Lingkungan BPBD Provinsi Riau Gelar Sosialisasi Penanganan Karhutla di Rupat

BPBD Provinsi Riau Gelar Sosialisasi Penanganan Karhutla di Rupat

BERBAGI

RUPAT, Tribunriau- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau menggelar sosialisasi penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Aula Kantor Camat Rupat, Kamis (29/7).

Dalan sosialisasi tersebut, Camat Rupat Khairunnazri S.STP. M.Pa dalam sambutannya menekankan pentingnya masalah Karhutla, tak hanya itu, karhutla bukan saja masalah bagi pihak BPBD, dan Damkar, namun semua pihak diminta untuk bekerjasama demi menekan angka kasus karhutla.

“Perlu kami sampaikan bahwa dari awal tahun kami sudah sosialisasi ini, estafet desa kelurahan 16 kali. Yang kami Undang saat itu adalah seluruh organisasi di desa lembaga Lembaga desa RT, RW. Sehingga kami tekankan bahwa api ini bukan lagi masalah lembaga tertentu bukan masalah BPBD, kepala Damkar, juga bukan masalah MPA, tapi ini masalah kita semua,” ujar Camat.

Hari ini, lanjut Camat, pihaknya sudah mengundang action actor, yaitu BPBD dan Damkar. Tujuannya agar semua melihat kembali perkembangan pemadaman kebakaran. “Aktor pemadam kita nanti semua di sini diberi review dari rekan-rekan yang expert untuk masalah ini, jadi silahkan sesantainya mengikuti diskusi,” pinta Camat.

“Semoga kegiatan kita hari ini menimbulkan semangat baru untuk kita dan kesadaran baru serta jangan lupa sampaikan amanah kepada masyarakat kita, minimal tetangga,” pungkas Camat.

Demikian juga disampaikan Kepala sub bidang kesiapsiagaan Naspi Yendri, SE. M.Si, pihaknya akan mencoba memberikan gambaran bagaimana melakukan penanganan terhadap karhutla.

“Saya coba untuk menyampaikan peran masyarakat dalam penanggulangan bencana serta penetapan status siaga darurat karhutla di provinsi Riau. Kalau pada saat ini kita sudah menetapkan status siaga darurat bencana karhutla untuk di tingkat kabupaten Bengkalis maupun provinsi,” ujar Naspi.

Darurat Bencana, lanjut Naspi, ada 3 level, yaitu siaga, tanggap dan transisi. “Pada saat ini kita masuk pada level 1 siaga. Karena kita adalah aktor tentunya kita sudah mengerti apa itu bencana,” jelasnya.

Dijelaskan lagi, jenis bencana di provinsi Riau ada beberapa jenis bencana, berdasarkan undang-undang 24 tahun 2007 ada tiga bencana yaitu bencana alam kemudian non alam dan sosial. Karhutla merupakan bencana non alam karena 99% bencana karhutla di akibatkan oleh manusia baik itu sengaja maupun tidak.

“Ada beberapa ancaman di provinsi kita, yang pertama bahaya karhutla, merupakan bencana terbesar kita di wilayah kita. Bisa dikatakan 12 kabupaten kota mengalami akan hal ini,” urainya.

“Kenapa kita memiliki kerentanan terhadap bahaya karhutla?, dari data RT, RW yang kita miliki mengatakan bahwa 52,1% lahan di provinsi Riau ini adalah lahan gambut. Lahan gambut kita ini cukup luas,” jelas Naspi.

Kemudian, lanjutnya, ditambah lagi pola pikir masyarakat yang tidak perduli terhadap lingkungan. Kemudian bencana yang berikutnya adalah bencana banjir, angin puting beliung dan tanah longsor.

“Jadi kebijakan dalam penanggulangan bencana secara nasional penanggulangan bencana adalah urusan kita bersama dan ini sangat memiliki hubungan erat dengan masyarakat dalam penanggulangan bencana. Keberhasilan dan kegagalan kita dalam penanggulangan bencana karhutla tergantung juga di tangan masyarakat sekalian,” tambah Naspi.

“Peran aktif masyarakat sangat diperlukan, begitu juga dengan bencana covid yang kita rasakan pada saat ini, peran aktif masyarakatlah yang menentukan cepat atau lambat kita memutuskan mata rantai bencana covid, kalau masyarakat kita tidak perduli terhadap prokes maka akan susah diatasi. Semua penanggulangan bencana peran masyarakat sangat diperlukan,” pungkas Naspi.

Hal yang sama juga disampaikan Kapolsek Rupat, AKP Syadina Ali SH. Dikatakannya, Rupat cukup luas, dengan 4 kelurahan 12 desa.

“Dengan luas kilometer 890.635 km persegi. Untuk penduduknya sendiri cukup banyak juga, dengan luas segitu sekitar 37,452 ribu jiwa. Di tempat ini sering terjadi kebakaran hutan, setiap tahun ada saja yang terbakar, apa yang salah kira-kira, coba kita sama sama pikirkan. Sehingga nanti kalau saat terjadi seperti ini ada usul-usul. Jadi orang banyak berfikir lebih baik di banding kan satu orang,” jelas Kapolsek.

Penyebab akar terbakar itu, lanjut Kapolsek, sebenarnya masyarakat sudah tau, cuma tidak diungkapkan di khalayak ramai atau umum, sehingga dari tahun ke tahun itu saja permasalahan terbakar, alasan klasiknya pencari madu, memancing, membuang puntung rokok sembarangan.

“Intinya sebenarnya bisa diatasi dengan kesadaran diri sendiri,” pungkasnya.

Di sisi lain, Danramil Rupat mengucapkan terimakasih atas kehadiran BPBD dari provinsi untuk memberikan sosialisasi bagaimana tekniknya untuk memadamkan api.

“Saya himbau kepada masyarakat Rupat supaya tidak menggunakan pembukaan lahan dengan cara membakar, dan kita mewaspadai api,” ujar Danramil Rupat singkat.

Turut hadir dalam sosialisasi tersebut, MPA, Damkar, BPBD Provinsi, Satpol PP, Kapolsek dan Danramil Rupat.

Penulis: Johanes Mangunsong
Editor: Darwis Joon Viker