Sosbud Tanah Warisan Sabri Dirampas Atas Nama Wakaf

Tanah Warisan Sabri Dirampas Atas Nama Wakaf

7
BERBAGI
Sabri saat berada di pangkuan Suwarni
Sabri saat berada di pangkuan Suwarni

SIAK, Tribun Riau- Tanah warisan milik Sabri MS, 71 Tahun, bin M. Sadri NIK.1408012309480001, beralamat di Belantik RT/RW 008/003 Desa Langkai Kecamatan Siak Kabupaten Siak tertanggal, 23 Januari 2019 menyurati Perwakilan Koran Anti Korupsi Riau dan media online, memohon untuk mempublikasikan terkait lahan miliknya yang terletak di Jl. Sapta Taruna Siak seluas 40.038 M2 yang diduga kuat dirampas.

Surat permohonan tersebut ditanda tangani di atas kertas bermeterai cukup disaksikan anak tertua Sabri, yakni Supardi dan Suwarni selaku penunggu lahan milik Sabri. Perampasan tanah tersebut dengan mengatas namakan Wakaf. Tertulis pada papan nama yang dipasang diatas tanah berperkara tersebut “berdasarkan Akta Pengganti Akta Ikrar Wakaf (APAIW) No. 01 Tahun 1983 tanggal 19/03/1983”.

“Padahal persyaratan untuk menghibahkan tanah warisan semestinya pemilik tanah atau pewaris yang syah, bukan orang lain yang tidak punya hubungan sama sekali”. Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Siak menerima hibah dari pihak lain yang bukan pemilik tanah yang syah atau pewaris yang syah, padahal persyaratan tersebut KUA Siak tau, mengatasnamakan Wakaf tersebut patut di pertanyakan.

Suwarni 71 tahun, warga Siak selaku penunggu tanah milik orang tua kandung Sabri yakni M. Sadri (Alm) menjelaskan kepada awak media ini, bahwa tanah milik M. Sadri (Alm) orang tua kandung Sabri sebelum meninggal dunia menitipkan tanah kebun karet seluas 40.038 ha, “Saya diminta Sadri (Alm) untuk merawat tanaman karet, sekaligus mengambil hasilnya, hasil sadapan tanaman karet tersebut sebagai upah merawat dan menunggu tanah tersebut, namun dalam perjalanan saya didatangi oknum KUA, yaitu pak Tarzan menyodorkan selembar surat kepada saya, karena menurut Tarzan saya disebutkannya selaku “nadzir” alias memelihara diatas tanah tersebut, surat yang disodorkan Tarzan tersebut tidak saya baca disuruh menanda tangani, bapak hanya sebagai “nadzir”, ya saya percaya saja, kemudian saya tanda tangani, kalau tak salah surat itu ditanda tangani sekitar tahun 1983 tanggal dan bulannya saya lupa, kalau ujugnya seperti sekarang ini, mengakibatkan Sabri kehilangan haknya, tidak saya tanda tangani surat “nadzir” tersebut,” jelas Suwarni Rabu (23/01/2019) di kediaman Sabri pada posisi membujur karena menderita strok.

Sabri dalam pangkuan Suwarni menjelaskan permasalahannya disaksikan Ketua Umum Perkumpulan Penggiat Penyelamat Kekayaan Daerah (P3KD) Provinsi Riau Salamuddin P dan Ketua LSM Yaspani Yustisia Harianto dan Sucipto Sihite SH selaku asisten Anton Sitompul.

Terkait perampasan lahan mengatas namakan Wakaf Sabri, selaku pewaris menempuh jalur hukum dengan menguasakan kepada penasehat hukumnya (PH) Anton Sitompul, SH untuk menggugat Kantor Urusan Agama (KUA) Siak ke Pengadilan Agama (PA) Bengkalis dalam persidangan perdata tersebut dimenangkan Sabri, begitu juga pada tingkat Banding di PTA Pekanbaru dengan putusan No.53/Pdt.G/2014/PTA Pbr tanggal 04 Desember 2014 juga dimenangkan Sabri.

Namun, tergugat tidak “patah arang”, tergugat melakukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA) oleh MA melalui putusan No.690 K/AG/20/16 tentang Perkara Kasasi Perdata Agama membatalkan Putusan PA Bengkalis dan PTA Pekanbaru salah satu klausal dalam putusan MA tersebut menyebutkan agar pihak penggugat mengurus surat waris.

Anton Sitompul SH ketika dikonfirmasi melalui selulernya, Kamis (24/01/2019) membenarkan bahwa pihaknya selaku kuasa hukum Sabri menurut Anton Sitompul telah menyurati pihak BPN Siak yang intinya memberitahukan objek perkara tersebut agar tidak diterbitkan sertifikat diatas tanah yang sedang berperkara, surat keberatan tersebut disampaikan pada tahun 2014, Namun oleh BPN Siak meski tanah tersebut dalam status berperkara, menerbitkan sertifian No. 1 Tanggal 22/12/2017, padahal lanjut Anton lebih dulu pihaknya menyampaikan keberatan ke BPN.

Investigasi dan berbagai keterangan yang dihimpun awak media ini menyebutkan, bahwa tergugat berlandaskan putusan MA tersebut, melakukan pengosongan, diatas tanah tersebut terdapat 2 unit rumah permanen dinding batu lantai semen dan atap seng pihak KUA Siak dengan menggunakan alat berat excapator membolduser rumah tersebut, dan melakukan pembersihan segala tanaman seperti karet yang diperkirakan ribuan pohon dan tanaman lainnya di ratakan ujar warga yang menyaksikan pembersihan lahan diatas tanah milik Sabri tersebut. Dilapangan KUA Siak dilokasi objek perkara memasang plang, kabarnya pembongkaran 2 unit rumah dan pemasangan plang tersebut atas perintah petinggi Kabupaten Siak pemilik rumah yang di bolduzer itu hanya diberi uang sagu hati alias uang pindah masing-masing sebesar Rp.20 juta.

Informasi yang diterima Tim, menyebutkan berselang beberapa menit kemudian setelah awak media ini mendokumentasi lokasi yang menjadi objek perkara antara Sabri dengan KUA Siak. Tim Investigasi awak media mendatangi kediaman Sabri, di kabarkan setelah Tim meninggalkan lokasi beberapa oknum aparat Pemda Siak mendatangi Lokasi lahan yang telah terpasang plang dilokasi tersebut, kedatangan Tim Investigasi dilapor oleh seseorang ke oknum aparat Pemda Siak ujar sumber yang membagikan informasi tersebut. (PUR)