TELUKKUANTAN, Tribun Riau- Dua tahun belakangan ini hasil Ujian Nasional (UN) tingkat SMP tidak menggembirakan. Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) berada pada posisi paling buncit se Provinsi Riau. Buruknya prestasi tersebut, Bupati Mursini pun diminta melakukan evaluasi terhadap dunia pendidikan ini.
Banyak faktor yang membuatnya prestasi ini anjlok. Kurang perhatiannya dinas terkait atau anggaran yang relatif minim. Selain itu kekurangan guru juga menjadi perhatian pemerintahan setempat.
Terkait anggaran, salahseorang anggota DPRD Kuansing, Musliadi membantah masalah minimnya anggaran untuk pendidikan ini. Kata Musliadi, perhatian mereka terhadap pendidikan selalu berlebih. “Kita mengalokasikan anggaran yang memadai untuk pendidikan. Kami sudah menganggarkan melebihi ketentuan yang ditetapkan oleh Undang-undang,” ujar Musliadi saat berbincang dengan Tribunriau.com via telepon, Sabtu (26/5/18).
Sementara itu, kekurangan guru bukan juga jadi persoalan, kata Musliadi, “Kita tidak kekuarangan guru kok. Yang PNS ya, hanya saja guru-guru itu menumpuk disuatu tempat. Penyebarannya tidak merata.,” tuturnya.
Persoalan yang terjadi sekarang adalah soal keberanian seorang kepala daerah untuk men-presure orang-orang yang membidangi masalah pendidikan, guru-guru dan kepala sekolah. “Sebenarnya pak Mursini sudah mempunyai jawaban. Disaat tahun 2017 lalu Kuansing juga berada diposisi paling buncit. Seharusnya beliau sudah mengevaluasi secara kesluruhan penyelenggara pendidikan ini. Kinerja guru harus dipacu, kesejahteraan mereka harus ditingkatkan,” katanya.
Lanjutnya, dan yang terjadi di Kuansing ini adalah kelemahan dari bupati, kurang mem-presure terhadap penyelenggara pendidikan ini. “Maka saya katakan, pemimpin itu harus punya ambisi untuk memperbaiki kualitas pendidikan ini, ini yang masih kurang pak Mursini nya,’ beber Musliadi.
Sambung Musliadi lagi, sebenarnya Bupati Mursini sudah mempunyai jawaban karena, pada tahun 2017 lalu prestasi pendidikan Kuansing juga anlok. Terus pada tahun 2018 ini posisi pendidikan Kuansing masih juga sama peringkatnya dengan tahun 2017 lalu. Posisi paling rendah se Provinsi Riau. “Artinya, tidak ada perbaikan yang dilaukan oleh pemerintah. Jadi terkesan dibiarkan,” pungkas Musliadi.
Jadi, kata Muslidi, dari hasil 2017 lalu itu mestinya Bupati Mursini sudah melakukan langkah-langkah untuk mem-presure penyelenggara pendidikan, supaya tidak terulang lagi kejadian serupa. “Ini yang sangat kita sayangkan, bupatinya tidak punya ambisi untuk memperbaiki dunia pendidikan ini,” cetus Musliadi.
Sementara itu Sekda Kuansing,, DR Dianto Mampanini saat dikonfirmasi melalui pesan singkat enggan berkomentar banyak. Kata Sekda Dianto, untuk masalah ini sudah diklarifiasi langsung oleh bupati.
Sedangkan Wakil Bupati Kuansing, H Halim saat berbincang dengan Tribunriau.com, Jumat (25/5/18) kemarin juga meminta Bupati Mursini agar segera melakukan evaluasi terhadap jajaran terkait. “Ganti Kadisnya,” tutur Halim singkat. (hen)












