RUPAT, Tribunriau – Mediasi yang digelar di Kantor LAM Rupat terkait tuntutan mahasiswa tentang kejelasan mutasi sepihak tidak dihadiri perwakilan PT Pandauan Satria Nusantara (PSN), Kamis (16/7).
Dalam pertemuan tersebut, selain dari mahasiswa, hadir juga Camat Rupat, Kapolsek, Danramil Rupat, Lurah Tanjung Kapal, Lurah Batu Panjang, Satpol PP serta tokoh ormas, tak ketinggalan Humas PT Priatama Kebun Rupat, Asmadi.
Tuntutan mahasiswa menyampaikan aspirasi masyarakat kepada perusahaan PT PSN sebagai penyedia jasa tenaga kerja sama seperti hari sebelumnya, yaitu terkait mutasi sepihak hingga porsi jumlah tenaga kerja di PT Priatama Kebun Rupat.

“Yang pertama kami meminta kejelasan kepada pihak perusahaan agar securty yang dimutasi dapat dipekerjakan kembali di PT Priatama Kebun Rupat seperti semula,” ujar Muhammad Alamin.
Selanjutnya, tuntutan massa meminta pihak perusahaan agar lebih memprioritaskan tenaga kerja dari daerah setempat serta mempertahankannya, tidak dimutasi ke daerah lain dan meminta kejelasan persentase tenaga kerja dari luar daerah.

“Kami meminta kepada perusahaan agar dapat menentukan dan menetapkan upah gaji yang diterima karyawan sesuai dengan UMK dan taat UU No 13 Tahun 2003 dan jangan mengabaikan PKWT,” tambahnya.
Sementara itu, camat rupat juga memberi masukan kepada massa agar supaya tenang, sabar, tidak anarkis. “Setiap menyampaikan aspirasi harus sesuai dengan aturan, jangan merugikan orang lain,” ujarnya.
Senada dengan camat, ketua LAM Rupat juga memberi nasehat pada mahasiswa supaya tetap tenang dan teliti. “Setiap masalah bisa diatasi, jangan melakukan anarkis,” pungkas Ketua LAM Rupat.
Sementara itu, Humas PT Priatama Kebun Rupat, Asmadi menyikapi soal mutasi ini adalah kewenangan PT PSN, karena untuk security sudah dioutsourchingkan (dikontrak, red).
“Kita ada dua security, satu security outsourching sektor, yang satu security tetap manejemen, khususnya di bagian pengamanan dan Evaluasi tahun 2020 ini, di semua kebun ada dua security, satu outsourching, satu security organik,” jelas Asmadi.
Salah satu kebun, lanjut Asmadi, khususnya kebun PT Priatama Kebun Rupat, dulunya dari PT GSU 22 orang dari outsorchibg, sekarang dalam program perusahaan 10 orang ada outsorching, yang digunakan PT PSN lah melakukan menejemen yang 10 orang dari security organik yang di kebun lain. “Inilah Dinamika keamanan yang ada di kebun grup kami,” tambah Asmadi.
“Kami juga menghimbau semua tendor agar semua anak-anak tempatan yang berada di perusahaan itu jumlahnya harus diakomodir, sisa lebih dari itu inilah mungkin ada kebijakan dari mereka, karena mereka juga mendapatkan lokasi PT yang lain, seperti di Murini, Pelintung, Bangsal Aceh, inilah mereka ditempatkan di tempat yang baru, terkait pertemuan 20 menit yang disampaikan security mungkin saya secara pribadi, manejemen PT PSN tidak seperti itu, artinya manusiawilah,” ungkap humas PT Priatama Kebun Rupat ini.
Disela-sela waktu mediasi, salah seorang security yang dimutasi kepada awak media menyampaikan bahwa keinginannya hanya bisa kembali bekerja di daerahnya. “kami bukan menuntut harus karyawan,” ungkap Puja Kusuma.
“Pak Dilperi pernah berjanji perusahaan Priatama. Kalian ada dua pilihan, kata pak Dilperi, apa mau dimutasi atau kali satu?, kami empat orang sepakat dengan kali satu asalkan dipekerjakan lagi di perusahaan ini dengan kontrak disetujui Desember 2019, jadi kontraknya GSU kami dipekerjakan hanya 5 bulan, pertama kontrak satu tahun dengan PT GSU nyatanya 6 bulan sudah berakhir, masuk kontrak baru PT PSN, kami di PSN belum sempat bekerja langsung dimutasi,” ceritanya kepada awak media.
“Dimutasi ke PT Murini, perjanjian belum ada dengan PT PSN, kami dimutasi, yang memindahkan kami dari PT PSN pak Raidil, korlap dari PT PSN,” ungkapnya.
Untuk diketahui, dikarenakan PT PSN tidak hadir dalam mediasi, pantauan awak media di lapangan, massa kembali bergerak ke PT Priatama Kebun Rupat karena tidak mendapatkan kejelasan.
Penulis: Johanes Simangunsong









