Semesta Riau Mansur, Tim Penata Kampung Tua Dapur 12: Apa Salahnya Kami Tata Kampung...

Mansur, Tim Penata Kampung Tua Dapur 12: Apa Salahnya Kami Tata Kampung Halaman Sendiri?

BERBAGI
Kampung Tua Dapur 12 Batam

BATAM, Tribunriau- Kampung Tua Dapur 12 merupakan milik warga yang sudah lama tinggal di Pulau Batam, jauh sebelum adanya otorita Batam yang saat ini bernama BP Batam.

“Kami dan orang tua kami lelehur kami sudah mendiami kampung kami ini, lahan ini adalah milik keluarga kami yang juga berada di pulau-pulau sekitar sini, ada di Monggak, di pulau Air, mereka juga kan ada yang tidak punya lahan mereka mau pindah ke sini, kita tata nanti lahanya, mereka kan keluarga kita, maka kita tatalah lahan ini lalu kita bagi lahan bagi saudara kita ini,” ujar RW Kampung Tua Dapur 12 Mansur yang juga sebagai tim Penata Kampung Tua Dapur 12 didampingi Rais serta tokoh masyarakat kepada Tribunriau di lokasi Kampung Tua Dapur 12 Kelurahan S.Plunggut Kecamatan Sagulung, Selasa (6/8/2019).

“Apa salahnya kami bangun dan tata kampung halaman kami sendiri?,” tambah Mansur.

Dijelaskannya, 37 titik Kampung Tua yang diakui pemerintah yang sudah diajukan mulai tahun 2008 dan dapat 13 H lebih.

“Ada pula PL di dalam Kampung tua BP Batam mengalokasikan lahan ke perusahaan, ada lagi untuk sarana Pendidikan yang sudah terbangun, kami mendukung untuk sarana Pendidikan, kenapa BP Batam bisa mengeluarkan HPL ke perusahaan di lokasi Kampung Tua, sehingga lokasi Kampung Tua kami semakin mengecil, dengan penduduk hampir 300 B KK, satu rumah tangga itu ada tiga kepala rumah tangga, lahan mana lagi yang mau kita bagun, saat kami menghadap ke walikota, kami mengajukan perluasan, pada saat itu pak wali mengatakan untuk perluasan tidak bisa, takutnya kampung lain nanti kecewa, jadi lah seperti penataan, menggantikan lokasi yang sudah dialokasikan OB ke perusahaan yang ada di kampung tua yang tidak ada bersanggkutan dengan pihak lain,” ujarnya menjelaskan.

Maka dengan swadaya masyarakat, lanjut Mansur, kita tata sendiri lokasi yang ada sekarang, rumah Tua dan pohon tanaman tua kita rubuhkan, kita datarkan menjadi lahan yang datar dan segera kita akan tata memasukan fasilitas seperti air listrik, pasar fasum, tanpa ada motif bisnis, kita ini mengadakan penataan lahan tak ada motif lain hanya membantu masyarakat tematan, membantu pemerintah mempercantik pulau Batam yang kita cintai ini.

“Pada saat sosialisasi ke Kampung Tua, kan pak wali katakan kalau rumah di pingir laut tak mendapatkan sertifikat hak milik, cuma dapat surat hak guna pakai, kan kalau kita bagun ke laut, kan tak munkin, makanya kita buat penataan ini, inikan lahan kita, lahan leluhur kami turun menurun ke generasi sekarang, disini tak ada hutan lindung, hutan disini sudah gundul semua, seharusnya bukan hutan lindung tapi hutan wajib dilindunggi, kitakan masyarakat Kampung Tua, Tanjung Gundap Bagun, Semua yang ada di kampung Tua ada membangun Bakau di Timbun, Tapikan untuk penataan membuat lokasi rumah yang kita pindahkan untuk masyarakat,” ujarnya.

“Papan Plang penataan kampung tua sudah kita Pasang disitu, lengkap dengan gambarnya, ada nama pejabat pemko di situ, kita sudah bolak balik jumpa pak wali membahas penataan kampung tua ini, intinya pengajuan kita ke pak walikota, kalau kita salah mereka akan panggil kita, tolonglah kepada saudara kita orang media kalau memberitakan mengenai kampung tua, jumpailah kita Masyarakat tempatan asli kelahiran di sini untuk mendapatkan informasi yang baik, jangan memberitakan tanpa konfirmasi dengan kami masyarakat tempatan disini, kami merasa tersinggung kalau diberitakan tidak sesuai dengan keadan sebenarnya, kami menata kampung tua Dapur 12 adalah swadaya kami sendiri, tanpa bantuan pihak lain, Apa salahnya kami menata kampung halaman kami sendiri?,” pungkas M. Rais, Tokoh masyarakat tempatan. (lian)