Semesta Riau Belasan Warga Gang Sekoyan di Meranti Keluhkan Spaning Listrik Rendah

Belasan Warga Gang Sekoyan di Meranti Keluhkan Spaning Listrik Rendah

BERBAGI

KUDAP, Tribunriau- Belasan Warga Gang Sekoyan RT 15 RW 04 Dusun 04 Kecamatan Tasik Putri Puyu Kabupaten Meranti mengeluh terkait lemahnya arus listrik serta sering kali mati hidup.

Kondisi tersebut menyebabkan kerusakan pada alat elektronik seperti televisi milik belasan warga.

Pantauan awak media ini di lapangan, Kamis (14/2) salah seorang warga yang akrab disapa Man menuturkan bahwa dari tahun 2019 hingga 2020, bahkan hingga saat ini kondisi tersebut belum ada solusi dari pihak terkait.

“Sampai saat ini sudah dua unit televisi yang terbakar, sejak tahun 2019 sampai 2020, bahkan saat ini belum ada perbaikan dari pihak PLN, mohonlah PLN dapat secepatnya memperbaiki kondisi ini,” ujar Man berharap agar pihak PLN cepat merespon.

Alat elektronik milik salah seorang warga yang rusak akibat kondisi spaning listrik rendah.

Demikian juga warga lainnya, Aden yang sangat kecewa dengan kondisi listrik tersebut.

“Mohonlah kepada PLN supaya bisa menambah travo agar kami bisa memakai kulkas dan supaya terang, tidak hidup mati lagi,” pinta Aden.

Beberapa warga lainnya yang ditemui awak media ini juga mengeluhkan hal yang sama serta berharap ada solusi cepat untuk mengatasi hal tersebut.

Sementara itu, Ketua RT setempat, Edi menuturkan pada media ini bahwa dirinya sudah berulang kali menyampaikan ke Kades Kudap dan biro yang ada di kecamatan supaya secepatnya ada penggantian kabel serta penambahan travo agar tidak ada lagi yang terbakar atau konslet dikarenakan arus listrik yang lemah.

Bahkan, alat elektroniknyapun pernah terbakar karena kondisi listrik yang miris tersebut. “Televisi saya juga pernah terbakar,” ungkap Edi.

Pada hari yang sama, Kades Kudap, Sutrisni, SE, MM ketika ditemui di ruangan kerjanya mengatakan pihaknya sudah pernah menyampaikan keluhan warga tersebut kepada pihak PLN.

“Masalah ini sudah pernah kami sampaikan kepada PLN Bandul dan Belitung, tindak lanjutnya tinggal menunggu keputusan dari PLN Selat Panjang, karena kabel yang di ujung itu sangat kecil dan arus yang masuk tidak kuat, kebutuhan masyarakat dengan listrik belum maksimal, mudah-mudahan secepatnya ditanggapi walaupun sudah beberapa tahun ini belum ada tanggapan, mudah-mudahan dengan melalui media ini akan cepat direspon,” harapnya.

Terkait alat elektronik warga yang rusak, Sutrisno mengatakan bahwa ia sedang berusaha berbuat yang terbaik untuk mencari solusi terkait masalah listrik tersebut.

“Kita menunggu respon dari pemerintah juga, mudah-mudahan direalisasikan dengan cepat, termasuk infrastruktur di Kereban,” tukasnya.

Selain soal listrik, masalah jalan rusak juga ditanggapi oleh Sutrisno, dikatakannya, pihaknya sudah pernah mengajukan anggaran, namun karena kondisi covid-19, anggaran tersebut terpotong.

“Jalan ini sebenarnya jalan pada zaman Bengkalis dulu, sudah sangat lama dan rusak, kita sudah mengalokasikan, tapi karena covid, anggarannya terpotong,” tukas Kades Kudap ini.

Dari pihak PLN Meranti, Ferizal Syukri ketika dikonfirmasi terkait masalah spaning listrik yang rendah tersebut mengatakan bahwa kondisi tersebut dikarenakan line yang terlalu panjang, dari Belitung hingga Tanjung Padang.

“Pecah jaringan namanya, pengulangnya pider mengkilau, panjang jaringannya mulai dari Belitung sampai ke Tanjung Padang satu line,” ujarnya.

“Kondisinya karena dia linenya terlalu panjang dari Belitung ke Tanjung Padang, jadi apabila ada gangguan di Pangkal, tetap mengakibatkan di ujung, begitu juga sebaliknya,” tambahnya.

Terkait tegangan listrik, ia mengatakan sudah monitor, pihaknya juga dalam waktu dekat akan mengajukannya ke Selat Panjang.

“Kami punya rencana, karna yang sudah terpasang itu SKUnya yang dipakai dua pass, jadi dalam waktu dekat kami akan mengajukan juga ke Selat Panjang untuk kebutuhan material karena kami di bawah Selat Panjang, jadi dalam waktu dekat akan kami ganti untuk menaikkan tegangannya di ujung, karena di ujung masih ada masyarakat yang mau masuk listrik,” pungkasnya.

Penulis: Johanes Mangunsong