Tajuk Menilik Pernyataan “Berantem” dari Seorang Pemimpin

Menilik Pernyataan “Berantem” dari Seorang Pemimpin

17
BERBAGI

“Jangan membangun permusuhan, sekali lagi jangan membangun permusuhan, jangan membangun ujaran-ujaran kebencian, Jangan membangun fitnah-fitnah, Tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang lain, tapi kalau diajak berantem, juga berani.”

Demikian yang dikatakan Presiden Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi pada acara rapat umum relawan Jokowi di Sentul, Bogor, beberapa hari yang lalu.

Jika pernyataan tersebut dikeluarkan oleh seorang masyarakat yang biasa, tak memiliki jabatan, tentunya pernyataan tersebut sangat-sangat lumrah, bahkan termasuk nasehat.

Dalam agamapun, seseorang dituntut harus berani membela diri, bukan hanya pasrah menerima pukulan-pukulan dari lawan yang menzaliminya.

Namun, bagi seorang pemimpin di negeri yang memiliki hukum, tentunya menjadi sorotan yang tajam, terlebih lagi diucapkan pada waktu dimana negeri ini akan menggelar pemilihan presiden.

Dari seorang Pemimpin, masyarakat harus disuguhkan perkataan yang menyejukkan, bernilai kedamaian, memiliki unsur wajibnya mentaati hukum, bukan malah melahirkan semangat ‘berantem’ jika ada yang menginginkan.

Terlepas dari konstelasi politik kekinian, pernyataan Jokowi jangan hanya dilihat dari beberapa kata, perlu sikap khusnudzon (berbaik sangka), yaitu pernyataannya sebelum kalimat “Tapi kalau diajak berantem, juga berani”.

“Jangan membangun permusuhan, sekali lagi jangan membangun permusuhan, jangan membangun ujaran-ujaran kebencian, Jangan membangun fitnah-fitnah, Tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang lain,” ujar Jokowi sebelum ia mengucapkan “Tapi kalau diajak berantem, juga berani”.

Yang menjadi perhatian kita saat ini, bagaimana negeri ini kondusif, tidak ada perang fitnah, perang hoax, hingga akhirnya terjadi gesekan-gesekan yang bernuansa SARA.

Bagi kedua kubu, kita berharap tidak ada lagi fitnah-fitnah yang dilancarkan terhadap capres, baik itu Jokowi, maupun Prabowo yang saat ini digadang-gadangkan menjadi capres terkuat serta sedikit sekali peluang lahirnya poros ketiga. *