Dari Ancaman Menteri Hingga ‘Membereskan’ Amien Rais

30
BERBAGI

Ada yang gembira dengan pernyataan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. Ada juga yang gusar dan terus mengeluarkan ucapan yang menyinggung kubu PAN.

Pada Selasa (27/3) lalu, Zulkifli menyatakan adanya pertimbangan partai berlambang Matahari itu mendukung Joko Widodo pada Pilpres 2019. “Pak Jokowi itu pejawat dan peluang menangnya besar,” kata Zulkifli.

Zulhasan, panggilan akrab Zulkifli juga menyatakan, peluang PAN untuk berkoalisi dengan Prabowo Subianto tetap terbuka. Bahkan, dalam kesempatan itu, Zulhasan menegaskan, bisa saja PAN membentuk poros baru pada Pilpres 2019.

Pernyataan ‘pertimbangan untuk mendukung Jokowi’ ini kemudian mendapat respons beragam, baik dari kalangan internal PAN maupun parpol pendukung Jokowi, termasuk PPP. Pengurus PAN seperti Hanafi Rais dan Dradjad Wibowo menyatakan pernyataan Zulhasan itu belum merupakan sikap partai karena masih akan dibahas pada Rakernas PAN April ini.

PDI Perjuangan menyambut baik dan gembira rencana masuknya PAN ke dalam koalisi besar mereka. Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengungkapkan, pihaknya siap bertemu PAN untuk membahas dukungan mereka kepada Jokowi yang telah dideklarasikan PDIP sebagai capres mereka.

Namun, komentar berbeda bernada gusar disampaikan PPP. Wakil Sekretaris Jenderal PPP, Achmad Baidowi, berpendapat, jika PAN ingin bergabung dengan koalisi Jokowi, maka Zulhasan harus memastikan seluruh jajaran PAN mendukung Jokowi. Ia meminta agar PAN bisa membereskan sikap Amien Rais yang selama ini masih berseberangan dengan pemerintah.

Menurut Baidowi, PAN mempunyai pekerjaan besar dalam membereskan komunikasi mereka dengan Amien Rais. Amien sampai saat ini dinilainya masih tidak mendukung Jokowi dan lebih condong kepada capres lainnya.

Kata ‘membereskan Amien Rais’ ini kemudian memunculkan polemik yang menurut internal PAN merupakan ancaman dan perkataan tidak beretika dari seorang politisi. Pernyataan itu dianggap tidak mencerminkan kesopanan politik dan saling menghormati.

Baidowi mengatakan, kata membereskan atau menertibkan itu maksudnya membereskan komunikasi antara Amien Rais dan PAN itu sendiri. Sehingga, kata dia, Amien Rais dengan PAN satu sikap sebelum memutuskan untuk bergabung ke poros pengusung Joko Widodo.

“Pak Amien Rais kan sementara ini masih keras kepada Joko Widodo dan sepertinya masih condong ke Prabowo Subianto,” jelas Baidowi saat dihubungi melalui pesan singkat, Jumat (30/3).

Baidowi menjelaskan maksud menertibkan atau membereskan komunikasi itu di internal PAN bisa kompak mendukung Joko Widodo. Tapi kalau dengan Amien Rais belum selesai, dia kira sulit bagi PAN untuk secara tegas bersama Joko Widodo.

Wakil Ketua Umum PAN Hanafi Rais yang juga putra Amien Rais keberatan dengan adanya kata “menertibkan atau membereskan”. “Tentu saya keberatan dengan frasa membereskan. Menurut saya, itu kata yang kurang patut karena sebenarnya antarparpol ini juga pasti akan membangun koalisi,” jelas Hanafi, Jumat (30/3).

Hanafi menambahkan, sesama partai politik pasti akan membangun koalisi untuk bisa ikut dalam kontestasi mengusung calon presiden. Oleh karena itu, seharusnya semua politikus menjaga kondusitivitas suasana di tahun politik ini.

Sekjen PAN Eddy Soeparno menyatakan pihaknya tidak pernah mengurusi internal partai lain sehingga partai lain juga sebaiknya tidak melakukan itu. “PAN tidak pernah mengomentari masalah internal partai lain, karena kita menghormati kedaulatan partai, beserta para pimpinan dan tokohnya,” ujar Eddy saat dikonfirmasi, Jumat (30/3).

Eddy melanjutkan, ketimbang mengomentari urusan partai lain, PAN berupaya tetap menjaga silaturahim di antara partai politik. Hal ini juga untuk menjaga keberlangsungan komunikasi di antara partai politik yang selama ini terjaga dengan baik.

Sebelumnya, Amien Rais mendapat ancaman dari Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan. Mantan ketua MPR itu menyebut ada pembohongan dalam program bagi-bagi sertifikat tanah. Ia menyebut, program sertifikat tanah itu pengibulan karena 74 persen tanah di negeri ini dikuasai oleh kelompok tertentu, tetapi didiamkan pemerintah.

Menanggapi kritikan tersebut, Luhut pun bereaksi keras dan meminta agar para senior tak asal berkomentar. Menurut dia, pemerintah tak antikritik, tetapi kritik yang disampaikan haruslah kritik yang membangun.

“Jangan asal kritik saja. Saya tahu track record-mu kok. Kalau kau merasa paling bersih, kau boleh ngomong. Dosamu banyak juga kok, ya sudah diam sajalah. Tapi jangan main-main, kalau main-main kita bisa cari dosamu kok. Emang kau siapa?” kata Luhut.

Pernyataan ini pun menimbulkan polemik. Banyak pihak menyesalkan gaya Luhut yang mengancam Amien Rais yang selama ini memang dikenal tukang kritik.

Sejumlah pihak bahkan menginisiasi pertemuan keduanya dalam suatu debat publik bertema ‘Bapak Reformasi versus Bapak Reklamasi’. Namun, debat itu tidak terwujud sampai sekarang.

Mantan Presiden SBY meminta pemerintah untuk tidak antikritik dan merespons berlebihan terhadap kritik-kritik yang masuk. SBY juga mengajak Amien untuk lebih santun dalam mengkritik.*

Oleh: Ali Mansur, Fauziah Mursid