Lewat Inovasi Nozzle Gambut hingga Expintable, Kilang Sungai Pakning Bagikan Praktik Baik Pengelolaan Gambut Berkelanjutan di Forum Nasional KLH


Tribunriau.com. Jakarta, 10 Juli 2026 – PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit II Produksi Sungai Pakning membagikan praktik baik implementasi program Corporate Social Responsibility (CSR) dalam pengelolaan ekosistem gambut berkelanjutan pada Rapat Kerja Pencegahan dan Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan pada Ekosistem Gambut yang diselenggarakan oleh Direktorat Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Hotel Pullman Jakarta Central Park, Jakarta, Jumat (10/7).

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh. Jumhur Hidayat. Dalam sambutannya, Menteri Jumhur menyampaikan bahwa ekosistem gambut bukan sekadar hamparan lahan, melainkan memiliki peran penting sebagai penyimpan karbon dalam jumlah besar sekaligus sumber kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaan gambut perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai pihak agar fungsi ekologisnya tetap terjaga dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Forum tersebut mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan para pemangku kepentingan untuk berbagi praktik terbaik dalam pengelolaan ekosistem gambut. Selain pemaparan dari Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan (TLSDAB) mengenai kesiapan infrastruktur pembasahan lahan gambut, kegiatan ini juga menghadirkan PT Arara Abadi (Sinarmas Group) dan PT TH Indo Plantation (KPN Group) yang berbagi pengalaman mengenai water sharing serta restorasi fungsi hidrologi ekosistem gambut di kawasan buffer. Sementara itu, Kilang Sungai Pakning dipercaya menyampaikan materi bertajuk “Gambut Lestari, Alam Menghidupi”, yang mengangkat praktik baik implementasi program CSR dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Dalam pemaparannya, Manager Production Kilang Sungai Pakning, Triadi Lukito, menyampaikan bahwa pengalaman pengelolaan gambut di Riau menjadi pembelajaran penting dalam membangun sistem pencegahan karhutla yang berkelanjutan. Berangkat dari pengalaman kebakaran hutan dan lahan yang pernah mencapai 183.808 hektare di Provinsi Riau serta kejadian kebakaran seluas 86 hektare di wilayah Sungai Pakning, Kilang Sungai Pakning mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan penguatan kapasitas masyarakat, inovasi, dan pemberdayaan ekonomi sebagai satu kesatuan dalam pengelolaan ekosistem gambut.

“Gambut lestari bukan hanya tentang mencegah kebakaran, tetapi bagaimana ekosistem tersebut tetap mampu menghidupi masyarakat di sekitarnya. Karena itu, seluruh program yang kami jalankan dirancang agar pelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan dapat berjalan beriringan,” ujar Triadi.

Melalui Program Penanganan Karhutla, Kilang Sungai Pakning secara konsisten memperkuat kapasitas relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) melalui latihan gabungan bersama HSSE Pertamina dan Manggala Agni, transfer core competency HSSE, pelatihan pertolongan pertama (P3K), pelatihan penanganan hewan berbisa, hingga sertifikasi profesi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Program tersebut turut didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana pemadaman, pembangunan embung, revitalisasi sekat kanal, serta penguatan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kilang Sungai Pakning juga menghadirkan berbagai inovasi dalam pengelolaan ekosistem gambut, di antaranya Nozzle Gambut, Expintable, dan AKURRAT. Ketiga inovasi tersebut menjadi bagian dari pendekatan perusahaan dalam mendukung efektivitas pencegahan dan penanganan karhutla, sekaligus melengkapi upaya pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi yang adaptif terhadap karakteristik lahan gambut.

Selain memperkuat kesiapsiagaan melalui inovasi, Kilang Sungai Pakning juga mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat berbasis pelestarian lingkungan, di antaranya pertanian hortikultura berkelanjutan, budidaya ikan khas gambut, MPBPreneurship untuk meningkatkan kesejahteraan relawan MPA, serta pelestarian kawasan melalui Arboretum Gambut Marsawa, Hutan Gambut Sukajadi, dan penanaman kopi liberika beserta vegetasi khas gambut. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, serta mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Melalui berbagai upaya yang kami lakukan, kami berharap praktik baik ini dapat menjadi inspirasi dan direplikasi di berbagai wilayah gambut lainnya, sehingga bersama-sama kita dapat mewujudkan pengelolaan ekosistem gambut yang komprehensif dan berkelanjutan,” tutup Triadi.

Partisipasi Kilang Sungai Pakning dalam forum nasional ini menjadi wujud komitmen perusahaan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam pelestarian ekosistem gambut melalui inovasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan program CSR yang berkelanjutan. Sejalan dengan semangat “Gambut Lestari, Alam Menghidupi”, Kilang Sungai Pakning berharap praktik baik yang telah dijalankan dapat memberikan manfaat yang lebih luas serta mendukung terwujudnya ekosistem gambut yang lestari bagi generasi mendatang.(R461L)