Opini Jangan Berdiam Diri, Dumai

Jangan Berdiam Diri, Dumai

BERBAGI

Oleh: Dicky Mardiansyah

Masih pandemi, kan? Iya, sama. Memang belum sirna situasi tak menyenangkan ini dari kehidupan kita sehari-hari. Makanya, kita harus masih patuh pada protokol kesehatan; pakai masker ketika keluar rumah, jaga jarak ketika berada di keramaian, dan lebih sering cuci tangan.

Memang belum ada pilihan lain.
Akan tetapi, rasa-rasanya bukan lantas demikian kita boleh berpangku tangan dan tidak melakukan apa-apa. Kita harus punya optimisme bahwa pandemi ini cepat atau lambat akan berakhir. Dan untuk menyongsong hari berbahagia yang sama-sama kita tunggu itu, ada baiknya mulai dipersiapkan sejak dini, sejak hari ini. Sudah menjadi hukum alam bahwa setelah pemberhentian akan terjadi kelanjutan.

Itu siklus kehidupan. Diakui atau tidak, pandemi ini memang memberhentikan banyak pekerjaan kita di depan, tapi bukan lantas boleh terlupakan. Jikalau pandemi ini sudah usai, pekerjaan-pekerjaan yang tertunda itu siap dilanjutkan, maka dari itu memang tidak boleh sekalipun dilupakan.

Hanya saja kalau memulai segalanya menunggu pandemi usai, kita akan tertinggal oleh pesaing yang, justru dalam pandemi ini, sudah mempersiapkan segalanya untuk nanti saat pandemi usai.

Masa saat pandemi usai boleh disebut sebagai titik-balik. Istilah kerennya rebound. Dan ini menyangkut semua lini kehidupan kita. Mulai dari ekonomi, sosial, hingga budaya. Momentum rebound itu tentu tidak boleh disambut dengan tangan kosong. Ketinggalan nanti. Sebaik-baiknya momentum itu adalah yang dijemput dengan kesiapan.

Dan Dumai perlu mempersiapkan diri, bersolek, berpacu menyambut rebound itu.
Pertanyaan paling besarnya: Mulai dari mana? Dimulai dengan apa?

Sebenarnya jawaban dari pertanyaan di atas sudah pernah diurai oleh pakarnya. Lebih dari setahun lalu, Prof. Rokhmin Damhuri sudah mewanti-wanti apa-apa yang perlu dilakukan Dumai untuk menjadi kota yang lebih maju.

Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan itu, dalam pertemuan dengan wali kota Dumai pada Oktober lalu, menilai daya tarik kota Dumai relatif rendah, kesiapan ekosistem industri 4.0 rendah, keterbatasan APBD dan akses permodalan, iklim investasi dan kemudahan berbisnis kurang kondusif serta tantangan kualitas SDM.

Padahal, masih kata Prof. Rokhmin, Dumai punya potensi besar untuk memainkan peran utama di Riau. Terlebih di bidang industri perikanan, kelautan, perdagangan, dan juga pariwisata.

Ini bukan anggapan tanpa dasar. Dumai ini, sebagaimana yang kita tahu, berada pada posisi strategis di jalur pelayaran internasional Selat Malaka. Jalur ini pula yang menghubungkan Indonesia dengan segitiga pertumbuhan internasional Indonesia dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Itu berkah alam. Tidak semua daerah di Indonesia punya keuntungan letak geografis seperti Dumai. Maka, amat merugi jikalau anugerah sebesar ini lantas tidak memberi apa-apa kepada Dumai, tidak menyejahterakan warganya, tidak menambah pendapatan daerahnya.

Beruntung, Prof. Rokhmin dalam kesempatan yang singkat itu sudah memberikan kisi-kisi pertama yang bisa dilakukan kendati dalam situasi pandemi

Dumai perlu meningkatkan daya tariknya.
Jika Dumai diibaratkan seorang gadis berusia matang, perlulah rajin bersolek. Perlu lebih telaten merawat rambutnya. Memakai riasan wajah yang pantas. Mengenakan pakaian yang sedap dipandang.

Beradab dalam tindak laku. Bersantun dalam tutur kata. Niscaya akan ada banyak pemuda yang lantas menoleh dan terpikat padanya. Sebab wajah indah yang tak dirawat dengan baik itu belumlah cukup untuk disukai siapa saja.

Perlu ada kerja bersolek sebagai upaya membuat diri terlihat menarik. Pun dalam hal ini Dumai. Sudah sejauh mana ia bersolek untuk memancing berdatangannya banyak investasi dalam dan luar negeri.

Balik lagi ke perkara rebound tadi. Saat situasi sudah kembali normal seperti sediakala, setiap orang harus dibuat menoleh ke Dumai. Karena itu, seperti yang sudah saya sampaikan tadi, kita perlu bersiap sejak hari ini, sekalipun dalam situasi pandemi.

Bisa dimulai lewat sederet inovasi, misalnya, dengan memperbaiki setiap fasilitas sarana dan prasarana penunjang investasi atau pembangunan sumber daya manusianya lewat pelatihan-pelatihan atau menerbitkan regulasi-regulasi yang mempermudah proses investasi.

Kerja-kerja ini juga selaras dengan arah pembangunan kota Dumai, sebagaimana tertuang dalam dokumen kerjanya tahun ini, yang ingin mempersiapkan kota Dumai sebagai kota industri dan perdagangan jasa kota pelabuhan.

Ini jelas arah pembangunan yang besar dan karenanya perlu waktu dan tenaga yang sama besarnya. Jika tidak dicicil lewat inovasi-inovasi yang bisa dilakukan sekalipun dalam keterbatasan pandemi, artinya ada sekian waktu yang terbuang begitu saja. Sementara daerah lain yang terhubung dalam segitiga pertumbuhan internasional terus bersolek untuk menyambut masa rebound, kita tentu tidak boleh berdiam saja.

Jangan sampai Dumai yang dilalui jalur perlintasan perdagangan internasional dan masuk dalam wilayah prioritas pengembangan industri di Sumatra Bagian Utara, tetapi warganya cuma jadi penontonnya saja dan tidak menjadi tuan di tanah sendiri karena terlalu banyak membuang waktu untuk bersolek dan berinovasi.

Dicky Mardiansyah adalah seorang pengusaha muda. Salah satu usahanya adalah D’Barbershop yang beroperasi di Tanjungpinang dan Dumai. Selain itu, dia juga menjabat sebagai Komisaris PT ADIFA Samudera Dumai. Ia juga aktif di beragam organisasi kepemudaan dan baru saja selesai mengikuti Diklat Lemhanas RI. Walau kini sedang bermukim di Tanjungpinang, Kep. Riau, ia masih punya perhatian dan tekad untuk berpartisipasi terhadap pembangunan ekonomi di Dumai, kota masa kecilnya.