Ekonomi Petani Sawit di Rupat Keluhkan Harga Anjlok

Petani Sawit di Rupat Keluhkan Harga Anjlok

BERBAGI
Petani Sawit di Rupat Keluhkan Harga Anjlok
Petani Sawit di Rupat Keluhkan Harga Anjlok

RUPAT- Petani sawit di Rupat, Kabupaten Bengkalis mengeluhkan dengan anjloknya harga tandan buah sawit (TBS), Selasa (21/6).

Salah seorang petani sawit yang ditemui awak media ini meminta pihak yang berwenang agar segera mengatasi anjloknya TBS tersebut.

“Kepada pemerintah pusat, tolong pikirkanlah nasib kami ini, karna hasil panen sawit adalah modal untuk membesarkan anak-anak kami,” pinta pria yang tak ingin namanya dipublikasi, Selasa (21/6).

Sedangkan harga bahan sembako, lanjut pria itu, merangkak naik, pihaknya mengharapkan pada pemerintah agar dapat memperjuangkan nasibnya sebagai petani.

Dikatakannya, untuk wilayah Rupat, petani sawit sangat bergantung pada hasil panen, karena hanya itu mata pencarian yang bisa mereka kelola.

Dengan harga jual Rp.700 per Kg, nilai tersebut tidak balance dengan cost yang dikeluarkan untuk memanen sawit hingga sampai ke penampungan.

Selain itu, dengan anjloknya harga TBS, para agen penampung juga kini menutup kran pembelian, hal tersebut dilakukan karena melimpahnya sawit di lapangan.

“Sekarang ini agen-agen kecil udah menutup timbangan karena tidak menerima lagi buah kami, dikarenakan harga sudah murah dan pembongkaran pada PKS sampai 2/3 hari baru bongkar,” ujarnya.

Pihaknya juga tak ingin menyalahkan agen, karena pihak agen tak ingin hasil panem petani hancur sehingga menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Agen Timbangan Tiga Saudara Buka Pintu

Di sisi lain, meski agen-agen penampung sawit menutup pintu pembelian, Agen Timbangan Tiga Saudara tetap akan membuka, namun tentunya sesuai dengan harga pasar, yaitu Rp.700 per Kg.

Hal ini dilakukan teruntuk warga yang tetap ingin menjual hasi panennya meskipun harha sangat dirasa miris.

“Kita sebagai pengusaha hanya bisa mengambil kebijakkan supaya para petani tidak kecewa untuk kedepannya, dan kami mengharapkan pada pemerintah agar bisa turun ke perusahaan untuk melihat apa kendala yang sebenarnya,” ujar salah seorang agen pengumpul sawit di Rupat ini.

Sebagai penerima buah dari warga, lanjut agen tersebut, pihaknya sangat berharap untuk kedepan ada solusi atau titik terang bagi petani.

“Kami hanya bisa membatasi atau tidak menerima buah petani dari warga kalau masih keadaan harga belum stabil dan apabila udah ada kesetabilan kita akan tetap buka seperti biasa,” tambahnya.

Penulis: Johanes Mangunsong
Editor: Iskandar Zulkarnain