Dugaan Penimbun BBM Bersubsidi 18 Babytank AG Diamankan Polsek Mandau

0

Bengkalis (Mandau), Tribunriau –  Tim Opsnal Polsek Mandau yang dipimpin oleh Panit Opsnal Ipda Alfan menggerebek penimbunan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di samping rumah dugaan pelaku, di Jl. Pertanian Desa Boncah Mahang, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, Kamis (28/03/24).

“BBM bersubsidi itu ditimbun dan akan diperjualbelikan ke supir yang melintas,” kata Kapolsek Mandau Kompol Hairul Hidayat, Sabtu (30/03/24) siang.

Dijelaskan Kapolsek lebihlanjut, bahwa BBM Solar yang digrebek tersebut sebanyak 18 Babytank, yang mana 1 Babytank sama dengan  ± 1.000 liter Solar yang disimpan di samping rumah dugaan pelaku, yang telah diamankan oleh Tim Opsnal Polsek Mandau.

18 Babytank tersebut ditutup pakai terpal warna Biru, sehingga tidak terlihat kalau didalam terpal ada penimbunan BBM Solar subsidi. Selain Solar, juga menemukan alat sedot pompa air yang digunakan para pelaku untuk menyedot solar, 1 buah drum yang sudah dipotong, 1 buah ember cat, 1 buah corong minyak plastik dan 1 buah selang dengan panjang 1.2 meter. 

“Disini kami mendapatkan barang bukti 18 Babytank yang mana 1 Babytank ± 1.000 liter Solar subsidi, 1 buah drum yang sudah dipotong, 1 buah ember cat, 1 buah corong minyak plastik dan 1 buah selang dengan panjang 1.2 meter beserta 1 tersangka berisinial AG,” kata Kompol Hairul.

Kapolsek menambahkan, adapun identitas dugaan pelaku yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka tersebut berinisial AG, lahir di Medan tapi bertempat tinggal di Jl. Pertanian Desa Boncah Mahang. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari tersangka, minyak Solar tersebut dibeli dari mobil-mobil yang melintas.

“Tersangka berinisial AG membeli 1 unit bervariasi antara 10-20 jirigen / mobil dan membeli 1 jirigen seharga Rp 260.000, setelah itu dikumpulkan di Babytank,” ujar Kompol Hairul.

“Tersangka berinisial AG menimbun sebanyak 18 Babytank itu sejak 1 bulan yang lalu di bulan Februari 2024, dan minyak Solar tersebut akan dijual kembali kepada supir yang melintas, 1 jirigen dijual seharga Rp 275.000  sehingga mendapatkan keuntungan per jirigen Rp 15.000,” timpal Ipda Alfan.

Tersangka dijerat dengan UU RI No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja yang mengubah Pasal 55 UU No.22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi  dengan ancaman maksimal 6 tahun dan denda paling banyak Rp60 miliar.(jlr).