TELUKKUANTAN, Tribun Riau- “Tak jadi Ubi Kayu, Serai pun jadi” agaknya seperti itulah rencana Wabup Kuansing, H Halim untuk memperjuangan perbaikan ekonomi para petani didaerahnya.
Gagal mengembangkan Ubi Kayu sebagai bahan baku Tepung Tepioka, kini Wabup Kuansing melirik tanaman Serai Wangi untuk dikembangkan.
Sebelumnya, orang nomor dua di Kuansing ini berencana ingin mengembangkan Ubi Kayu sebagai alternatif ekonomi warga selain bertani sawit dan karet. Menurut rencana semula, Ubi Kayu ini akan di kembangkan untuk bahan baku Tepung Tepioka. Sedangkan Tepungnya akan dijual kepada perusahaan bubur kertas PT RAPP sebagai bahan perekat kertas.
Potensi ini dianggap besar karena, selama ini perusahaan kertas nomor dua terbesar di Asia Tenggara itu mengimpor Tepung Tepioka ribuan ton dari berbagai negara untuk memenuhi kebutuhannya.
Melihat potensi yang ada maka, Wabup Halim bersama beberapa orang pejabat Kuansing pada hari, Rabu (7/12/16) lalu berkunjung ke salahsatu pabrik Tepunh Tepioka di Sukaharjo, Jawa Tengah.
Kunjungan tersebut untuk mempelajari selukbeluk pengembangan budidaya Ubi Kayu dan cara pembuatan Tepung Tepioka.
Namun seiring waktu berjalan, kabar pengembangan Ubi Kayu itu semakin memudar. Semakin lama rencana tersebut semakin hilang. Bahkan rencana pendirian pabrik Tepung Tepioka yang ditaksir menelan anggaran sekitar Rp12 miliar itu bahkan tidak pernah dibahas lagi. Lalu kenapa penyebabnya?
Wakil Bupati Halim saat berbincang dengan tribunriau.com pekan lalu menjelaskan penyebab gagalnya rencana pengembangan Ubi Kayu. Kata dia, rencana tersebut gagal karena perusahaan RAPP tidak mau membuat jaminan harga.
“Kita minta RAPP membuat jaminan harga Ubi Kayu nya diatas Rp1000 per kilogram. Mereka gak mau,” kata Wabup Halim.
Karena tidak ada jaminan harga itu maka sangat beresiko bagi masyarakat. “Begitu pasokan Ubi membludak, tau-tau harga turun. Ini yang kita gak mau. Nanti masyarakat marah,” cetus Halim.
Ditambahkan Halim, atas dasar itulah pemerintah mengurungkan niat untuk mendirikan pabrik Tepung Tepioka dan mengembagkan tanaman Ubi Kayu di Kuansing. “Karena jaminan harga tak ada,” tegas Halim.
Gagal bukan bearti berhenti. Wabup Halim terus berupaya mencari peluang demi untuk meningkatkan perekonomian warganya. Kini, Wabup Halim berencana untuk mengembangkan tanaman Serai Wangi untuk dijadikan beragam produk turunan.
Tanaman Serai ini, merupakan bahan baku untuk industri parfum, sabun, kosmetik, antiseptik, pengusir serangga, aroma terapi, pestisida nabati, dan pembuatan bio-adiktif bahan bakar minyak (BBM).
Selain gampang tumbuh, tanaman ini juga tergolong mudah perawatannya. Tanaman ini kata dia, sangat cocok dikembangkan di Kabupaten Kuansing. Sebab daerah itu masih memiliki lahan tidur yang cukup luas. Selain itu, tanaman tersebut bisa tumbuh pada tanah berbagai tipe. Baik dataran rendah maupun dataran tinggi.Potensi pasarnya pun terbuka lebar.
Sebagai jaminan pangsa pasar, Wabup Halim juga akan membangun industri penyulingan minyak Serai di Kuansing. Pembangunan industri penyulingan ini, kata dia, adalah untuk menjamin pemasaran Serai agar lebih mudah. “Semoga rencana pak Wabup terlaksana,” ujar Abdul Ricek warga Kuansing berharap. (hen)











