

Kalau ditanyakan kepada saya, apakah situasi pandemi ini berat dan susah bagi pengusaha, jawaban saya tidak berubah: “Ya, memang berat dan susah.” Tetapi, menyerah bukanlah opsi yang tersedia dalam kamus kerja seorang pengusaha sejati. Setidaknya, itulah yang saya yakini. Karena tidak mungkin Tuhan menimpakan suatu kondisi yang tidak mampu dilewati hambaNya. Karena itu, dengan berpikir dan bertindak tepat, selalu ada solusi. Selalu.*

Penulis adalah Seorang Pengusaha Muda. Salah satu usahanya Barbershop dengan nama D’Barbershop yang buka di Kota Dumai dan Tanjungpinang. Selain itu, kini ia menjabat sebagai Komisaris PT ADIFA Samudera Dumai. Ia juga aktif di beragam Organisasi Kepemudaan dan baru-baru ini selesai mengikuti Diklat Lemhanas RI.