Jakarta –
Halil adalah pria penyandang disabilitas penjual tisu di jalanan Jakarta Selatan. Dia juga merupakan atlet disabilitas berprestasi. Dia punya satu harapan agar para atlet disabilitas bisa menjalani aktivitas lebih baik.
Halil ditemani istri dan anaknya, berbincang dengan detikcom di rumah kontrakannya saat hujan turun. Tiga tahun menjadi seorang penjual tisu dan juga atlet renang, ada harapan yang masih saja terselip di hati Halil.
Halilullah, begitu nama lengkapnya, berharap pemerintah dapat menyediakan transportasi yang lebih memadai untuk atlet penyandang disabilitas, terutama untuk antar-jemput para atlet yang rumahnya cukup jauh dari tempat latihan.
“Harapan saya buat pemerintah kepada kaum disabilitas lebih ditingkatkan lagi fasilitasnya, seperti fasilitas antar-jemput. Jadi minta transport ke mana-mana buat atlet disabilitas yang rumahnya lumayan jauh,” ujar Halil di rumah kontrakannya di Jatimulya, Bekasi Timur, Selasa (4/1/2022).
Halil, atlet disabilitas penjual tisu di jalanan Jakarta. (Anggi Muliawati/detikcom) |
Selain menjadi atlet, Halil juga berjualan tisu di persimpangan Jl Wijaya I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Setiap akan latihan sepulang berjualan, Halil harus menempuh perjalanan satu sampai dua jam menuju Stadion Wibawa Mukti Cikarang, hal itu tentu cukup membuang tenaganya.
“Khusus untuk atlet antar jemput saja lah, yang utama itu buat atlet disabilitas yang nggak bisa tinggal di mes. Jadi yang tinggal di rumah bisa disediakan ada layanan transportasi antar-jemput, gitu,” harapnya.
“Kalau kita berangkat sendiri dengan biaya transport sendiri, berat juga, ada juga yang murah tapi kan buang waktu lama, butuh tenaga lebih juga, akhirnya sampai di tempat latihan tenaga udah terkuras,” sambungnya.
Halil, atlet penjual tisu, menjajakan dagangan di Jl Wijaya I, Jakarta Selatan. (Anggi Muliawati/detikcom) |
Halil merupakan seorang atlet renang. Dia memulai karir atlet sejak 2017. Pada 2018, Halil berhasil meraih medali perak pada kejuaraan Pekan Olarhaga Paralympic Daerah (Peparda) V Jawa Barat.
“Latihan biasanya seminggu tiga kali, Senin, Rabu, dan Sabtu, dari jam 15.00-18.00 WIB. Kalau ada event persiapannya lebih ketat, bisa full satu minggu latihan,” ujarnya.
“Karena itu, saya harapkan sih ada transportasi antar jemput untuk atlet disabilitas,” tandas Halil.
Simak juga ‘Pria Disabilitas Bikin Angkringan, Hasilnya Bisa Beli Motor’:
(dnu/dnu)
Sumber: DetikNews

Halil, atlet disabilitas penjual tisu di jalanan Jakarta. (Anggi Muliawati/detikcom)
Halil, atlet penjual tisu, menjajakan dagangan di Jl Wijaya I, Jakarta Selatan. (Anggi Muliawati/detikcom)










